Meratus Tergerus

Meratus Semakin Tergerus

Hujan belum kunjung berhenti, ketika sebuah pesawat terbang kecil berbaling-baling jenis prop jet, milik maskapai penerbangan Susi Air melintas di udara Kalimantan Selatan. Dari jendela lebar bagian belakang pesawat tampak jelas hamparan awan kehitaman mengandung hujan menutupi sebagian wilayah.
Pesawat yang terbang dengan ketinggian hanya 6.000 kaki dari permukaan tanah, tujuan Kabupaten Tanah Bumbu itu, sesekali mengalami goncangan (turbulence) saat menabrak awan. Sang pilot berkebangsaan asing pun, tak lupa mengingatkan para penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman.
“ Para penumpang cuaca saat ini kurang baik, silahkan menggunakan sabuk pengaman, terima kasih,” ucap sang pilot dengan logat asingnya yang kental. Pesawat terbang perintis ini hanya diisi tujuh orang penumpang di tambah seorang kru pesawat dari 12 kursi penumpang tersedia.
Penumpangnya adalah Bupati Tanah Bumbu, Zairullah Ashar beserta istri dan ajudannya, serta seorang ulama besar dari Negara Lebanon, Syekh Yusuf Al Hasani yang didampingi seorang penerjemahnya.
Sepuluh menit perjalanan dari 30 menit waktu tempuh, Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin ke Bandara Bersujud, Batulicin, mulai terlihat jelas deretan pegunungan membentang antara Kabupaten Banjar dan Tanah Bumbu. Inilah pegunungan meratus yang membentang hingga wilayah sembilan kabupaten di Kalsel.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang tersisa di provinsi terkecil di Kalimantan , letaknya membentang dari arah Tenggara sampai Utara berbatasan dengan Kalimantan Timur dan luasnya diperkirakan sekitar sejuta hektar.
Banjir terlihat jelas melanda lembah-lembah pegunungan meratus yang masuk daerah aliran sungai (DAS) Riam Kanan dan Riam Kiwa, di Kabupaten Banjar. Areal pertanian dan persawahan warga kini tergenang. Dua DAS ini melintasi sebagian besar wilayah Kabupaten Banjar.
Ibarat kain yang compang camping dan dipenuhi tambalan, kondisi pegunungan meratus pun demikian adanya. Di satu sisi, hutan lebat menjulang di puncak-puncak pegunungan.
Tetapi di sisi lain, kawasan hutan yang menjadi paru—paru bumi itu hilang dan berganti hamparan kebun sawit. Dan lebih parah lagi, perut bumi seperti terkoyak dan menyisakan danau-danau dari aktifitas pertambangan. Dari udara terlihat areal perkebunan sawit dan pertambangan ini cukup banyak.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel memperkirakan luas hutan murni atau perawan di provinsi yang dalam beberapa tahun terakhir ini gencar melakukan eksploitasi pertambangan dan perkebunan tersebut tersisa 300.000 hektare. “Luas hutan di Kalsel terus berkurang dan tersisa hutan di kawasan puncak pegunungan Meratus saja,” ungkap Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Hegar Wahyu Hidayat.

Bencana banjir terus terjadi
Dalam satu dekade terakhir, sebagian besar wilayah kalsel menjadi daerah langganan banjir. Banjir tidak hanya melanda daerah dataran rendah di sepanjang daerah aliran sungai, tetapi juga masuk ke pusat kota , sehingga melumpuhkan aktifitas sosial dan ekonomi warga.
Zainal Ariffin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, mengungkapkan seluruh daerah dari 13 kabupaten/kota di Kalsel merupakan daerah rawan bencana banjir. Bahkan, adanya sejumlah daerah di Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Balangan, Tanah laut, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Barito Kuala, menjadi daerah langganan banjir terparah dan sudah tidak layak lagi dihuni.
Banjir tahun ini tercatat sebagai banjir terparah dalam lima tahun terakhir. Ratusan desa yang dihuni 100.000 jiwa terendam banjir. Dinas Pertanian kalsel mencatat 15.000 hektar areal persawahan rusak akibat banjir yang menyebabkan perekonomian warga terpuruk.
Kerusakan kawasan hutan meratus ini, menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup Gusti M Hatta, saat berkunjung ke Kalsel beberapa waktu lalu mengingatkan akan pentingnya pelestarian hutan dan penyelamatan hutan oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan. “Hutan kita sudah banyak yang rusak. Kekayaan alam ini mesti dijaga dan diselamatkan. Untuk itu, ijin penambangan mesti dikendalikan dan tidak boleh melebihi daya dukung lingkungan,” tegasnya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: