Tanggui

Nipah si Pemberi Nafkah

Di teras depan sebuah rumah panggung yang sangat sederhana, di Kampung Simpang Anem, Kelurahan Kuin Selatan, sudut Kota Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan, terlihat dua perempuan setengah baya sedang asyik membuat anyaman. Sambil berbincang (bapandiran), tangan-tangan yang mulai keriput itu dengan cekatan mengayam daun nipah kering menjadi topi besar (caping) disebut tanggui.
Meski penglihatannya sudah mulai rabun dimakan usia, Rahimah, 68 si pemilik rumah sangat terampil mengayam daun nipah, bersama anaknya Nur Laila, 45. Mulutnya memerah, terlihat komat-kamit karena menguyah daun sirih.
Kurang dari satu jam, sebuah topi khas banjar atau tanggui ukuran sedang sudah jadi. “Dengan daun nipah inilah kami mencari nafkah,” tutur Nur Laila, dengan sedikit bangga walau kehidupan sebagai pembuat tanggui jauh dari sejahtera.
Keluarga Nur Laila sendiri, khususnya kaum perempuan secara turun temurun berprofesi sebagai pembuat tanggui. Sudah lebih dari sepuluh tahun dirinya menggeluti usaha mikro yang kini kian terancam akibat tergerus jaman.
Tanggui merupakan hasil kerajinan anyaman dari daun nipah berupa topi besar bundar (caping) yang berfungsi untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Pasaran tanggui mulai ramai terutama saat musim panen padi.
Selain banyak digunakan para buruh sawah ketika panen, tanggui banyak digunakan dan menjadi ciri khas pada pedagang di pasar terapung. Bahkan, topi khas suku banjar yang berbentuk parabola atau saji ini, diabadikan menjadi kubah mesjid raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin .
Sentra pengrajin tanggui tersebar di sepanjang tepi sungai Martapura dan DAS Barito di Banjarmasin dan sebagian di Kabupaten Tapin, serta Hulu Sungai Selatan. Namun dari waktu ke waktu, jumlah pengrajin tanggui terus berkurang.
Demikian pula dengan bahan baku daun nipah, semakin sulit dicari untuk mencukupi pesanan dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan tidak adanya budidaya pohon nipah, kecuali mengandalkan pohon nipah liar yang tumbuh di sepanjang aliran sungai. Sementara kerusakan DAS ikut mengancam keberadaan pohon nipah.
Cara membuat tanggui relatif sederhana. Bahan baku yang berasal dari daun nipah muda di jemur di bawah terik matahari hingga layu agar kuat. Kemudian di bentuk menjadi parabola dan diberi bingkat di tepinya.
Pada bagian tengah di beri selupu (topi purun) ukuran kecil sebagai pelapis. Setelah selesai tinggal di keringkan dengan cara di jemur. Kalsel yang merupakan daerah sentra pertanian, membuat pangsa pasar tanggui masih tetap bertahan.
Karena terbuat dari daun nipah, tanggui tak tahan air dan cepat rusak. Umumnya harya bisa bertahan satu sampai dua kali musim panen saja. Dalam sehari rata-rata pengrajin bisa membuat 15 buah tanggui.
Untuk satu ikat daun nipah yang di beli di kawasan pasar terapung, seharga Rp 1.000 dapat dibuat tiga buah tanggui. Sedangkan harga sebuah tanggui ukuran sedang dijual pengrajin kepada pedagang pengumpul berkisar antara Rp 2.500 dan Rp 5.000 untuk tanggui ukuran besar.
Bagi sebagian suku banjar, daun nipah juga banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan atap dan dinding rumah seperti daun rumbiah. Daun nipah dapat dibuat pembungkus makanan ketupat dan sebagainya.
Bentuknya yang unik dengan harga murah, membuat banyak wisatawan menyukai tanggui dan menjadikannya salah satu cinderamata khas ketika berkunjung ke Kalsel. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: