Jamur Trichoderma

Trichoderma si Jamur Dambaan Petani

Mahal dan langkanya pupuk serta rendahnya hasil panen, menjadi momok tersendiri dirasakan para petani di tanah air, termasuk Kalimantan Selatan. Trichoderma Sp, jamur yang dipercaya mampu meningkatkan kesuburan tanaman menjadi solusi mengatasi kendala petani.
Langkah Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, terhenti di depan salah satu stand pameran Expo Hakteknas 2009 di depan halaman Radio Republik Indonesia, Banjarmasin, beberapa waktu lalu. Pak menteri didampingi sejumlah pejabat pusat dan daerah itu, menghampiri stand pameran yang dijaga beberapa orang pelajar SLTA.
“Ini apa?,” tanya pak menteri singkat. “Jamur tricodherma pak,” jawab Ayu Lestari, pelajar kelas II SMKN 3 Banjarmasin yang menjadi penjaga stand pameran. Pak menteri pun kemudian terlibat perbincangan seputar manfaat dan pengembangan jamur trichoderma dengan para siswa SMKN3 Banjarmasin.
Sejak dua tahun terakhir, SMKN 3 Banjarmasin, mengembangkan teknologi pertanian dengan fokus jamur trichoderma. Teknologi pertanian yang memanfaatkan jamur trichoderma, sebenarnya bukanlah hal baru karena jamur ini sudah dimanfaatkan di berbagai daerah lain seperti pulau Jawa.
Di Kalsel sendiri, jamur trichoderma mulai dimanfaatkan para petani, walau masih dalam skala kecil. Trichoderma Sp adalah jamur yang berasal dari tanah bagian top soil mengandung bahan organic.
Jamur ini bersifat antagonis terhadap jamur parasit yang dapat mengganggu tanaman seperti fusarium Sp, Pythopthora Sp juga Phytium Sp. Trichoderma mampu menekan pertumbuhan jamur lain dan menghasilkan toksin untuk membunuh jamur lain.
Jamur ini berkembang biak pada media organic berupa beras, jagung, dedak, jerami, kompos, pupuk kandang dan lainnya. “Jamur ini merupakan decomposer pada bahan organic atau kompos sehingga cepat terurai menjadi senyawa yang diperlukan tanaman,” tutur Thalib, guru pembimbing SMKN 3 Banjarmasin.
Thalib sendiri telah mencoba teknologi jamur trichoderma pada lahan pertanian miliknya dan sejumlah petani di Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala dengan hasil memuaskan.
Berkat jamur trichoderma Sp ini, SMKN 3 Banjarmasin, mampu meraih berbagai penghargaan tingkat provinsi maupun nasional. Salah satunya, juara harapan pada Toyota Eco Youth 2008 di Jakarta.

Solusi kelangkaan pupuk
Jamur trichoderma yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman, menjadi dambaan petani dan pemerintah untuk mengatasi kondisi kelangkaan serta mahalnya harga pupuk belakangan ini.
Pembuatan trichoderma sebagai pupuk padat dapat dilakukan dengan media beras. Cara pembuatannya pun tidaklah sulit.
Mula-mula beras direndam selama 15 menit dan kemudian dimasukkan dalam dandang berisi air panas hingga masak. Beras yang sudah masak dimasukkan dalam kantong plastic tahan panas dan kukus kembali.
Selanjutnya bibit jamur dapat diberikan dan simpan selama satu minggu. Trichodermapun siap digunakan. Trichoderma juga dapat dibuat dalam bentuk kompos dengan media jerami, rumput, dedaunan dan serbuk kayu.
Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Yohanes Sriyono, mengungkapkan pihaknya bersama Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), mulai menerapkan pemanfaatan trichoderma bagi petani di sejumlah daerah. “ Para petani kita anjurkan untuk menggunakan pupuk organic yang mengandung trichoderma,” katanya.
Dalam bentuk pupuk kompos maupun cair, jamur ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen padi petani di Kalsel. Hasil panen padi meningkat hamper dua kali lipat dari empat ton menjadi tujuh ton gabah kering giling.
Dengan media jerami untuk pembuatan kompos, para petani dapat menghindari budaya membakar lahan. “Sayangnya baru sedikit petani memanfaatkan jamur trichoderma dan cenderung mengandalkan pupuk kimia,” tambahnya.
Sebagian petani di Kalsel bahkan tidak menggunakan pupuk sama sekali, karena lahan pertanian rawa lebak di berbagai daerah kaya unsur hara dan mampu memberikan hasil panen cukup baik, meski tanpa pupuk.
Kalsel sendiri merupakan salah satu daerah penyangga produksi beras nasional, dengan tingkat produksi mencapai 1,95 juta ton GKG. Konsumsi pupuk petani di 13 kabupaten/kota Kalsel mencapai 40.000 ton pertahunnya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: