Maulid Nabi

Semarak Peringatan Kelahiran Nabi

Syair habsyi diiringi gema tetabuhan rebana yang dilantunkan puluhan santri, mengiringi prosesi Baayun Maulid di komplek makam raja Banjar, Sultan Suriansyah, Kelurahan Kuin, Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan.
Terik sinar matahari siang itu, tidak menyurutkan semangat warga dan para orang tua yang mengikut sertakan anak-anak mereka menjadi peserta baayun. Ratusan peserta balita dan dewasa, ambil bagian dalam prosesi baayun mauled kali ini.
Baayun pada bulan Maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan tradisi turun temurun masyarakat muslim di Kalimantan Selatan.
Baayun merupakan tradisi yang menghadirkan ritual pembacaan doa dan syair-syair Islam sembari mengayun anak dalam ayunan. Namun baayun sendiri sebenarnya bukanlah tradisi dalam agama Islam, melainkan sebuah tradisi campuran yang dipengaruhi adat suku dayak.
Sejatinya, prosesi baayun ditujukan kepada anak-anak tetapi dalam perkembangannya, kegiatan ritual keagamaan di Kalsel banyak diikuti orang dewasa, sehingga kemudian dinamakan Baayun Maulid. Tradisi baayun maulid menjadi daya tarik bagi masyarakat Kalsel, dan menjadi bagian even wisata daerah.
“Tradisi baayun maulid sudah kita masukkan dalam agenda kepariwisataan Kalsel,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalsel, Bihman Mulyansyah. Banyak wisatawan lokal yang datang dari berbagai daerah, termasuk manca Negara menyaksikan keunikan tradisi peringatan kelahiran nabi ini.
Kegiatan baayun dimulai dengan pembacaan syair-syair maulid dipimpin seorang tuan guru, diiringi tetabuhan rebana dari kelompok pengajian. Para orang tua asyik mengelus dan mendoakan anak-anak mereka dalam ayunan sembari mengoleskan wewangian.
Bagi sebagian peserta baayun disempatkan berdoa agar dimurahkan rejeki dan terhindari dari berbagai musibah termasuk penyakit. Penggunaan kain ayunan untuk baayun anak terdiri tiga lapis (dulu memakai sasirangan) digambarkan agar yang diayun dapat menguasai ilmu tasawuf, marifat dan
hakikat.
Serta penggunaan hiasan janur dari pohon aren
yang dibentuk berupa payung-payung, patang kangkung,
rantai (gelang), kambang sarai bersimbol agar anak
selalu dilindungi dari kejahatan dan bala.
Syamsiar Seman, budayawan Kalsel mengatakan asal muasal tradisi baayun adalah tradisi masyarakat banjar saat menidurkan bayinya dengan cara mengayun. Hingga sekarang tradisi menina bobokkan anak seperti ini masih melekat di tengah kehidupan masyarakat suku banjar.
Umumnya ayunan itu terbuat dari kain kuning (tapih) yang ujungnya diikat dengan tali ijuk. Ayunan ini biasanya digantungkan di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur , dengan maksud sebagai penangkal makhluk gaib atau penyakit yang mengganggu bayi.
Tradisi baayun ini marak diadakan di 13 kabupaten/kota selama bulan Maulid. Kegiatan terbesar diselenggarakan di beberapa daerah seperti Mesjid Sultan Suriansyah, Banjarmasin , Kota Martapura, Kabupaten Banjar dan mesjid keramat Al Qorammah, Desa Banua Halat, Tapin.
Di Desa Banua Halat, peserta baayun setiap tahunnya mencapai 2.000an orang, mulai dari balita hingga lansia. Selain kegiatan baayun, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ditandai dengan kegiatan tabligh dan selamatan mulai dari rumah-rumah warga yang mampu, surau, langgar dan mesjid di berbagai pelosok daerah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: