Industri Kayu

Ketika Kayu Tidak Lagi Kokoh

Kalimantan Selatan di era hingga 1990an merupakan salah satu sentra industri perkayuan terbesar di tanah air dan menjadi pemasok utama devisa negara kala itu. Tapi kini satu persatu industri perkayuan rontok, tak kokoh lagi menopang mata pencaharian puluhan ribu pekerja.
Pagi itu, suasana di sekitar terminal induk Handil Bhakti, Kabupaten Barito Kuala mendesak penuh sesak dengan kehadiran lebih dari seribu orang pekerja perusahaan perkayuan PT Daya Sakti Unggul Corporation (DSUC). Para pekerja yang mayoritas kaum perempuan ini datang menggunakan puluhan truk kayu dan sebagian lagi menggunakan sepeda motor.
Kedatangan mereka adalah mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Barito Kuala, tak jauh dari lokasi terminal Handil Bhakti. Ketenangan pagi itu berubah menjadi riuh, karena ribuan pekerja mulai meneriakkan yel-yel dan tuntutan terhadap manajemen perusahaan tempat mereka bekerja.
“Kami menuntut perusahaan membayarkan hak-hak kami berupa sisa gaji dan pesangon karena perusahaan sudah tutup,” tegas Husin,35 salah seorang pekerja PT DSUC. Sebanyak 1.453 orang pekerja itu, kini kehilangan mata pencaharian karena sejak Juni perusahaan telah berhenti beroperasi dan pada 1 Agustus perusahaan resmi ditutup.
Penutupan operasional salah satu perusahaan perkayuan terbesar di Kalsel ini, terkait masalah kesulitan bahan baku dan keuangan yang melilit perusahaan sejak lama. Selama tenggat waktu Juni hingga akhir Juli itu, para pekerja di istirahatkan.
Kesulitan keuangan membuat perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar hak-hak pekerja selama masa dirumahkan. Besaran tunggakan gaji yang belum terbayarkan mencapai Rp 500 Juta.
Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kalsel, Sadin Sasau mengungkapkan pihaknya saat ini sedang memperjuangkan terpenuhinya hak-hak pekerja oleh perusahaan berupa sisa gaji selama di rumahkan, pembayaran upah sesuai upah minimum sektoral provinsi (UMSP) serta pembayaran pesangon dengan total sebesar Rp 70 Miliar.
Bagi Husin dan ribuan pekerja lainnya, kehilangan mata pencaharian akibat tutupnya perusahaan tempat mereka bekerja bisa diibaratkan “kiamat”. Bekerja sebagai buruh perusahaan kayu merupakan sumber pemasukan keuangan utama keluarga, ditengah situasi kesulitan ekonomi seperti sekarang ini.
Banyak dari pekerja kayu beralih profesi menjadi pekerja serabutan, tukang ojek, banyak pula yang terpaksa menganggur karena belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Dan hanya sebagian kecil yang sudah mendapatkan batu loncatan bekerja di perusahaan lain.
“Harta benda kami sudah habis terjual, bahkan kami mulai terlilit hutang, bagaimana kami memenuhi kebutuhan hidup kami,” tutur Sanah, salah seorang pekerja lainnya dengan nada lirih.
Di hadapan para pekerja yang sedang tertekan akibat ketidak pastian nasib mereka, Kepala Sub Dinas Hubungan Industrial Dinas Nakertrans Barito Kuala, Fahriana, menyatakan akan memfasilitasi penyelesaian sengketa antara pekerja dan perusahaan semaksimal mungkin.

Industri kayu terus berguguran
Satu persatu industri perkayuan di Kalsel berguguran. Pemprov Kalsel bahkan mencoret sektor perkayuan sebagai indikator pertumbuhan ekonomi daerah menyusul pertumbuhan minus sektor ini sejak dua periode terakhir.
Terpuruknya PT DSUC menambahkan daftar panjang keruntuhan industri perkayuan di Kalsel, menyusul perusahaan perkayuan sebelumnya seperti PT Barito Pasific, PT Karunia Wana Ika Wood (Kawi) dan PT Hendartna Plywood.
Menurut data Apindo Kalsel, jumlah industri perkayuan (plywood) yang masih bertahan tinggal lima perusahaan. Yaitu PT Tanjung Selatan Makmur Jaya, PT Basirih Timber, PT Surya Satria Timber Corporation, PT Tanjung Raya dan PT Wijaya Tri Utama.
Hingga 2000, jumlah industri kayu di Kalsel tercatat 14 buah ditambah 200 usaha penggergajian skala kecil dengan jumlah pekerja mencapai 40.000 orang. “Jumlah pekerja dari lima perusahaan kayu yang masih bertahan itu sekitar 6.000 orang saja,” papar Adi Laksono, Ketua Apindo Kalsel.
Demikian juga dengan kondisi industri penggergajian skala kecil yang tersebar di sepanjang sungai barito, lebih dari separuhnya tutup. Penyebab utamanya adalah kesulitan mendapatkan bahan baku kayu dari hutan alam serta tersendatnya pasokan dari luar Kalsel seperti Kalteng dan Kaltim karena ketatnya operasi penertiban illegal logging
Dengan kata lain terjadi penyusutan jumlah tenaga kerja sektor perkayuan lebih dari 30.000 pekerja sejak tahun 2000 lalu. Berdasarkan kajian ekonomi regional Bank Indonesia , Banjarmasin puncak keterpurukan industri perkayuan di Kalsel terjadi pada 2005, akibat ekses ketersediaan bahan baku , biaya produksi dan persaingan pasar.
Meski terpuruk, industri perkayuan di masa datang diperkirakan akan bangkit kembali seiring berkembangnya areal hutan tanaman industri dan hutan rakyat yang diharapkan mampu menopang kebutuhan bahan baku tanpa mengandalkan hutan alam. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: