Kampung Wisata

Geliat Ekonomi Warga di Kampung Wisata

Sebuah plang kecil terbuat dari papan kayu, bertuliskan Welcome to Kampung Wisata, berdiri di tapal batas antara Kelurahan Alalak Selatan dan Kuin Utara, wilayah utara Kota Banjarmasin.
Sepintas tidak ada yang berbeda, kondisi kehidupan warga yang bermukim di permukiman kumuh tepi sungai barito tersebut dengan kondisi setahun lalu, sebelumnya kawasan itu ditetapkan sebagai “Kampung wisata”. Jalan yang sempit, di sana sini dipenuhi lobang serta kehidupan warga miskin tinggal di permukiman kumuh menjadi pemandangan utama desa.
Anak-anak kecil bermain di tengah jalan tanpa takut akan kendaraan yang lalu lalang. Banyak pula anak-anak asyik bermain air di sungai yang hanya beberapa meter di belakang rumah mereka.
Yang sedikit berbeda adalah terlihat adanya aktifitas kaum dewasa pria dan wanita, sibuk mengerjakan aneka kerajinan yang mampu menopang perekonomian mereka. “Dulu warga di sini banyak menganggur, karena industri kayu terpuruk,” tutur Soleh,45 salah seorang warga Alalak Selatan di sela-sela kesibukannya membuat kerajinan perahu hiasan untuk dijual.
Mayoritas warga tepi sungai barito ini, sejak dulu mengandalkan mata pencaharian dari industri kayu skala kecil (bandsaw). Seiring semakin sulitnya bahan baku dan gencarnya operasi penertiban oleh polisi, industri kayu yang dulu mencapai ratusan buah kini hanya sedikit mampu bertahan.
Demikian juga dengan usaha transportasi sungai ikut tergerus, menyusul semakin berkurangnya jumlah pekerja industri kayu yang memanfaatkan jasa transportasi dengan perahu. Termasuk pula keberadaan pasar terapung yang selama ini memberi income warga tepi sungai juga semakin berkurang.
Kondisi warga tepi sungai barito indentik dengan kemiskinan. Namun perlahan tapi pasti, perekonomian warga tepi sungai ini mulai bergeliat. Rata-rata kaum perempuan di Alalak, kini mempunyai sumber mata pencaharian berbagai jenis kerajinan seperti pembuatan tanggui (caping), tenun batik khas banjar (sasirangan) hingga usaha lain seperti pembuatan cenderamata, kerupuk hingga gerabah.
Dari aneka usaha kecil yang kini digeluti, kaum ibu mampu mendapat penghasilan Rp 20.000 hingga Rp 30.000 perhari. “Sehari saya dapat membuat 10 buah tanggui yang dibeli pedagang Rp 2.000 sampai Rp 3.000 tergantung ukuran,” tutur Irma,25.
Sementara, kaum ibu yang menggeluti usaha merajut kain sasirangan, mengaku mendapat upah Rp 30.000 perhari dari pengusaha kain sasirangan.

Belasan desa wisata di Kalsel
Kampung wisata, tidak lepas dari upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama kementerian terkait dalam rangka percepatan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. “Sebuah bentuk sinergi antara program kepariwisataan dan PNPM mandiri,” tutur Hesly Junianto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin.
Pemerintah menilai sektor pariwisata merupakan instrumen efektif dalam upaya mendorong pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat. Setelah Alalak Selatan yang dijadikan kampung wisata, karena berdekatan dengan obyek wisata andalan pasar terapung pada 2009, pemerintah kembali menetapkan tujuh desa wisata di kalsel pada 2010 dan sebelas lainnya pada 2011 mendatang.
Adapun tujuh desa wisata baru setelah Alalak Selatan yang dianggap berhasil meliputi Kuin Utara dengan obyek wisata pasar terapung, rumah kuno khas banjar, makam Sultan Suriansyah dan wisata kuliner (soto banjar), juga Kampung Melayu dengan industri kain sasirangan (Banjarmasin). Kemudian desa-desa disekitar lokasi wisata religius andalan (makam keramat), seperti Kalampayan dan Barangian di Kabupaten Banjar.
Serta Desa Tanuhi, Haratai dan Kemiri di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan obyek wisata alamnya yang sudah dikenal hingga mancanegara. Bihman Mulyansah, Kepala Dinas Budpar Kalsel, menyebutkan kondisi kehidupan warga di sekitar lokasi obyek wisata masih tertinggal sehingga menjadi tujuan utama pemerintah untuk menanggulanginya.
“Tiap desa wisata akan mendapatkan bantuan Rp 100 Juta yang berasal dari dana APBN program PNPM bidang kepariwisataan desa wisata,” ucapnya. Keberhasilan program desa wisata ini sangat tergantung dari peran pemerintah daerah dan masyarakat itu sendiri.
Tujuan akhir dari pengembangan desa wisata ini adalah terwujudnya kawasan wisata andalan sehingga mampu memberikan kontribusi PAD bagi pemerintah. Disamping kesejahteraan warga sekitar lokasi obyek wisata. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 10, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: