Sungai

Banjarmasin, Venesia dari Timur yang Terancam Mati

Banjarmasin pada masa penjajahan kolonial Belanda disebut sebagai East of Venesia (Venesia dari timur), sebuah kota di Italia dimana sungai menjadi jalur transportasi dan perekonomian masyarakat. Namun akibat modernisasi dan pembangunan yang berorientasi ke daratan, Venesia di Hindia Belanda ini terancam mati.
Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya, warna kehidupan masyarakat Kelurahan Sungai Baru, sebuah permukiman kumuh sepanjang tepi sungai di sudut Kota Banjarmasin berawal dari aktifitas di atas sungai. Kaum ibu sibuk mencuci baju dan beras untuk di tanak dan anak-anak mereka asyik menceburkan diri di sungai yang kehitaman.
Beberapa pedagang kue (wadai) dan sayuran melintas dengan menggunakan jukung (perahu), sembari menawarkan dagangan mereka kepada warga. Di sepanjang sungai yang menjadi bagian belakang rumah-rumah panggung warga berdiri puluhan jamban berbentuk bilik-bilik berukuran satu meter persegi.
Bangunan rumah yang berseberangan dibangun saling menjorok ke sungai, sehingga lebar sungai semakin menyempit. “Dulu sungai ini lebar dan dalam, tetapi sekarang nyaris hilang,” tutur Salman,45 warga Sungai Baru.
Salman yang berprofesi sebagai motoris klotok sewaan ini, mengeluhkan kondisi pendangkalan sungai karena mengganggu arus transportasi sungai. Potret kehidupan kumuh di sepanjang bantaran sungai ini, tergambar hampir di seluruh wilayah Banjarmasin , ibu kota provinsi Kalimantan Selatan.
Kota berjuluk seribu sungai ini terus kehilangan sungainya dari waktu ke waktu akibat perkembangan jaman. Sungai-sungai besar semakin menyempit dan sungai-sungai kecil menjadi mati.
Menurut catatan Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, hingga 2000 jumlah sungai besar dan kecil yang mengelilingi wilayahnya ini sebanyak 102 buah. Keberadaan sungai ini terus berkurang dan berdasarkan pendataan pada 2004 jumlah sungai berkurang 31 buah menjadi 71 sungai.
Sayangnya sebagian besar sungai yang terdiri dari
dua sungai besar, tujuh sungai sedang, 30 sungai kecil, dan 32 anak sungai dalam kondisi rusak parah. Tidak kurang 30 sungai kehilangan fungsi karena tersumbat akibat rapatnya bangunan, pengurukan, pendangkalan, buangan sampah, pencemaran limbah rumah tangga dan kegiatan berbagai usaha masyarakat, serta industri.
Hal ini tidak lepas dari kondisi pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk di kota seluas 72 kilometer persegi yang mempunyai jumlah penduduk 627.245 jiwa, dengan kepadatan 8.712 jiwa per kilometer persegi.
Pemerintah kota setempat telah membuat peraturan daerah (Perda) nomor 2/2007 tentang pengelolaan sungai yang melarang membuang sampah, limbah dan pendirian bangunan di bantaran sungai guna menekan laju kerusakan sungai. Penerapan Perda ini menjadi masalah tersendiri, mengingat budaya warga yang tidak bisa lepas dari sungai serta pemanfaatan sungai sebagai tempat pembuangan sampah raksasa.

Lomba Desain Sungai
Mengembalikan fungsi sungai dan membangun kembali Venesia of Hindia Belanda kini menjadi program utama kota yang sudah berusia hampir lima abad ini. Salah satunya dengan menggelar sayembara atau lomba membuat desain sungai berskala internasional, bekerjasama pusat pengkajian perencanaan dan pengembangan wilayah (P4W)-LPPM Institut Pertanian Bogor.
Tidak tanggung-tanggung pihak panitia menjanjikan hadiah total 25.000 US Dolar kepada pemenang lomba. “Melalui lomba ini kita memberi kesempatan bagi professional untuk menuangkan ide, gagasan dan rencana konseptual yang baru, original serta inovatif terkait perbaikan lingkungan fisik kota berbasis sungai,” kata Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta.
Sejauh ini sudah ada 32 konsep disain sungai dari berbagai Negara seperti Amerika, Jerman , New Zealand dan Belanda. Pemko Banjarmasin akan menjadikan desain terbaik sebagai acuan program pembangunan kota berbasis sungai di masa datang. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: