Rawa Siap Minum

Mengubah Air Rawa Menjadi Siap Minum

Penyediaan air bersih untuk keperluan hidup sehari-hari masih menjadi kendala mayoritas penduduk di provinsi kaya sumber daya alam Kalimantan Selatan. Karakteristik geografis yang didominasi lahan bergambut dan sungai memaksa warga harus mengkonsumsi air kotor.
Sudah dua bulan terakhir, kemarau melanda wilayah Kalsel. Seiring dengan kondisi itu warga mulai mengalami kesulitan dalam penyediaan air baik untuk keperluan hidup sehari-hari maupun lahan pertanian mereka.
Wajah Siti Bulkis,55 tampak memerah kehitaman dan sekujur kulit tubuhnya mengelam karena teriknya matahari. Siang itu Siti dan sejumlah warga Desa Panggalaman, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar sedang “berburu” air di tengah areal persawahaan yang mengering.
Warga terpaksa membuat sumur dan menggali lebih dalam saluran air di tengah sawah mereka yang mengering. Tak jarang air baru ditemukan di kedalaman belasan meter dari permukaan tanah.
Karena lapisan bawah tanah adalah tanah gambut, maka air yang keluar di lobang sumurpun berwarna kehitaman dengan tingkat kekeruhan tinggi. Meski demikian warga terpaksa mengandalkan air kotor tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari.
“Kadang-kadang dengan patungan kami membeli air bersih dari pedagang air di kota ,” ungkap Siti, tetapi warga lebih banyak mengandalkan air dari sawah mereka.
Di saat musim kemarau seperti sekarang ini, berburu air menjadi agenda utama warga desa setempat. Hampir seluruh waktu dihabiskan untuk mencari air, karena kegiatan pertanian pun praktis terhenti dan hanya menunggu saat panen.
Bagi kaum pria desa, saat seperti ini merupakan waktu mereka mencari pekerjaan sampingan di daerah lain, menjadi buruh bangunan atau pekerjaan serabutan lainnya.
Tidak hanya warga di Kecamatan Gambut, sebagian besar warga pinggiran di 13 kabupaten/kota di Kalsel masih menggunakan air dari rawa-rawa, sungai dan sumur. Seperti yang dijalani ribuan warga di pedalaman rawa Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Air rawa merupakan satu-satunya sumber air untuk keperluan sehari-hari, karena kendala lokasi permukiman yang sangat terpencil.
“Mayoritas warga di Kalsel masih mengkonsumsi air dari sungai dan rawa-rawa dengan kualitas yang rendah,” tutur Muslih, Direktur Teknik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Banjarmasin . Kecuali Banjarmasin yang mampu melayani 90 persen warganya, PDAM di 12 kabupaten/kota lainnya mempunyai tingkat pelayanan hanya 20 persen. Terlebih kondisi geografis warga bermukim di daerah terpencil dan sulit dijangkau.

Teknologi Karbon Aktif
Kendala penyediaan air bersih, menimbulkan inspirasi bagi kalangan akademisi di daerah. Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin , akhirnya menemukan sebuah teknologi yang bisa mengubah air rawa gambut menjadi siap minum.
“Kita menyebutnya teknologi karbon aktif untuk penjernih air,” kata Ketua Lembaga Penelitian Unlam Banjarmasin, Akhmad Kurnain. Dengan menempatkan karbon aktif, air kotor yang berasal dari rawa atau lahan gambut dapat berubah menjadi bersih dan bahkan siap minum.
Air gambut yang tidak layak dipakai untuk mandi dan mencuci dapat diolah menjadi air yang jernih dengan membuat sistem filter. Sistem filter ini terdiri dari pompa air, bak penampung air gambut, dan tabung filter. Ketiga komponen tersebut dihubungkan dengan pipa.
Dijelaskannya pula, tabung filter dibuat dari komposisi terdiri atas kerikil, pasir, busa, kertas filter, dan karbon aktif. Karbon aktif terbuat dari tanah gambut yang telah diaktivasi secara fisika dengan pemanasan pada rentang suhu 400oC sampai 500 oC.
Penggunaan karbon aktif pada sistem filter terutama untuk mengurangi kadar keasaman, mengurangi kadar logam, mengurangi bau dan mengurangi kekeruhan air. Keunggulan sistem filter ini adalah mengurangi kadar keasaman, kadar logam, kekeruhan, bau, dan rasa. “Manfaat sistem ini adalah memperbaiki kualitas air gambut sehingga dapat digunakan untuk air jernih yang layak pakai untuk minum maupun MCK,” paparnya.
Sayangnya teknologi yang mulai dirintis sejak 2007 oleh Fakultas Teknik, Unlam ini baru berupa prototype dan diterapkan pada skala kecil. “Kita telah memproses temuan ini untuk dipatenkan, sehingga ke depan dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat luas,” tambahnya.
Sekitar 40 persen atau 1,4 Juta hektar kondisi tanah di Kalsel adalah lahan basah atau lahan gambut. Artinya, daerah ini merupakan kawasan rawa karena tergenang air, baik secara musiman maupun permanen.
Lahan gambut mengandung pirit suatu mineral endapan marin pada tanah jenuh air, bahan organik dan sulfat. Saat kemarau endapan ini mudah teroksidasi membentuk pemasaman tanah dan melepaskan ion besi dan aluminium.
Kondisi ini membuat air dari lahan gambut sangat tidak layak dikonsumsi. Demikian juga dengan air dari sungai-sungai yang banyak diandalkan warga.
Menurut data Badan Lingkungan Hidup Daerah, menyatakan hasil penelitian yang dilakukan pihaknya di sejumlah lokasi sungai seperti Riam Kiwa dan Sungai Tabuk, mendapatkan hasil kandungan logam berat sangat tinggi.
Air sungai terbukti mengandung logam berat berupa Arsen (AS) dengan kandungan jauh diatas batas normal 0,005 Mg/Ltr. Logam berat arsenic merupakan racun yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.
Demikian juga dengan Mercury Mg, besi (Fe) serta kandungan ecoli mencapai 1.600 atau diatas batas normal 1.000. Kondisi ini memperlihatkan, sungai-sungai maupun air baku untuk konsumsi masyarakat di kalsel tidak layak dan berbahaya bagi kesehatan.
Muslih juga menyebutkan, tingginya tingkat kekeruhan sungai, membuat pihaknya harus mengeluarkan dana besar untuk proses penjernihan air. Karenanya dengan adanya teknologi penjernihan air ini, PDAM Bandarmasih akan merancang penggunaan karbon aktif dalam pengelolaan air untuk masyarakat. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: