Krisis Air

Krisis Air di Wilayah Seribu Sungai

Kemarau panjang membuat sumur warga mengering dan sungai-sungai yang diandalkan sebagian besar warga untuk keperluan sehari-hari surut. Krisis air bersih melanda provinsi seribu sungai, Kalimantan Selatan.
Siang itu, sejumlah perahu motor (klotok) yang membawa tandon dan derigen air terlihat lalu lalang diperairan sungai barito. Mereka adalah pedagang air bersih keliling yang menjajakan air bersih ke wilayah pinggiran di Kalsel.
“Musim kemarau ini, permintaan air bersih warga pinggiran meningkat tajam karena air sungai asin,” tutur Murdi, 40 seorang pedagang air bersih berklotok di Alalak Tengah, Banjarmasin Utara. Air bersih ini diambil dari lokasi penampungan milik juragan air yang berasal dari pasokan PDAM Bandarmasih.
Tiap derigen air bersih dijual seharga Rp 2.000 atau Rp 20.000 untuk satu tong ukuran sedang 200 liter. Tidak hanya di sungai penjualan air bersih menggunakan gerobak dorong pun ramai, selama musim kemarau ini.
Krisis air bersih, juga dirasakan sebagian besar warga di 13 kabupaten/kota di Kalsel. Sumber-sumber air baku PDAM dari sungai, maupun sumur-sumur warga mengering. Air bersih menjadi barang dagangan yang diburu warga meski harganya relative mahal. Inilah masa panen bagi para pedagang air bersih keliling.
Tetapi bagi warga miskin, mereka tidak punya pilihan lain. Dengan teknik pengolahan sederhana, air sungai yang keruh diendapkan dan kemudian dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.
Tidak jauh berbeda para petani miskin di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut misalnya, terpaksa membuat sumur di dasar saluran irigasi desa yang mengering. Air embung yang kekuningan dan tidak sehat itupun dimanfaatkan ribuan warga.
“Sebagian besar warga pesisir dan tepi sungai, masih mengandalkan air sungai untuk dikonsumsi,” ujar Muslih, Direktur Teknik PDAM Bandarmasih. Padahal kondisi air sungai di Kalsel mengalami pencemaran mulai dari bakteri ecoli, tingkat kekeruhan yang tinggi hingga pencemaran logam berat.
Pada saat kemarau, air sungai mengalami interusi air laut sehingga air yang dikonsumsi warga terasa asin. Sekarang ini kadar garam pada air baku yang berasal dari sungai mencapai 7.000 mg/liter, jauh diatas ambang batas 250 mg/liter.
Akibatnya intake PDAM Sungai Bilu tidak dapat dioperasikan. Kondisi ini diperparah, terjadinya penurunan debit air dari sumber air baku irigasi Riam Kanan, Kabupaten Banjar. Karenanya kapasitas produksi air bersih PDAM Bandarmasih mengalami penurunan hingga 30 persen.
Di sisi lain, kebutuhan air bersih warga mengalami peningkatan, menyusul meningkatnya permintaan warga pesisir dan tepi sungai dari berbagai wilayah Banjarmasin , Kabupaten Barito Kuala, Banjar serta Tanah Laut.
Di Banjarmasin untuk mengatasi krisis air bersih, pemerintah daerah setempat menggratiskan suplai air bersih kepada warga miskin. Kebijakan ini berkaitan dengan HUT Pemkot Banjarmasin ke 483. Walikota Banjarmasin, Yudi Wahyuni, mengatakan program air bersih gratis bagi warga miskin diberlakukan hingga kondisi krisis air bersih berakhir.
“Sungguh ironis, jika warga di kota seribu sungai mengalami krisis air,” ungkapnya. Sedikitnya delapan unit mobil tanki setiap harinya dioperasikan untuk memasok air bersih ke permukiman warga pinggiran di 10 kelurahan Kota Banjarmasin.

Investasi Rp 1 Trilyun
PDAM Bandarmasih, Banjarmasin menjadi satu-satunya PDAM di Kalsel yang mampu memberikan pelayanan air minum dengan ratio 96,3 persen dari 627.245 orang penduduk. Sementara PDAM lainnya hanya mampu melayani tidak lebih dari 20 persen jumlah penduduk.
“PDAM Bandarmasih merupakan salah satu PDAM terbaik di tanah air saat ini,” ungkap Zainal Ariffin, Direktur Utama PDAM Bandarmasih. Sejak 2001 perusahaan daerah ini telah memfokuskan pola pengembangan investasi dan sumber dana yang berasal bukan dari pinjaman jangka panjang.
Ditargetkan pola investasi yang mengandalkan sumber dana dari APBN, APBD Provinsi dan Kota, PDAM maupun kerjasama pihak swasta ini, hingga 2013 mencapai Rp 1 Trilyun. Dan pada 2010 mendatang melalui investasi tersebut, diharapkan tingkat pelayanan air bersih masyarakat 100 persen dan 24 jam, termasuk pelayanan daerah pinggiran seperti Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.
Salah satunya adalah pembangunan jaringan perpipaan sepanjang sepuluh kilometer, ke daerah pinggiran Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar. Kinerja PDAM Bandarmasih dari tahun ke tahun terus meningkat yang ditunjukkan dengan pencapaian laba Rp 4,6 Miliar pada 2008.
Bahkan beban hutang yang menjadi momok hampir semua PDAM di Indonesia, mampu terbayarkan Rp 19 Miliar pertahun.
Saat ini total hutang PDAM kepada pemerintah pusat tercatat sebesar Rp 93,6 Miliar, setelah sebelumnya mendapat penghapusan hutang senilai Rp 44 Miliar.
Melalui kemampuan pembayaran cicilan tersebut, ditargetkan penyelesaian hutang PDAM akan selesai pada 2018 mendatang. “Kita berharap pemerintah pusat mempercepat restrukturisasi hutang ini,” tambahnya.
Lebih jauh dikemukakan Zainal, PDAM peraih ISO 9001 versi 2000 dan piala Pelayanan Prima 2004 dan 2006 dari Presiden ini akan tetap mempertahankan fungsi pelayanan sosial, khususnya bagi warga miskin. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: