Kerbau Rawa

Menelusuri Jejak Sang Penguasa Rawa

Langit masih gelap kala bumi menapaki pagi, semburat cahaya keemasan mewarnai ufuk timur. Inilah waktunya bagi sang penguasa rawa turun dari singasana.
Suara riuh terdengar dari dalam kalang (kandang) dan disusul suara cipratan air rawa yang dingin menusuk tulang, ketika pintu kalang dibuka. Saling berebutan puluhan kerbau keluar dari kandang untuk mencari makan mengarungi lautan rawa Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, salah satu wilayah terpencil di Kalimantan Selatan.
Samidri,50 sang gembala kerbau berdiri di samping kalang sambil memperhatikan dan menghitung satu persatu jumlah kerbau gembalaannya. Kerbau rawa (Bubalus carabanensis), begitu masyarakat memanggilnya adalah salah satu ternak ruminansia spesifik lokal atau plasma nutfah yang berkembang di daerah rawa-rawa Kalimantan . Kerbau rawa ini digolongkan pada Kelas Mammalia, Ordo Ungulata atau kerbau India .
Kerbau rawa lebih banyak menghabiskan waktu dengan berenang dan mencari makan berupa rerumputan rawa. Para gembala dan pemilik kerbau tidak perlu repot menyediakan pakan peliharaannya karena rerumputan rawa tumbuh subur di belantara rawa.
Dan ketika senja hari barulah, kerbau-kerbau rawa digiring kembali ke kalang yang dibangun dari kayu diatas rawa. Tetapi di beberapa tempat, ketika musim kemarau dan rawa-rawa menyurut para pemilik ternak membiarkan hewan peliharaannya hidup di alam bebas dan hanya sesekali di awasi.
Belakangan seiring semakin bertambahnya populasi kerbau rawa, mengharuskan lokasi penggembalaan kerbau semakin jauh. Di Kalsel tercatat populasi kerbau rawa mencapai lebih dari 40.000 ekor.
“Sekarang makanan kerbau sudah hampir tidak ada di daerah sekitar sini, kecuali ke daerah lebih jauh,” tutur Sarmidi. Dalam beberapa waktu terakhir, Sarmidi dan puluhan penggembala lain dari Desa Paminggir, Danau Panggang terpaksa menggembalakan 43 ekor kerbaunya hingga ke wilayah kabupaten tetangga Kabupaten Tapin.
Menjadi penggembala merupakan pekerjaan utama warga pedalaman rawa selain nelayan dan bertani di lahan rawa lebak. Mayoritas penduduk di pedalaman rawa adalah miskin serta tingkat pendidikan yang rendah.
Kerbau rawa hidup berkelompok-kelompok sehingga sangat kecil kemungkinan bercampur dengan kelompok kerbau lainnya. Hal ini lebih memudahkan pengawasan hewan ternak di lapangan.
Sebagian besar ternak kerbau rawa dimiliki para pengusaha atau pejabat dari berbagai daerah, sedangkan penduduk lokal pedalaman rawa hanya sebagai penggembala. Disini berlaku sistem angon dan bagi hasil.
Bagi para pemilik modal, bisnis ternak kerbau rawa cukup menjanjikan. Seekor kerbau rawa dewasa bisa mencapai harga belasan juta rupiah, jauh diatas harga ternak sapi. Sementara biaya pemeliharaan sangat rendah, karena dipelihara secara tradisional dan hanya mengandalkan alam. Terakhir, susu kerbau rawa juga mulai banyak diminati.

Jadi Obyek Wisata Disukai Turis Asing
Kerbau rawa dan habitatnya menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Pemerintah daerah sendiri menjadikan kerbau rawa sebagai obyek wisata andalan daeerah.
Di era 2000an awal, Pemkab Hulu Sungai Utara setiap tahunnya menggelar even besar lomba (karapan) kerbau rawa. Even ini banyak menyedot wisatawan dalam dan luar negeri. Di samping keunikan lomba, keberadaan kerbau rawa dalam habitatnya menjadi daya tarik tersendiri.
Sayang karena alasan keterbatasan anggaran dan lokasi yang jauh, membuat obyek wisata ini tidak berkembang dan even lomba kerbau rawa tidak lagi diadakan. “Kerbau rawa tetap masih memberikan daya tarik bagi wisatawan, meski sulit untuk dikembangkan,” ungkap Bihman Mulyansah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalsel.
Sebaran populasi kerbau rawa di Kalsel meliputi Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, Banjar dan Tanah Laut, dengan luasan rawa yang menjadi sumber makanan ternak seluas 2,6 juta hektar. Populasi terbanyak ada di Kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara.
Di Paminggir salah satu desa terpencil di pedalaman rawa Hulu Sungai Utara yang berbatasan dengan Kalteng, populasi kerbau rawa mencapai lebih dari 8.000 ekor melebihi populasi warga di sana . Wilayah ini hanya dapat ditempuh menggunakan perahu motor mengarungi lautan rawa dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam dari daratan terakhir. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: