Maarif Award

Memotivasi Kemandirian si Miskin

Salah satu masalah utama di hadapi bangsa Indonesia adalah kemiskinan. Memotivasi si miskin untuk dapat menjadi mandiri jauh lebih penting dan efektif ketimbang berbagai program pengentasan dari pemerintah yang tak kunjung menciptakan masyarakat sejahtera.
Di sepanjang jalan desa dari kediamannya yang sederhana di Jalan Pendidikan V, Sei Paring, Martapura, Kabupaten Banjar (45 Km dari Banjarmasin ), menuju kantor lembaga keuangan (BMT) di Sekumpul, Martapura, Habib Ali Al Habsyi terpaksa berhenti beberapa kali. Warga tidak hanya menyapa, tetapi juga datang menghampiri sekadar untuk bersalaman hingga minta didoakan hajatnya.
Bagi masyarakat banjar yang dikenal religius, sosok seorang habib begitu dihormati. Terlebih kawasan sekumpul, martapura merupakan lokasi kelompok pengajian dan makam tuan guru kharismatik, KH Zaini Gani yang terkenal hingga ke mancanegara.
“Assalamualaikum, habib, apa kabar?, tolong doakan usaha saya agar lancar ya,” ucap seorang ibu penjual nasi kuning di pinggir jalan. “Amin,” kata Habib Ali yang kemudian berhenti dan berbincang-bincang dengan sejumlah warga.
Sosok Habib yang selalu berpenampilan sederhana dan ramah, membuat warga sekitar tidak segan untuk bergaul dengannya. Berbeda dengan para habib yang kerap mengenakan pakaian gamis dan sorban, Habib Ali justru gemar menggunakan batik dan sasirangan (batik khas banjar).
Kesederhanaan juga terlihat dari kehidupannya yang tidak menunjukkan kemewahan, meski dirinya tergolong orang sukses. Bahkan, setiap hari, Habib Ali hanya berjalan kaki atau membonceng karyawannya yang menjemput ke rumah.

Permodalan untuk si miskin
Sejak remaja, Habib Ali sudah berkecimpung di berbagai organisasi kemasyarakatan bersifat sosial. Diantaranya, Lembaga Wahana Indonesia Muda (Lewim) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel.
Pengalamannya dalam organisasi sosial kemasyarakatan ini, memunculkan sebuah motivasi bagaimana merubah nasib masyarakat di kalsel yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan. “Saya ingin membuat sebuah gerakan dan mudah-mudahan dapat menggugah kepedulian generasi lainnya untuk menciptakan kesejahteraan bagi semua masyarakat,” tutur lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin ini.
Menurutnya sebagian besar warga di kalsel dan daerah-daerah lain di tanah air masih hidup dalam kemiskinan. Di kalsel angka kemiskinan mencapai sepertiga dari jumlah penduduk 3,5 juta jiwa. Dan rendahnya tingkat indeks pembangunan manusia (IPM) yang berada di posisi 26 dari 33 provinsi.
Padahal kalsel merupakan daerah kaya sumber daya alam, tetapi angka kemiskinan masih cukup tinggi. Ketiadaan modal membuat warga sulit untuk bangkit dan terpaksa menjalani hidup dalam keterpurukan terus menerus.
Sementara program pengentasan kemiskinan yang digulirkan pemerintah sejauh ini, tidak mampu menyentuh dan merubah kehidupan warga miskin menjadi sejahtera. Demikian juga dengan keberadaan lembaga keuangan perbankan, justru menempatkan kaum marginal sulit untuk mengakses permodalan.
Bercermin dari nasib sulit kaum marginal tersebut, Habib Ali mendirikan sebuah lembaga keuangan syariah non profit untuk membantu masalah permodalan usaha warga miskin yaitu BPR Syariah, Berkah Gemadana, di Banjarmasin pada 1991. Pendirian lembaga keuangan simpan pinjam ini tidak lah mudah, karena kentalnya sikap apatis dan rendahnya budaya menabung di kalangan warga miskin.
Tak jarang kepercayaan dengan memberikan pinjaman permodalan, disalah gunakan dan berujung pada kredit macet. Namun upaya tidak kenal lelah dengan terus menerus melakukan sosialisasi dan menumbuhkan kesadaran di kalangan warga miskin, akhirnya lembaga keuangan syariah ini dapat berkembang.
Kini ada sejumalah lembaga keuangan (BMT) yang didirikan Habib Ali diantaranya BMT Kharul Amin dan
BMT Ahsanu Amala Sekumpul di Martapura, BMT Istikomah, Gambut, BMT Annur Pasar Cempaka, Banjarmasin serta
BMT Alfa Salam, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru dengan jumlah anggota mencapai 8.000 orang.
Aset sejumlah lembaga keuangan yang didirikannya ini mencapai miliaran rupiah. Demikian pula dengan ratio pinjaman berbasis syariah yang dikucurkan ke masyarakat mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 300 Juta.
Diakuinya, keberadaan BMT yang didirikannya belum dapat berbuat banyak membantu upaya pengentasan kemiskinan. Tetapi tujuan utama dari gerakan ini, adalah untuk menyadarkan masyarakat terutama kaum miskin tentang pentingnya menabung dan berusaha. “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya,” sebut Habib menggambarkan pentingnya sebuah tekad untuk berubah.

Dakwah jalanan hingga pedalaman
Sebagai seorang habib, dirinya sadar bahwa ucapannya banyak didengar masyarakat. Karena itu, secara rutin dari kampong ke kampong, dirinya melakukan aksi kampanye untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menabung dan berusaha melalui kegiatan pengajian (tausiah).
Tak hanya itu, dalam tiga tahun terakhir Habib Ali mempunyai kesibukan lain yaitu dakwah untuk anak-anak jalan dan remaja yang dipusatkan di lapangan Murjani, Banjarbaru. Modernisasi dan era globalisasi seperti sekarang ini, menggiring anak dan remaja terjerumus dalam kemerosotan moral dan akhlak.
Dakwah jalanan ini, dikemukakan Habib Ali lebih banyak bersifat sharing, mendengar unek-unek dan masalah remaja. “Tema yang kita angkat merupakan masalah remaja saat ini, seperti tentang video porno artis, bagaimana kita mengarahkan kaum remaja agar tidak terjerumus,” ucapnya sambil tersenyum.
Kegiatan lain yang banyak menyita waktu habib adalah dakwah ke daerah pedalaman, bersama teman-teman aktifis lingkungan Walhi. Padatnya kegiatan sosial sang habib, membuat dirinya hingga kini tidak berani untuk menikah, meski usianya sudah hampir separuh abad.
Namun kerja keras dan kepedulian sosialnya yang tinggi, berbuah pada diraihnya penghargaan Maarif Award 2010 bersama Romo V Kirjito dari Magelang, Jawa Tengah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: