Industri Lampit

Industri Lampit Kian Terjepit

Sebuah truk parkir di tepi jalan desa di Desa Jumba, Kecamatan Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beberapa orang pekerja sibuk memanggul gulungan tikar rotan berwarna putih kekuningan ke atas truk.
Tikar dari rotan atau lampit-lampit tersebut akan dikirim ke wilayah Banjarmasin , ibukota Kalimantan Selatan untuk kemudian di pasarkan. Tidak hanya dipasarkan di wilayah Kalsel, lampit juga dipasok ke pulau Jawa melalui Surabaya dan Jakarta .
“Ini pengiriman pertama dalam dua bulan terakhir,” ucap Zainal Ariffin, pengrajin lampit di Desa Jumba. Dikemukakannya dalam beberapa tahun terakhir, industri rumah tangga yang bergerak dalam pembuatan lampit di desanya terus terpuruk.
Pada masa jayanya di era 1980an, usaha pembuatan lampit yang digelutinya secara turun temurun itu, mampu menghasilkan dua sampai tiga kali pengiriman dalam sebulan. Demikian juga dengan jumlah pengrajin lampit maupun tenaga kerjanya terus berkurang.
Bahkan beberapa industri rumah tangga pembuatan lampit di Desa Jumba, telah tutup. Ada sejumlah desa di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang merupakan sentra industri rumah tangga pembuatan lampit. Hulu Sungai Utara sendiri memang dikenal sebagai sentra industri kerajinan seperti lampit, tikar purun, anyam-anyaman dan kayu.
Desa-desa itu meliputi Palampitan, Jumba, Kota Raja, Jarang Kuantan, Harus dan Telaga Silaba. Sebagaimana halnya industri perkayuan, akibat keterbatasan permodalan, ketatnya persaingan pasar serta semakin sulitnya bahan baku rotan, membuat banyak usaha rakyat ini gulung tikar.
Proses pembuatan lampit sendiri cukup sulit. Bahan baku pembuatan lampit adalah rotan yang sudah tua. Terlebih dahulu kulit pembungkus rotan yang masih dipenuhi duri dilepas, dengan menggunakan pasir berstruktur halus dan air, kemudian dibersihkan.
Ukuran rotan yang digunakan untuk pembuatan lampit ini berdiameter antara 0,5 cm sampai 1,5 cm dengan panjang berkisar 5 m sampai 25 m. Panjangnya rotan ini tergantung dari umurnya, semakin tua maka rotan akan semakin panjang.
Selain itu rotan juga harus disikat supaya bersih. Setelah bersih rotan baru dipotong sesuai ukuran lampit yang dikehendaki. Hingga tahapan ini, proses pembuatan lampit masih panjang.
Rotan yang sudah dipotong, kemudian dibelah dan dikeringkan. Sesudah itu baru dilakukan pengeringan dan pelurusan (penjengatan). Peralatan jengat ada yang secara tradisional maupun jengat dengan menggunakan mesin.
Setelah melalui tahapan penyortiran, memisahkan bahan berdasarkan kualitas, barulah rotan diberi lobang (tandayan) dan selanjutnya barulah dirangkai menjadi tikar sesuai keinginan.

Perlu Diselamatkan
Anggota DPR RI asal Kalsel, Habib Aboe Bakar Al Habsy, mengaku prihatin dengan kondisi terpuruknya industri rakyat pembuatan lampit dan kerajinan tersebut. Jika tidak cepat diselamatkan, maka industri kerajinan rakyat ini akan punah.
Kurangnya kepedulian pemerintah daerah untuk membina para pengrajin semakin memurukkan industri kerajinan rakyat ini. Dari tahun ke tahun, perkembangan industri rotan dan lampit di Kalsel terus memudar. Belasan industri lampit dan pengolahan rotan skala besar di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, sebagain terpaksa gulung tikar.
Produksi kerajinan lampit Kalsel sempat mencapai 5 juta meter/tahun, tetapi sejak lesunya permintaan ekspor, produksi lampit menurun drastis tinggal sekitar 200.000 meter/tahun.
Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel, saat ini permintaan ekspor produk kerajinan rotan dari daerah ini tinggal 30%dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan 70% lainnya diisi permintaan ekspor berupa rotan bulat maupun rotan setengah jadi.
Subardjo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel, mengungkapkan sepanjang 2009 periode Januari-Agustus, volume ekspor rotan tinggal 4,1 ribu ton atau turun 16 persen dibanding 2008, untuk periode sama sebanyak 4,8 ribu ton. Demikian juga dengan nilai ekpor rotan turun dari US$5,5 juta menjadi hanya US$5 juta.
Pada masa jayanya hingga 2004, ekspor rotan asalan kalsel mencapai 6.139 ton dengan nilai US$ 8,484 juta. Mayoritas untuk memenuhi permintaan Cina, sementara permintaan dari negara tujuan ekspor rotan asalan seperti Jepang dan Korea justru menurun. Kondisi ini merupakan konsekuensi dilematis bagi iklim dunia usaha di Kalsel, karena lesunya permintaan sehingga petani dan pengusaha berada pada posisi sulit. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: