Sasirangan di Kain Bangsawan

Sasirangan Busana Bangsawan yang Merakyat

Sejak abad ke 14 seiring berdirinya kerajaan Banjar, kain Sasirangan adalah kain yang disakralkan dan menjadi busana khusus kaum bangsawan kerajaan.
Salah satu yang khas dan menjadi trade mark provinsi Kalimantan Selatan adalah kain sasirangan. Kain mirip batik Jawa yang bercorakkan khas suku banjar ini menjadi andalan pemerintah daerah dalam pengembangan kepariwisataan dan ekonomi masyarakat.
Kain sasirangan menjadi oleh-oleh atau buah tangan bagi para tamu dan wisatawan yang datang ke Kalsel. Sebagian lagi dipasarkan berdasarkan pesanan ke luar daerah, bahkan kini pemerintah mewajibkan pemakaian kain sasirangan bagi kalangan pegawai negeri maupun dunia pendidikan.
Menurut sejarahnya, kain sasirangan berkembang sebelum abad 14. Waktu itu kain sasirangan dinamakan kain Langgundi yang memasyarakat di kalangan warga negara kerajaan Negara Dipa berpusat di Hulu Sungai Selatan.
Namun sejak abad 14, seiring munculnya kerajaan Banjar pertama, kain sasirangan dijadikan bahan busana kebesaran kaum kerajaan dan “terlarang” bagi rakyat jelata. Kain sasirangan dibuat melalui tenunan tangan dan proses sakral.
Bahkan, kain sasirangan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Dulu suku Banjar percaya, kain sasirangan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit,” tutur Akhmad Makkie, tokoh masyarakat Kalsel yang kini menjabat anggota Dewan Perwakilan Daerah RI .
Sebagai sarana pengobatan, kain sasirangan dipakai untuk ikat kepala, selendang, bebat (lilitan) perut maupun kain sarung. Hingga kinipun kepercayaan tersebut, masih dilakukan segelintir penduduk asli suku Banjar. Kain sasirangan juga digunakan dalam setiap kegiatan upacara adapt.
Menurut cerita rakyat kain sasirangan yang pertama dibuat saat Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit. Dalam pertapaannya ketika tiba di Kabupaten Tapin, sang Patih melihat seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, dia adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di negeri Banjar.
Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari serta kain hasil tenunan 40 orang putri dengan motif wadi.
Namun seiring perkembangan jaman, kain sasirangan kini telah merakyat, dipakai oleh semua kalangan, diperdagangkan secara luas, tetapi tetap menjadi kebanggaan kaum keturunan bangsawan (pegustian).

Bertahan di tengah badai krisis
Kain sasirangan yang dulunya hanya dikenal berwarna kekuningan dengan corak sederhana, dengan sentuhan designer lokal terus dikembangkan menjadi beraneka ragam corak dan warna, sesuai tuntutan pasar. Sedikitnya ada 17 corak atau motif sasirangan yang banyak dibuat.
Corak atau motif yang banyak dikenal di pasaran antara lain motif kulit kayu, sarigading, tampuk manggis, naga balimbur, bayam raja, iris pudak, kulat kurikit serta jumputan. Juga motif kembang kacang, daun jaruju, ombak sinampur karang, bintang bahambur dan parada.
Pembuatan sasirangan melalui berbagai tahapan dan melibatkan banyak tenaga kerja. Mulai dari pemotongan kain, melukis, merajut, membuat pola atau gambar hingga proses pewarnaan.
Semua proses ini dikerjaan oleh tenaga kerja berbeda. Berbeda dengan batik atau kain tenun daerah lain, yang bahan baku kainnya dibuat oleh tangan, sasirangan hanya mengandalkan bahan baku kain jadi.
“Potensi pasar sasirangan cukup besar, tetapi krisis yang terjadi beberapa waktu terakhir ikut mempengaruhi keberadaan usaha sasirangan,” ungkap Rahmani, pemilik usaha pembuatan dan penjualan kain sasirangan berlabel Rahmani Sasirangan di Km 7 jalan Akhmad Yani, Banjarmasin . Bahan baku kain jenis satin dan sutera yang menjadi andalan “batik” sasirangan harus didatangkan dari negeri China .
Harga bahan baku terus mengalami lonjakan, sementara harga penjualan tidak dapat dinaikkan karena dikhawatirkan akan mempengaruhi tingkat persaingan dengan kain sejenis khsususnya batik dari Jawa. Karenanya banyak pengusaha sasirangan lebih banyak mengandalkan pembuatan pesanan saja.
Saat ini ada sekitar 20 pengusaha dan ratusan pengrajin sasirangan yang masih bertahan di tengah badai krisis ekonomi.
Subardjo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel, menyebutkan produk kain sasirangan masih kalah bersaing dengan produk kain sejenis terutama batik. “Baik dari segi kualitas dan pemasaran kita masih ketinggalan,” katanya.
Karenanya kain sasirangan belum bisa menembus pasar ekspor secara resmi, kecuali lewat penjualan kepada wisatawan luar negeri dan kegiatan pameran. Subardjo mengaku, terus melakukan kegiatan pembinaan, pelatihan hingga pemberian modal demi membantu pengembangan industri sasirangan yang menjadi ciri khas Kalsel ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: