Pendidikan Meratus

Menembus Batas Cakrawala

Di era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa menjadi salah satu kunci menuju kesuksesan. Bahasa berlaku universal menembus batas cakrawala hingga suku terpencil pegunungan Meratus.
“Good morning mister, how are you,” ucap tujuh orang murid kelas satu, Sekolah Dasar Bilingual, Paringin Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan kepada sejumlah tamu yang berkunjung ke sekolahnya. Salah satu murid bernama Rizky,6, terlihat cukup pasih berdialog dalam bahasa inggris kepada tamu dari dinas pendidikan kabupaten setempat.
Rizky berasal dari keluarga petani yang bermukim di kaki pegunungan Meratus, Kecamatan Juai, salah satu daerah terpencil di Kabupaten Balangan. Ketika ditanya apa yang menjadi cita-citanya, Rizky pun menjawab ingin menjadi orang hebat dan bisa berkeliling dunia.
Sekolah dasar berbahasa inggris ini merupakan satu-satunya di kabupaten hasil pemekaran yang baru berumur enam tahun ini. Sekolah ini baru berumur dua tahun dan murid-muridnya hanya kelas satu dan kelas II.
Selain SD adapula sekolah serupa untuk tingkat SMP yang letaknya tidak jauh dari SD Bilingual Paringin. Karena baru berdiri jumlah murid SD Bilingual Paringin hanya lima belas orang. Sedangkan murid SMP 4 Paringin hanya 48 orang.
Agak disayangkan, sekolah terpadu dua bahasa ini oleh pemerintah setempat dibangun di lokasi terpencil pada kawasan hutan karet berjarak tujuh kilometer dari kota kabupaten. Belum terbangunnya akses jalan dan ketiadaan listrik, ikut menghambat proses belajar mengajar di sekolah yang diharapkan mampu menjadi sekolah unggulan tersebut.
Walau pemerintah setempat dengan dibantu sebuah perusahaan tambang PMA memberikan bantuan berupa penyediaan bus sekolah, namun bagi Rizky dan sejumlah murid lainnya yang berasal dari daerah terpencil cukup sulit. Setiap hari orang tua Rizky harus berangkat pagi-pagi sekali mengantar anaknya dari Desa Juai ke kota kabupaten berjarak kurang lebih 20 kilometer.
Demikian juga dengan kondisi sekolah yang tergolong baru itu, sudah banyak mengalami kerusakan terutama retaknya dinding bangunan sekolah dan lantai keramik pecah-pecah. Demikian juga dengan sarana pendidikan yang sangat sederhana, termasuk tidak adanya laboratorium bahasa.
Satu-satunya kantin sekolah berada di dalam kebun karet yang hanya berupa warung tenda, sangat jauh dari segi standar kesehatan. Sekolah ini layak disebut kamp penampungan, karena berada di tengah hutan.
“Belum adanya akses jalan dan energi listrik, membuat aktifitas pendidikan di sekolah ini terganggu,” ungkap Rafiul Amal, Kepala Sekolah SD dan SMP Bilingual Paringin. Namun dari sisi keberhasilan pendidikan, sekolah ini dinilai telah mampu menciptakan SDM usia dini yang mampu menguasai ilmu pendidikan umum dan bahasa inggris.
Sekolah ini dibangun untuk menciptakan SDM daerah yang handal dan mampu bersaing ditingkat nasional hingga internasional.

Pendidikan jadi prioritas utama
Pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama Kabupaten Balangan yang kaya akan sumber daya alam batubara dan perkebunan karet. Maklum masih banyak warga, khususnya suku dayak yang bermukim di daerah terpencil belum mengecap pendidikan.
Empat dari delapan kecamatan di Balangan yaitu Juai, Awayan, Halong dan Tebing Tinggi, merupakan daerah terpencil berada di kaki pegunungan Meratus. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, Edy Yulianto, mengakui masih banyak warga yang bermukim di daerah terpencil belum mengecap pendidikan.
Pemerintah daerah telah membangun sejumlah sekolah kecil pada anak-anak desa terpencil seperti SD Hampang, SD Tinggar, SD Mapat dan SD Wayuanin di Desa Urin. Juga SD Libaru Sungkai di Desa Binuang Santang, SD Mabulan di Desa Padang Raya, serta SD Dayak Pitap, SD Rantau Paku, SD Raranum, SD Japan dan SD Papuyuan.
Kabupaten pemekaran yang mempunyai luas 1.878 Km2, dengan penduduk sebanyak 102.199 jiwa itu, memiliki 315 sekolah dari TK hingga SMU tersebar di 149 desa pada delapan kecamatan. Namun dari 1.527 ruang belajar yang ada, sepertiganya dalam kondisi rusak. Masih banyak sekolah dibangun dalam bentuk sederhana terbuat dari kayu.
“Kita terus mengupayakan pembangunan sektor pendidikan, dengan meningkatkan anggaran juga sarana dan prasarana pendidikan,” kata Sefek Effendy, Bupati Balangan. Bahkan, keberhasilan pembangunan pendidikan ditandai dengan keberhasilan menempati peringkat pertama tingkat kelulusan siswa SMP se Kalsel tahun ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: