Seni Ukir Banjar

Seni Tatah Kian Tertatih

Raung suara mesin ketam dan bubut berbaur ketukan lembut besi pahatan, bagai alunan instrument yang merdu mengiringi aktifitas perajin ukiran khas banjar (penatah). Bengkel-bengkel ukir di sudut jalan Kampung Melayu, pinggiran Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan terlihat sibuk mulai pagi hingga petang hari.
Berbagai bentuk jenis ukiran khas suku banjar dipajang berjajar di depan bengkel kecil untuk menarik pembeli. Mulai dari ukiran angin-angin untuk ventilasi, dinding rumah hingga ukiran khas ornamen rumah banjar bubungan tinggi.
Ada pula ukiran dalam bentuk kaligrafi yang dibuat sesuai pesanan pembeli. Meski cuaca sangat panas siang itu, para perajin tetap tekun mengukir balok dan papan dari kayu jenis ulin menjadi ukiran berbagai bentuk.
Di bengkel “mandiri”, salah satu bengkel pembuatan ukiran khas banjar tampak tiga orang penatah sedang menyelesaikan ukiran yang dipesan warga dari provinsi tetangga, Kalimantan Tengah. Seorang perajin dengan terampil menggunakan mesin bubut untuk melobangi papan ulin sesuai motif yang digambarkan sebelumnya.
Perajin lainnya menggunakan mesin ketam untuk membersihkan papan, sehingga urat-urat kayu lebih terlihat. Dan perajin ketiga, begitu lincah memainkan pisau pahatan di tangan kanan dan palu kayu di tangan kirinya untuk menghasilkan seni ukir yang indah.
Ukiran dibuat sedetil mungkin, sehingga diperlukan waktu dua hari untuk menyelesaikan ukiran pada papan sepanjang tiga sampai empat meter. Proses pembuatan ukiran khas banjar sendiri dimulai dengan memilih balok atau papan yang berkualitas baik dan dicocokkan sesuai jenis ukiran akan dibuat.
Motif ukiran digambar dalam lembaran karton dan dijiplak ke permukaan kayu ulin yang akan diukir. Bagian-bagian yang harus dipotong dibuang menggunakan mesin bubut, serta mesin ketam berfungsi sebagai amplas.
Proses terakhir yang memerlukan waktu lama adalah mengukir atau menatah. Mengukir diperlukan keahlian khusus sehingga tidak semua orang bisa melakukannya.
Akhmad Sanusi,27 seorang penatah asal Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mengaku keterampilan mengukir yang dimilikinya diperoleh dengan belajar dari sejumlah pengukir handal di sejumlah daerah seperti Martapura, Amuntai dan Kuin.
“Diperlukan bakat dan ketekunan belajar untuk menjadi seorang penatah yang handal,” tutur Akhmad yang sudah belasan tahun menekuni profesi sebagai pengukir.

Lekang karena jaman
Seni ukir banjar, hidup dan berkembang pada jaman kerajaan dan kesultanan banjar. Ukiran-ukiran yang banyak dipengaruhi budaya hindu dan Islam tersebut dipergunakan antara lain untuk menghiasi dan menjadi ciri khas istana atau kediaman raja, disebut rumah bubungan tinggi.
Kediaman saudara dekat raja (gajah baliku), kediaman “pagustian” atau bangsawan (gajah manyusu), kediaman menteri dan punggawa (balai laki) serta, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh (balai bini).
Selain ukiran pada bahan kayu suku banjar juga mengenal ukiran pada logam (kuningan). Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian rumah dan masjid, bagian perahu hingga bagian nisan makam.
Sedangkan ukiran kuningan dibuat pada benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan dan sebagainya. Menurut pakar budaya Kalsel Syamsiar Seman, jenis ukiran khas banjar berjumlah lebih 50 jenis. Antara lain, bentuk pohon, kembang, bunga, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.
Akibat perkembangan jaman dan semakin langkanya bahan baku kayu ulin, seni ukir khas banjar ini terus terpuruk. Komunitas penatah dari waktu ke waktu tinggal segelintir orang saja, karena profesi ini tidak menjanjikan kesejahteraan kecuali hanya untuk bertahan hidup.
Banyak motif ukiran sudah hilang, demikian juga dengan peminat ukiran pun terus berkurang, kecuali untuk proyek bagunan pemerintah daerah, serta segelintir orang berpunya karena harga ukiran khas banjar tergolong mahal. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: