Tambang Sebuku

Sebuku, Pulau Kecil yang Terancam Tenggelam

Laju sebuah kapal motor penangkap ikan (balapan) yang berangkat dari Pulau Laut, ibukota Kabupaten Kotabaru terhenti ketika memasuki perairan hutan bakau Pulau Sebuku. Pekatnya air sungai berwarna kecoklatan, membuat mesin balapan mati.
Sang motoris, Syahranie,43 terpaksa mengangkat mesin tempel berkekuatan 4 tenaga kuda untuk diperbaiki. Balapan yang ditumpangi lima orang warga Desa Rampa, salah satu desa dari delapan desa di Pulau Sebuku itu, sempat terombang ambing beberapa lama, hingga akhirnya mesin kapal selesai diperbaiki.
“Ini akibat limbah tambang di atas sana,” ucap Syahranie dengan geram. Sudah sering kali mesin perahu motor nelayan rusak, akibat pekatnya air sungai yang diduga tercemar limbah tambang.
Tidak hanya itu, keluhan juga muncul dari nelayan lainnya yang mengeluhkan semakin menurunnya hasil tangkapan ikan dan udang di perairan selat sebuku. Beberapa waktu lalu, kolam penampungan limbah perusahaan penambangan biji besi PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) di Pulau Sebuku, jebol akibat tingginya curah hujan.
Meluapnya limbah tambang yang diduga mengandung logam berat ini, mencemari sungai dan merendami ratusan hektar areal pertanian warga. Kejadian serupa sudah berulang kali terjadi, termasuk tudingan pencemaran lingkungan akibat aktifitas penambangan batubara oleh perusahaan tambang PT Bahari Cakrawala Sebuku (BCS).
Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (Insan) Kotabaru, Arbanie, mengungkapkan kegiatan penambangan batubara dan biji besi di pulau sebuku berimbas kepada rusaknya lingkungan sekitar pulau. “Selain kondisi pulau yang rusak, kini kawasan perairan yang menjadi tumpuan mata pencaharian nelayan juga tercemar,” tuturnya.

Dikepung Tambang
Pulau sebuku, termasuk pulau kecil terletak di selat sebuku yang hanya mempunyai luas sekitar 225 Km persegi. Geografis pulau berstatus kecamatan dan berjarak 35 mil dari Kabupaten Kotabaru ini berbatasan dengan selat makassar.
Di sekitar pulau sebuku terdapat pulau-pulau kecil yang dikelilingi gugusan terumbu karang. Pulau Sebuku terdiri dari delapan desa yaitu desa Sekapung, Kanibungan, Mandin, Balambus, Sarakaman, Sungai Bali, Rampa, dan desa Ujung Tanjung Mangkok, dengan jumlah penduduk 6.300 jiwa.
Mayoritas warga pulau sebuku berprofesi sebagai nelayan tangkap dengan menggunakan alat tangkap lampara, rengge dan bagang, serta nelayan tambak yang tersebar di sepanjang pantai Pulau Sebuku. Selain nelayan sebagian warga juga berusaha di sektor pertanian dan perkebunan seperti kelapa, karet dan lada.
Seperti halnya wilayah lain di Kalsel, pulau sebuku juga mempunyai potensi sumber daya alam kelautan hingga galian tambang berupa batubara dan biji besi. Sektor pertambangan ini merupakan peluang bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan, sekaligus ancaman terhadap lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tambang.
Saat ini pulau sebuku telah dikepung empat perusahaan tambang masing-masing perusahaan tambang batubara PT Bahari Cakrawala Sebuku (BCS) dengan luasan areal konsesi 18.000 hektar dan tiga tambang biji besi group perusahaan PT Sebuku Iron Laterite Ores (SILO), seluas 8.000 hektar. Adapula, perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Minamas.
“Pulau kecil itu, jika terus dieksploitasi bukan tidak mungkin akan tenggelam. Hal ini terlihat mulai terjadinya interusi air laut ke daratan sebuku,” ungkap Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat.
Eksploitasi tambang batubara dan biji besi sejak era 1990an telah menimbulkan kerusakan lingkungan luar biasa dan merugikan masyarakat sekitar. Beberapa kasus konflik antara warga setempat dengan pihak perusahaan terjadi terkait pencemaran lingkungan dan hilangnya mata pencaharian warga delapan desa di pulau tersebut.
Kenyataannya gencarnya eksploitasi sumber daya alam di pulau sebuku, tidak memberi dampak kesejahteraan masyarakat sekitar. Mayoritas warga hidup dalam kemiskinan dan belum mampu menikmati hak-hak dibidang pendidikan, kesehatan, listrik serta air bersih secara baik.
Menurut catatan Walhi, aktifitas tambang batubara PT BCS berada di Kawasan Cagar Alam Selat Sebuku dengan status hanya pinjam pakai, seluas 1.050 hektar. Padahal berdasarkan SK Menteri Pertanian No 827/Kpts/Um/9/1981, tanggal 24 September 1981 Kawasan Selat Laut, Teluk Kelumpang dan Selat Sebuku ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Cagar Alam dengan luas 66.650 Ha.
Penunjukan kawasan ini bertujuan untuk melindungi habitat satwa liar yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi.
Pada bagian lain, Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, Rahmadi Kurdi, tambang. Pihaknya mendesak pemerintah daerah Kotabaru dapat meninjau ulang perijinan eksploitasi sumber daya alam di wilayah itu.
Setelah eksploitasi pulau sebuku yang banyak masalah, kini Pemkab Kotabaru justru berencana melakukan eksploitasi batubara di Pulau Laut, pulau terbesar di Kalsel. Setidaknya sudah ada lima perusahaan mendapatkan ijin eksplorasi pertambangan batubara di pulau yang sebelumnya terlarang bagi penambangan batubara ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: