Menggaet Wisatawan

Melestarikan Budaya Menggaet Wisatawan

Memang tidak sehebat Bali atau Jogyakarta, namun industri pariwisata di Kalimantan Selatan menjanjikan keunikan dan eksotisme wisata alam dan budayanya.
Peristiwa teror bom yang mengguncang Jakarta, tidak membuat semangat pagelaran Festival Budaya Banjar dan Pasar Terapung 2009 yang digelar di Banjarmasin, 18-20 Juli 2009 pupus. Even tahunan dalam rangka mendukung Visit Kalsel 2009 ini cukup meriah,walau puluhan turis asing membatalkan diri hadir imbas serangan bom JW Marriot-Ritz Carlton Jakarta.
Rentak tarian begitu dinamis dalam tarian Sinoman Hadra yang dibawakan puluhan penari muda dengan pakaian warna warni, mengiringi kedatangan para tamu undangan. Sajian musik tradisional khas suku banjar, musik Panting serta tarian Baksa Kambang (tarian penyambut tamu) ikut menyemarakkan suasana.
Berturut-turut parade budaya menampilkan berbagai kesenian dari 13 kabupaten/kota, Pengantin Bausung (dipikul), Bagandut (semacam Jaipong) dan Wayang Gong menjadi pembuka festival budaya ini. Tidak ketinggalan pawai kesenian se nusantara, sebagai wujud multi kultur yang ada di Kalsel.
Ribuan warga Kota Banjarmasin, beberapa perkumpulan fotografer termasuk sejumlah turis asing rela berjejal untuk melihat dan mengabadikan momen budaya tersebut. Festival budaya yang digelar di tepi sungai Martapura, juga menghadirkan parade Jukung Hias dan Pasar Terapung.
Pada malam harinya digelar festival tanglong dan kembang api. Beberapa jenis kesenian dan tradisi lainnya ambil bagian dalam festival budaya dan pasar terapung ini, antara lain traidsi Baayun (mengayun)anak, permainan tradisional Balogo dan Bagasing juga Batungkau (Engrang).
Yang tidak kalah menarik adalah disajikannya aneka panganan rakyat seperti Wadai (kue) 41 macam maupun masakan khas suku Banjar. Bahkan untuk Wadai Apam, Barabai yang terkenal itu disajikan mulai dari proses pembuatannya secarfa tradisional hingga siap disantap. Para pengunjung festival dipersilahkan mencicipi panganan rakyat ini.
“Cukup menarik dan saya sangat senang, saya juga tidak khawatir dengan adanya teror bom,” cetus Bill, seorang turis asal Selandia Baru yang datangnya jauh-jauh untuk menyaksikan festival budaya ini. Bule berperawakan besar, terlihat sibuk memotret momen-momen unik pada gelaran festival.
Keragaman Budaya
Suku Banjar, penduduk asli Kalimantan Selatan merupakan hasil pencampuran suku yaitu Maayan, Lawangan dan Bukiat dengan suku Melayu, Jawa dan Bugis. Pencampuran yang terjadi pada jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit ini menghasilkan sebuah masyarakat dengan keragaman budaya.
Masyarakat adat Kalsel mengenal berbagai upacara adat berkenaan dengan kehidupan manusia, sejak dalam kandungan hingga akhir hayat. Contohnya, adat berpantang bagi wanita hamil, upacara pemberian nama bayi, upacara perkawianan terdiri dari beberapa tahap, hingga upacara Pemakanan Pengantin yaitu kedua mempelai menjalani bulan madu, selama tujuh hari tujuh malam hanya makan dan minum di balik tabir tertutup.
Pada masyarakat Banjar juga berkembang seni sastra berupa syair dan pantun, seni arsitektur bernilai tinggi yang terlihat dari bentuk bangunan tradiosional. Untuk seni rupa, suku Banjar mengenal sulaman-sulaman, anyaman yang kerap digunakan sebagai peralatan upacara. Kemudian seni ukir terdapat pada ukiran bangunan rumah atau mesjid maupun aneka kerajinan seperti tempat sirih, peludahan, bokor, kapit, abun dan sebagainya.
Keaneka ragaman budaya ini yang diharapkan pemerintah daerah mampu mendongkrak kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri ke Bumi Antasari (Kalsel). Hingga kini jumlah kunjungan wisatawan asing ke Kalsel masih sedikit, sekitar 16.000 orang pertahun dan wisatawan nusantara sebanyak 250.000 orang.
“Even akbar ini kita gelar terkait tahun kunjungan wisata Indonesia dan Kalsel 2009,” ungkap Bihman Mulyansyah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel. Diakui Bihman, Kalsel yang memiliki pesona alam dan budaya luar biasa belum dapat digarap maksimal.
Karenanya Kalsel belum mampu menjadi daerah tujuan wisata utama Indonesia , tetapi hanya sebatas daerah wisata penunjang pariwisata nasional. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: