Mangrove kian Tergerus

Menyelamatkan si Pelindung Pantai yang Kian Tergerus

Kawasan hutan mangrove yang menjadi pelindung pantai serta habitat flora dan fauna di Kalimantan Selatan kian tergerus. Kondisi ini berimbas pada makin terdesaknya keberadaan hewan langka kera hidung panjang (bekantan).
Sudah lebih dua jam berlalu dan terik mataharipun mulai terasa menyengat kulit. Fitri,38 pun beranjak dari duduknya dan mulai putus asa. “ Susah mas, mungkin si hidung panjang gak mau keluar,” katanya kepada Khaidir rekannya.
Sejak pagi hari, Fitri dan Khaidir dua orang fotografer surat kabar harian lokal di Kalsel ini menunggu kemunculan bekantan di Pulau Bakut, sebuah pulau kecil yang ada di tengah-tengah sungai barito di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Keduanya, mencari lokasi pengintaian di atas jembatan barito, jembatan terpanjang di Kalsel yang posisinya cukup strategis karena berada tepat di samping atas pulau.
Dari atas jembatan terlihat kelompok burung camar dan elang beterbangan. Sayang yang ditunggu-tunggu, si kera hidung panjang tidak kunjung terlihat. Maskot daerah Kalsel ini memang dikenal sebagai binatang pemalu sehingga untuk dapat melihat dan mengambil gambarnya memerlukan kesabaran.
Kondisi Pulau Bakut sendiri kini cukup memprihatinkan. Berbagai jenis pepohonan mangrove yang tumbuh disana mengalami kerusakan. Padahal kawasan hutan mangrove di pulau tersebut merupakan habitat berbagai jenis flora dari kelompok burung dan kera termasuk bekantan (nasalis larvasus).
Hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi, karena hutan mangrove mampu meredam gelombang laut. Hutan mangrove membantu mempercepat pengendapan lumpur di pantai dan mengurangi pencemaran serta intrusi air laut ke daratan. Tak kalah pentingnya merupakan tempat berkembangbiak biota laut jenis ikan, udang, kepiting dan lainnya.
Kerusakan kawasan hutan mangrove ini tidak hanya terjadi di Pulau Bakut tetapi merata di sepanjang pesisir wilayah Kalsel. Termasuk keberadaan pulau wisata Pulau Kembang. Menurut data Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), kawasan hutan mangrove di Kalsel mencapai 450 kilometer atau sekitar 120.780 hektar, dari 1.331 kilometer panjang pantai yang ada.
Kawasan hutan mangrove berada di sepanjang pesisir dan pulau di Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru. “Diperkirakan 30 persen hutan mangrove kita sudah kritis dan perlu penanganan serius,” ungkap Kepala BLHD Kalsel, Rahmadi Kurdi.

Perambahan Terus Berlangsung
Keberadaan hutan mangrove di Kalsel kian tergerus, sebagai dampak maraknya aksi alih fungsi kawasan hutan mangrove menjadi areal tambak, permukiman pesisir, industri, pelabuhan khusus. Bahkan kayu-kayu hutan mangrove jenis bakau, rambai, bidara, warakas, api-api dan jelapat dibabat untuk kepentingan industri perkayuan seiring keterbatasan bahan baku kayu.
Menurut Rahmadi Kurdi, perlu ada tindakan tegas dari pemerintah daerah terkait aksi alih fungsi kawasan hutan mangrove ini. Sayangnya aksi perambahan hutan mangrove di lapangan terus berlangsung.
Pemprov Kalsel sekarang ini, sedang menggodok draft peraturan daerah mengenai pemanfaatan kawasan pesisir, untuk menyelamatkan hutan mangrove.
Rusaknya hutan mangrove membawa dampak kerusakan lingkungan dan habitat binatang pantai, sehingga berdampak terhadap menurunnya pendapatan masyarakat dari sektor perikanan. Kerusakan hutan mangrove terparah terjadi di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Wilayahnya mempunyai hutan mangrove mencapai 100.000 hektar.
“Pemerintah telah menetapkan program rehabilitasi hutan mangrove guna mengembalikan fungsi dan manfaat kawasan hutan mangrove,” paparnya. Beberapa waktu lalu, BLHD Kalsel, melakukan penanaman 1.000 pohon mangrove jenis rambai di kawasan sekitar sungai barito dan pulau Bakut.
Dipilihnya jenis pohon rambai, karena tanaman ini daun dan buahnya menjadi sumber makanan utama bekantan, kera hidung panjang yang terancam punah. Hal serupa juga dikemukakan pemerhati lingkungan dan satwa bakantan, M Ariffin, mengatakan keberadaan bekantan kini semakin terancam akibat menghilangnya hutan mangrove yang menjadi habitat dan sumber makanan bekantan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: