Kapal Tenggelam

Ramadhan Kelam di Sungai Negara

Azan maghrib sayup-sayup terdengar dari sebuah mesjid kecil di tepi sungai Margasari, Kabupaten Tapin ketika bus sungai (kapal motor) KM Berkat Sari Mulia merapat di pelabuhan perintis Desa Batalas.
Suasana di atas kapal telihat sibuk, karena para penumpang sedang menyantap hidangan berbuka puasa, setelah seharian berada di atas kapal yang bertolak dari Negara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tak lama berselang saat kapal merapat di pelabuhan beberapa penumpang tujuan Banjarmasin ikut naik.
“Sudah cukup juragan, penumpang kita sudah penuh sesak,” tegur Hamsinah,53 kepada Sadikin, sang nahkoda kapal dengan logat banjar daerah hulunya. Namun sang nahkoda tidak memperdulikan, sembari bercanda, “Ah gak apa-apa, kalau mati ya paling semuanya,”.
Malang tak dapat ditolak, tak lama berselang saat kapal baru seratus meter beranjak dari pelabuhan Desa Batalas, kapalpun tiba-tiba oleng. Ratusan penumpang yang ada di atas kapal kayu bertingkat dua itupun panik.
Puluhan orang terpaksa menceburkan diri ke sungai di tengah pekat malam untuk menyelamatkan diri. “Allah hu akbar, allah hu akbar,” teriak para penumpang disertai jeritan dan tangis pilu anak-anak memecah kesunyian malam seiring tenggelamnya kapal.
Hamsinah sendiri berhasil selamat setelah berhasil memegang rimbunan tumbuhan enceng gondok yang larut terbawa arus sungai ke bagian tepi. Tidak ada harta dan barang bawaan yang berhasil diselamatkan kecuali baju di badan.
Kisah sedih lainnya, dikemukakan Pardji, pemuda 25 tahun asal Blora, Jawa Tengah ini harus kehilangan bekal barang dan uang saku untuk mudik lebaran ke kampung halaman sebesar Rp 450.000. “Habis semua mas, saya tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa pulang kampung,” tuturnya lirih.
Demikian juga dialami lima orang teman-temannya yang sama-sama bekerja di perkebunan kelapa sawit di Negara, Hulu Sungai Selatan. Bahkan banyak korban selamat yang strees akibat kehilangan harta benda dan sanak keluarganya. Kini para korban selamat ditampung di rumah-rumah warga desa.
“Kecelakaan kapal ini baru pertama terjadi setelah 30 tahun lalu dan diduga akibat kelebihan muatan,” tutur Akhmad Fauzi, Ketua Satuan Pelaksana Penanganan Bencana dan Pengungsi (Satkorlak PB) Tapin. Menurut data pihak Satlak PB, bus sungai KM Berkat Sari Mulia mengangkut lebih dari 139 orang penumpang.
Padahal kapal kayu yang sudah berumur tua itu hanya mempunyai kapasitas 70 orang. Ditambah angkutan barang berupa ikan segar dalam box, hasil kebun dan kerajinan logam khas Negara yang dibawa para pedagang untuk dijual di Banjarmasin .
Sebanyak 116 orang penumpang berhasil selamat, namun dari puluhan orang penumpang yang hilang baru belasan orang berhasil ditemukan Tim SAR gabungan, dalam kondisi tewas. Jumlah sebenarnya penumpang kapal naas ini tidak dapat dipastikan, karena KM Berkat Sari Mulia mengangkut dan menurunkan penumpang seperti bus di setiap permukiman sepanjang daerah aliran sungai barito yang dilayarinya.

Tidak ada tanggung jawab
Para korban selamat dan keluarga korban tewas, kini mulai resah. Setelah kehilangan harta benda dan nyawa sanak keluargnya, tidak ada tanda-tanda pihak juragan kapal akan memberikan ganti rugi kepada korban.
Maklum, bus sungai ini merupakan pelayaran tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran modernisasi dan pembangunan infrastruktur jalan darat di Kalimantan Selatan. Dengan tarif Rp 20.000 dari Negara ke Banjarmasin , para penumpang tidak mendapatkan jaminan asuransi.
Sang nahkoda kapal Sadikin, tidak diketahui keberadaannya dan abk, Dardi, kini ditahan di Polsek, Candi Laras Utara.
Hingga kini ada dua armada bus sungai ukuran besar seperti KM Berkat Sari Mulia dan dua bus sungai ukuran kecil yang melayari sungai di pedalaman Kalsel, setiap Senin dan Jumat. Pelayaran dengan bus sungai ini memakan waktu satu hari untuk sampai ke Banjarmasin .
Armada bus sungai ini bagi warga pedalaman sangat diandalkan, karena sebagian wilayah masih terisolasi dari akses jalan darat. Dari wilayah pedalaman kapal-kapal ini umumnya mengangkut aneka hasil pertanian dan kerajinan logam khas Negara.
Sedangkan saat pulang, bus sungai mengangkut sembako dan barang kebutuhan lainnya. Tidak beroperasinya salah satu kapal karena rusak, diduga ikut mempengaruhi membludaknya jumlah penumpang KM Berkat Sari Mulia.
Terlebih dalam suasana ramadhan banyak warga pedalaman dan pedagang yang berangkat ke banjarmasin untuk membeli aneka kebutuhan lebaran. “Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, untuk berhati-hati dan mengedepankan keselamatan dalam kegiatan pelayaran,” tutur Rahman Ramli, Kepala Dinas Sosial Tapin, di sela-sela pendirian dapur umum bagi korban kecelakaan KM Berkat Sari Mulia. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: