Pembangkit Meratus

Pelita di Pedalaman Meratus

Suasana malam di Desa Haratai, sebuah desa terpencil di kaki pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Desa yang dulu gelap gulita dan hanya diterangi sinar redup lampu-lampu teplok, kini berubah benderang.
Sejumlah warga desa bersorak-sorak saat menyaksikan pertandingan sepakbola yang menyuguhkan pertandingan antara kesebelasan Indonesia dan negara tetangga dari TV umum di balai desa. Ditemani hidangan pangan lokal ubi rebus dan kopi panas, warga desa menikmati hiburan televisi hingga larut malam.
Di sudut desa lainnya, para pemuda ditemani gadis-gadis dayak asyik bercengkrama, sambil bermain gitar. Suasana malam nan indah ini, baru ada beberapa pekan di Desa Haratai yang selama ini gelap gulita akibat tidak adanya penerangan listrik.
Desa Haratai sebuah desa terletak di bagian atas kaki pegunungan Meratus, masuk wilayah Kecamatan Loksado. Desa yang menaungi tiga balai adat dan dihuni sekitar 510 jiwa ini dapat ditempuh lebih kurang 30 menit menggunakan sepeda motor, melintasi hutan dari balai terluar Loksado, Malaris.
Berbeda dengan balai adat malaris, balai adat terbesar dan modern di Kalsel yang telah menerima jaringan listrik PLN, wilayah Desa Haratai belum berlistrik. Beberapa orang petinggi desa, seperti Sukron,45 kepala desa dan sekretaris desa, pernah mendapatkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari pemerintah beberapa tahun lalu, namun sekarang sudah rusak karena pemeliharaannya sulit.
Warga desa juga patungan membeli genset untuk keperluan penerangan saat upacara adat seperti aruh ganal dan sebagainya. Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI), sebuah lembaga pemerhati masalah social dan lingkungan di Kalsel, menjadi pionir merintis terealisasinya pembangunan pembangkit PLTMH di wilayah pedalaman pegunungan Meratus ini.
Sejak 2003, lembaga ini telah melakukan studi kelayakan bagi pembangunan pembangkit dengan mengandalkan air sungai di lereng meratus. “Proses pembangunan pembangkit ini sangat panjang dan berliku, karena pemerintah daerah kurang menanggapi. Beruntung ada lembaga donor UNDP yang mau mengucurkan dana hingga Rp 350 Juta untuk membangun pembangkit,” jelas Dwi P Jatmiko, Direktur Eksekutif YCHI Kalsel.
PLTMH yang dibangun di Desa Haratai ini, disebut PLTMH Buntasan, dengan mengandalkan air sungai Mantike anak sungai Amandit. Kecuali pengadaan mesin pembangkit skala kecil berkapasitas 17.000 Watt tersebut, warga bergotong royong membantu pembangunan fasilitas “mewah” bagi warga suku pedalaman ini.
Selanjutnya pengelolaan dan pemeliharaan pembangkit ini, diserahkan kepada warga melalui Koperasi Simpan Pinjam dalam bentuk iuran bulanan. Sejauh ini, di wilayah Kecamatan Loksado yang merupakan komonitas suku dayak terbesar dengan 58 balai adat baru ada tiga pembangkit tenaga mikro hidro.
Dan dari 430 balai adat yang menaungi sekitar 50.000 warga suku dayak di sembilan kabupaten di Kalsel ini, baru 30 persennya terjangkau listrik. Artinya mayoritas warga dayak Meratus masih hidup dalam kegegelapan.

Konservasi Hutan Meratus
Menurutnya, selain mengatasi masalah ketiadaan listrik, sasaran utama dari pembangunan pembangkit ini adalah peningkatan ekonomi masyarakat desa dan konservasi kawasan hutan meratus. Dengan adanya fasilitas listrik, warga desa bisa membangun mesin pengolahan hasil hutan seperti kayu manis dan kemiri yang selama ini dijual mentah sehingga harganya rendah.
Demikian juga tradisi pesta adat (aruh) lima kali dalam setahun, memerlukan aneka panganan yang harus diolah ke kota . Biaya aruh mencapai ratusan juta rupiah ini bisa dihemat apabila warga memeliki mesin penggilingan beras dan ketan yang memerlukan energi listrik.
Sekarang ini ada kesepakatan adat bahwa kawasan hutan dibagian hulu tidak boleh dirusak, demi kelangsungan keberadaan pembangkit. Sayangnya, kawasan hutan meratus di bagian selatan meliputi Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru saat ini dalam kondisi rusak akibat maraknya perambahan hutan dan pertambangan.
Menurut data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, hutan perawan tersisa berada di bagian hulu pegunungan Meratus wilayah tengah meliputi Hulu Sungai Selatan hingga Tabalong seluas 400.000 hektar saja.
Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, menyatakan pihaknya sangat mendukung upaya mengatasi ketiadaan listrik di pedalaman dengan membangunan PLTMH. ”Bantuan pemerintah untuk pemakaian sel surya, umurnya pendek sementara pemeliharaan sulit dan mahal,” katanya.
PLTMH menjadi pilihan karena banyak sungai di pedalaman sebagai sumber tenaga. Diakui Rudy, pemerintahan yang dipimpin masih menghadapi kendala berat dalam mengatasi kondisi krisis listrik.
Defisit energi listrik mencapai 50 Megawatt dan ditambah tingginya tingkat kebutuhan masyarakat, telah memberi pengaruh buruk pada kegiatan pemerintahan, ekonomi masyarakat serta iklim investasi. Keberadaan PLTMH ini mampu menjadi pelita di belantara pegunungan Meratus. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: