Lelang Hasil Bumi

Lelang Panganan Tradisional dan Hasil Bumi untuk Pembangunan Desa

Suasana Desa Galumbang, Kecamatan Juai yang terletak di kaki pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan tampak ramai. Lantunan syair lagu-lagu bernuansa Islami diiringi rebana dari group kasidah kelompok ibu-ibu, menyedot puluhan warga desa untuk menyaksikan.
Pekatnya malam akibat kondisi krisis listrik terganti oleh sinar lampu petromak dan sinar purnama. Warga berkumpul dibawah tenda bertiang bamboo yang dibangun di lokasi pembangunan mesjid desa bernama Arraudah.
Malam itu adalah malam digelarnya kegiatan saprah amal atau pengumpulan dana masyarakat untuk pembangunan mesjid di desa yang masuk kategori desa terpencil di Kalsel tersebut. Pembangunan fisik bangunan mesjid arraudah sendiri baru sekitar 30 persen yang dibangun warga secara bergotong royong.
Sedikitnya diperlukan dana lebih dari Rp 100 Juta guna menyelesaikan bangunan mesjid sederhana ini. Kegiatan pengumpulan dana ini dilakukan dengan cara melelang hasil bumi seperti labu, pisang, singkong juga panganan tradisional aneka kue (wadai) serta lamang, panganan dari ketan dalam bamboo yang dibakar.
“Lelang wadai ini merupakan tradisi warga yang bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan,” ucap Seffek Efendy, Bupati Balangan yang turut hadir dan ikut menjadi petugas lelang saat itu. Tidak hanya di Balangan, tradisi lelang wadai dan hasil bumi ini masih kerap dilakukan warga pedalaman di sejumlah kabupaten seperti Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Tabalong atau dikenal dengan sebutan wilayah banua enam.
Lelang wadai dan hasil bumi merupakan wujud kegotongroyongan dan kebersamaan warga desa. Biasanya kegiatan lelang dilakukan sesuai musim panen, sehinnga warga mempunyai dana berlebih. Tidak hanya pembangunan mesjid, lelang juga sering dilakukan pada kegiatan pembangunan balai desa, jalan dan sebagainya.
Warga Desa Galumbang, telah mempersiapkan pelaksanaan kegiatan lelang ini, sejak tiga hari terakhir. Selain acara puncak pengumpulan dana, warga desa juga melakukan aruh atau pesta desa meski secara sederhana.
Bila rata-rata warga desa hanya berani menawar kue tradisional dan hasil bumi dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 20.000, maka tidak demikian dengan para tamu undangan penting lainnya muspida, bupati dan gubernur.
Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin didaulat menjadi petugas lelang, bergantian dengan bupati Balangan, Seffek Eeffendy. “Ini saya lelang sepotong lamang, siapa berani menawar,” teriak Rudy yang disambut acungan tangan bupati, sembari mengajukan penawaran seharga Rp 5 Juta untuk sepotong lamang.
Warga yang hadir langsung bertepuk tangan, karena sang bupati otomatis menjadi penawar tertinggi, karena warga tidak mungkin mampu membeli lamang lebih mahal dari harga sebenarnya seharga Rp 10.000. Selanjutnya giliran bupati menjadi petugas lelang dengan melelang hasil bumi, buah labu siam ukuran besar.
Buah labu seberat 12 kilo ini, dibeli Gubernur seharga Rp 10 Juta. Kegiatan lelang ini diakhiri dengan ceramah agama dan doa, setelah sebelumnya kedua kepala daerah yang hadir juga memberikan bantuan atas nama pemerintah daerah dengan total hampir Rp 100 Juta.
Dengan selesainya kegiatan pengumpulan dana ini, panitia lelang Haji Akhmad, mengaku sangat senang karena kekurangan dana pembangunan mesji di desanya telah tercukupi. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: