Pasar Terapung

Pesona Pasar Terapung yang Kian Luntur

Layaknya ojek, sebuah perahu motor (klotok) melaju pelan di permukaan sungai martapura sambil menarik tiga sampai empat perahu tradisional (jukung) dibelakangnya. Jukung-jukung pembonceng ini, membawa aneka hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan untuk dijual di pasar terapung Desa Lokbaintan, Kabupaten Banjar.
Pagi itu, daerah aliran sungai sepanjang sungai tabuk, mulai dipadati puluhan jukung yang dikayuh kaum ibu menggunakan penutup kepala disebut tanggui. Rukayah,40 salah satunya berusaha kuat mempertahankan jukungnya agar tidak terbalik ketika sebuah klotok melintas di dekatnya.
Agar tidak terbalik, dirinya terpaksa merapatkan jukungnya dan berpegangan ke jukung lain yang ada di sekitar. Suasana pasar terapung di Lokbaintan cukup ramai, terlebih saat musim panen tiba.
Aneka hasil pertanian dan perkebunan diangkut melalui jalur sungai serta diperdagangkan, juga di atas sungai. Bahkan transaksi di arena pasar terapung juga mengenal system barter (pertukaran). Selain hasil pertanian, pasar terapung juga menyajikan kue tradisional, makanan, kebutuhan pokok seperti beras, minyak kelapa hingga pakaian.
Lokasi pasar terapung Lokbaintan membutuhkan waktu tempuh satu jam perjalanan menyusuri sungai dari Kota Banjarmasin. Dapat pula melalui jalur darat menggunakan sepeda motor, dengan waktu tempuh hampir sama.
Yang unik dari pasar terapung Lokbaintan adalah dimulainya kegiatan pasar ditandai dengan kedatangan para pedagang menggunakan jukung satu persatu dan berkumpul di satu titik. Pasar ini juga bergerak (larut) mengikuti arah arus sungai.
Keraifan lokal pasar terapung ini menjadi andalan utama sektor pariwisata kalsel. Bahkan, keberadaan pasar terapung di Kalsel jauh lebih eksotik dibandingkan keberadaan pasar terapung Damnoen Saduak di Thailand. Hanya saja, promosi wisata dua lokasi pasar terapung ini masih kalah jauh. Bahkan, keberadaan pasar terapung yang ada di Kuin Selatan Banjarmasin terancam punah akibat modernisasi.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, keberadaan pasar terapung semakin terkikis. Transaksi perdagangan di atas permukaan sungai yang menjadi budaya lokal itu, tidak lagi ramai. Banyak wisatawan yang kecewa karena, pesona pasar terapung yang digembar gemborkan lebih menarik dari floating market di negara tetangga Thailand ini, berangsur punah.
Bihman Mulyansyah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, menyebutkan sebelumnya jumlah pedagang berperahu di pasar terapung Kuin Selatan mencapai 300 pedagang. Tetapi kini jumlah pedagang di pasar Terapung, tersisa puluhan pedagang saja.
Yang tersisa hanya pasar terapung di Lokbaintan, Kabupaten Banjar. Namun kegiatan pasar terapung yang mengandalkan musim panen hasil pertanian ini mulai terganggu akibat gagal panen dan bencan banjir.
Modernisasi juga dinilai menjadi penyebab pudarnya pesona pasar terapung. “Dulu, ketika jalur transportasi darat belum ada, sungai merupakan sarana transportasi utama masyarakat Kalsel. Kala itu, pasar terapung ikut berkembang pesat,” kata Bihman. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: