Pesta Adat Dayak

Aruh, Pesta Adat Suku Pedalaman Kalimantan

Sudah tiga hari berselang, suasana di Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, yang merupakan permukiman warga suku dayak kaki pegunungan Meratus tampak meriah. Ratusan warga disibukkan dengan persiapan upacara adat (aruh) Basambu menyongsong dimulainya musim tanam atau berladang.
Lokasi desa di wilayah perbukitan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam dari batas terakhir jalan raya Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan (175 Km dari Banjarmasin ) itu, dihiasi aneka hiasan janur dan umbul-umbul di sepanjang jalan desa. Di samping rumah adat panggung atau balai Malaris yang merupakan balai adat suku dayak terbesar Kalimantan Selatan itu, terlihat kaum perempuan desa sedang asyik menanak nasi dalam wajan besar.
Sebagian warga lainnya disibukkan dengan kegiatan membuat aneka panganan tradisional. Sementara kaum lelaki desa, melakukan penyembelihan ternak ayam, kambing serta babi dan sebagian lainnya sibuk membersihkan balai adat, tempat aruh akan dilaksanakan pada malam harinya.
“Malam ini aruh akan dimulai yang ditandai dengan kegiatan ritual batandik (menari) oleh para balian (tokoh adat),” tutur, Jhonson Maseri, salah seorang tokoh adat dayak pegunungan Meratus.
Ritual batandik yang diiringi nyanyian dan tetabuhan gendang serta gemerincing gelang kaki balian ini berlangsung selama dua hari tanpa henti. Batandik menjadi tanda dimulainya prosesi upacara aruh basambu (pesta adat) menyongsong musim berladang.
Ritual menari dengan memutari balai adat yang dipimpin seorang damang (kepala suku)ini, di dalamnya berisi pembacaan mantra (bamamang), berupa lafal doa kepada dewa dan leluhur. Dulu, pesta adat suku dayak pedalaman Kalimantan ini, dilaksanakan lebih tradisional, dimana para balian maupun warga menggunakan pakaian adat.
Sekarang, para balian terlihat lebih modern karena boleh menggunakan pakaian modern meski tidak melupakan unsur sakralnya aruh ganal. Prosesi aruh basambu yang digelar pada akhir tahun ini, memakan waktu tiga hari. Puncak acara aruh adalah digelarnya pesta.
Aruh atau pesta adat suku dayak ini, juga digelar di sejumlah balai besar yang menjadi pusat komonitas suku dayak, tersebar di beberapa kabupaten. Di Kalsel terdapat 430 balai adat yang tersebar di sepanjang kawasan pegunungan Meratus.
Selain aruh basambu, warga dayak juga menggelar aruh ganal adalah pesta adat skala besar yang diikuti ribuan warga dari permukiman sekitar balai besar. Aruh ganal biasanya dilaksanakan usai musim panen, pada September-Oktober. Aruh ganal layaknya hari raya bagi warga suku dayak, karena pada hari itu warga menggunakan pakaian baru dan makan makanan yang enak-enak.

Terpinggirkan
Keberadaan aruh atau pesta adat yang merupakan salah satu kearifan masyarakat lokal ini, kurang mendapat perhatian dan seolah terpinggirkan. Padahal even ini, dapat menjadi even wisata yang unik dan cukup menarik bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara.
“Tidak hanya terhadap kegiatan aruh, pemerintah memang kurang pedulhai dengan nasib masyarakat pedalaman. Ini terlihat dari minimnya sentuhan pembangunan bagi warga dayak,” keluh Jhonson.
Kondisi kehidupan masyarakat suku dayak di kaki pegunungan meratus sangat sederhana dan masih tertinggal. Ratusan tahun mereka hidup mengandalkan alam dan belum tersentuh pembangunan. Beberapa komunitas masih terisolasi dan hanya sedikit yang mulai mengecap hasil pembangunan.
Bahkan image suku dayak yang kejam dan penuh magic masih kental terasa bagi warga perkotaan. Padahal sesungguhnya warga suku dayak sangat terbuka dan penuh tenggang rasa.
Populasi warga suku dayak di Kalsel diperkirakan mencapai 40.000 jiwa yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Populasi suku dayak terbanyak berada di sepanjang kaki pegunungan meratus wilayah Kabupaten Kotabaru, Banjar, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.
Suku dayak terbesar adalah dayak Bukit yang terbagi menjadi Dayak Pitap di Kecamatan Awayan, Balangan, Dayak Hantakan, di Kecamatan Hantakan dan Dayak Haruyan, di Kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah. Kemudian, Dayak Loksado, di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Dayak Piani, di Kecamatan Piani, Tapin, Dayak Paramasan, di Kecamatan Paramasan, Banjar.
Juga ada Dayak Riam Adungan dan Bajuin, di Tanah Laut, Dayak Bangkalaan, di Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru serta Dayak Sampanahan, di Kecamatan Sampanahan, Kotabaru.
Sementara, Zulkifli, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mengakui pemerintah daerah belum mampu melakukan promosi dan pengembangan kegiatan pesta adat aruh seperti even aruh ganal Erau di Kalimantan Timur. Sejauh ini pemerintah daerah baru mengembangkan obyek wisata alam Loksado yang juga berada di kawasan kaki pegunungan Meratus. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: