Kehidupan Tepi Sungai

Sungai Ku Tak Lagi Ramah

Deru mesin perahu motor (klotok) memecah suasana pagi di tepi sungai barito, Kalimantan Selatan. Seperti hari-hari sebelumnya, warna kehidupan masyarakat Kelurahan Kuin Selatan, sebuah permukiman tua sepanjang tepi sungai di sudut Kota Banjarmasin berawal dari aktifitas di atas sungai.
Kesahajaan terlihat dari tawa dan cerita (pandir) kaum ibu sembari mencuci baju dan beras untuk di masak (tanak). Anak-anak mereka asyik menceburkan diri di sungai yang pekat kecoklatan. Sementara kaum pria banyak terlihat duduk berjongkok menggunakan sarung di depan pintu bagian belakang rumah, menikmati kopi manis dan menghisap rokok.
Beberapa pedagang kue (wadai) dan sayuran melintas dengan menggunakan jukung (perahu), sembari menawarkan dagangan mereka kepada warga. Di sepanjang sungai yang menjadi bagian belakang rumah-rumah panggung warga berdiri puluhan jamban berbentuk bilik-bilik berukuran satu meter persegi.
Bangunan rumah yang berseberangan dibangun saling menjorok ke sungai, sehingga lebar sungai semakin menyempit. Potret kehidupan di sepanjang bantaran sungai ini, tergambar hampir di seluruh wilayah Banjarmasin , ibu kota provinsi Kalimantan Selatan.
Tanpa disadari warga, dibalik kearifan lokal mengenai kehidupan tepi sungai ini tersimpan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Pencemaran sungai yang mengandung logam berat, dapat menjadi bencana kesehatan bagi jutaan warga sepanjang daerah aliran sungai.

Budaya dan kemiskinan
Kehidupan masyarakat tepi sungai ini, identik dengan budaya dan faktor kemiskinan. “Kultur masyarakat suku banjar dan dayak, secara turun temurun bermukim di sepanjang daerah aliran sungai,” ungkap Sidik R Usop, pakar sosial budaya dari Universitas Palangkaraya, Kalteng.
Sungai merupakan urat nadi kehidupan dan perekonomian masyarakat. Air sungai dimanfaatkan untuk keperluan hidup sehari-hari, minum, memasak, mencuci dan kakus. Sungai merupakan sarana transportasi dan sumber penghidupan.
Namun seiring perjalanan waktu, sungai kini tak ramah lagi. Masuknya perusahaan pemegang HPH, perkebunan dan pertambangan ikut mempengaruhi terjadinya degradasi lingkungan. Kawasan hutan di sepanjang DAS barito mengalami kerusakan dan air sungai ikut tercemar.
Tetapi sebagian besar masyarakat tidak punya pilihan lain dan tetap mengandalkan air sungai untuk keperluan sehari-hari akibat faktor kemiskinan. Pembangunan dengan masuknya investor, tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bahkan, masyarakat sepanjang tepi sungai justru menerima dampak kerugian berupa bencana banjir dan kekeringan, pencemaran sungai, rusaknya tatanan sosial budaya dan ekonomi warga. “Setiap tahun sungai barito meluap dan membanjiri permukiman warga di sepanjang DAS. Saat kemarau terjadi, sungai mengering sehingga transportasi warga terganggu,” tambahnya.
Bencana tahunan ini telah memurukkan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: