Transmigran

Perjuangan Panjang Transmigran Demi Air Bersih

Mimpi itu kini menjadi kenyataan. Perjuangan panjang ratusan keluarga transmigran asal Jawa yang ditempatkan di Desa Kambitin Raya, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, untuk mengatasi krisis air bersih berhasil sudah.
Kesenian khas Jawa, kuda lumping menjadi penyambut kedatangan rombongan konsultan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Mandiri Perkotaan, Departemen Pekerjaan Umum dan Worl Bank ke Desa Kambitin Raya, sebuah desa terpencil berjarak 15 kilometer dari ibukota kecamatan Tanjung.
Rasa penat rombongan setelah menempuh perjalan panjang hampir 300 kilometer dari Banjarmasin terobati. Pun demikian dengan warga sepertinya maklum dengan keterlambatan rombongan akibat kondisi jalan trans Kalimantan sebagian masih dalam kondisi rusak.
Senyuman ramah, jabat serta tepuk tangan mengiringi kedatangan rombongan ini. Hampir seluruh warga desa menghadiri kegiatan yang dibuat laksana pesta rakyat itu. Maklum, sangat jarang warga desa kedatangan tamu dari Jakarta .
Sunardi, Kepala Desa Kambitin Raya bergegas mempersilahkan rombongan yang dipimpin Desy, konsultan World Bank dari Jakarta memasuki balai desa tempat pertemuan berlangsung.
“Selamat datang rombongan dari Jakarta , silahkan mencicipi hidangan ala kadarnya,” ucapnya sembari menghidangkan aneka panganan hasil bumi warga seperti jagung, pisang dan kacang rebus. Tak lama setelah berbasa basi dan memperkenalkan diri, acara dialog yang dihadiri puluhan anggota Kelompok Swadaya Masyarakat se Kabupaten Tabalong ini dimulai.

Mimpi Jadi Kenyataan
Sunardi, sang kepala desa mendapat kesempatan pertama untuk berbicara menyampaikan unek-unek dan persoalan yang dihadapi desa mereka. Sejak pertama ditempatkan 1985 silam, para transmigran asal Jawa Tengah dan Jawa Barat ini sempat putus asa.
Betapa tidak lokasi transmigrasi yang diberikan pemerintah berada di daerah perbukitan tandus, berkapur dan terpencil. Masalah utama dihadapi warga adalah ketiadaan air bersih.
Sumur-sumur yang digali warga sedalam 20 meter pun tidak mengeluarkan air. Warga banyak mengandalkan air tampungan saat musim penghujan. Sumber air terdekat berada sekitar dua kilometer dari desa mereka yang berada di lembah terjal dan sulit dijangkau.
“Dulu setiap hari saya dan warga harus antri untuk mendapatkan air satu derigen (20 liter) dari sumber mata air di lembah sana ,” tutur Jumini,58 warga Desa Kambitin Raya. Kondisi yang memprihatinkan ini menyebabkan sebagian warga transmigran memilih pergi meninggal lokasi transmigrasi baik pulang ke Jawa maupun mencari pekerjaan di kabupaten lainnya.
Sekarang seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan warga desa terdiri 18 rukun tetangga dengan jumlah penduduk 769 kepala keluarga ini, sudah dapat menikmati air bersih. Bahkan warga secara gotong royong membangun 12 titik sumur untuk menopang kebutuhan air bersih seluruh warga.
Dengan menggunakan mesin pompa, air disedot dan dialiri ke lokasi penampungan di atas bukit. Yang unik dengan teknologi sederhana air dialiri di atas pepohonan karet dan selanjutnya dengan mesin pompa penunjang pada lokasi penampungan (intake) air dialirkan ke rumah-rumah warga.
Warga pun kini memiliki sebuah usaha pengeloaan air mirip PDAM, dimana warga diwajibkan membayar Rp 15.000 perbulan sebagai ganti pembayaran rekening listrik desa. Semua ini bermula dari turunnya bantuan dari PNPM Mandiri Perkotaan pada 2005, dimana Desa Kambitin Raya mendapatkan bantuan Rp 10 Juta atas proposal mengatasi krisis air bersih.
Selanjutnya secara bertahap wargapun mendapatkan berbagai bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum, channeling program dan kemitraan dengan berbagai perusahaan sekitar, sehingga nilai dana ditanamkan untuk pembangunan sarana air bersih mencapai Rp 250 Juta.

Penghargaan dari Presiden
Perjuangan panjang warga transmigran Desa Kambitin Raya untuk mendapatkan air bersih ini, berbuah pada penghargaan dari Presiden SBY dalam Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat (GKPM) Expo pada 16 Agustus mendatang. Hal serupa juga didapat kelompok swadaya masyarakat, di Provinsi Sumatera Barat.
Ketersediaan air tidak hanya mengatasi mampu mengatasi masalah kebutuhan hidup sehari-hari warga. Tetapi dengan adanya sumber-sumber air, kawasan desa perbukitan yang tandus itu kini berubah menjadi subur.
Karet dan palawija menjadi sumber mata pencaharian warga transmigran. Termasuk adanya kolam-kolam pembiakan ikan air tawar emas, nila dan patin yang mendongkrak perekonomian warga menjadi desa makmur. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: