Taksi Air Sungai Barito

Taksi Sungai Kian Terhimpit

Kerasnya tiupan angin laut disertai hujan membuat udara di tepi sungai barito, Kalimantan Selatan sangat dingin. Puluhan perahu motor (klotok) yang berlabuh di sepanjang sungai Kerokan, anak sungai barito, kawasan Trisakti Banjarmasin terombang ambing dan saling berbenturan.
     Perahu motor atau kerap disebut taksi air yang berhimpit-himpitan itu dibiarkan saja oleh pemiliknya, seolah tidak takut perahu akan mengalami kerusakan karena benturan dengan perahu lain. Sementara para motoris hanya duduk-duduk bersantai di dermaga klotok, menghabiskan waktu menunggu datangnya penumpang.
     Papan tulis hitam yang ditempel di depan dermaga bertuliskan tarif taksi air untuk berbagai tujuan tampak buram dan sebagian telah terhapus. Kantor pelabuhan tempat pelayanan administrasi penumpang taksi air juga nyaris roboh, dindingnya yang terbuat dari kayu itu bolong-bolong.
     “Setiap hari ya seperti ini, sepi tidak ada penumpang,” tutur Syaidilah,60 motoris taksi air sambil menghisap dalam-dalam rokok kretek dan menghembuskan asapnya ke udara. Lelaki paruh baya keturunan bugis ini menuturkan nasib dirinya dan para motoris taksi air yang kian terhimpit.
     Era 1980-an menjadi era keemasan bagi para motoris taksi air. Kala itu, kejayaan industri perkayuan di Kalsel ikut mendongkrak penghasilan para motoris. Masyarakat dan ribuan pekerja kayu yang sebagian besar tinggal di base camp dan sekitar kawasan industri kayu menjadi konsumen utama taksi air.
     Dermaga taksi air selalu dipenuhi calon penumpang yang antri untuk bepergian ke berbagai jurusan di wilayah Kalsel dan Kalteng. “Dulu para penumpang taksi air harus antri, kini posisinya terbalik,” tambahnya.
     Penghasilan hingga ratusan ribu rupiah perhari tidak sulit diperoleh para motoris. Sayangnya tidak semua motoris dapat memanfaatkan dengan baik masa keemasan itu. Seperti ungkapan uang mudah dicari cepat pulalah habis.
     Beruntung bagi Syaidillah, penghasilan yang lumayan dari usaha taksi air dapat digunakan untuk menyekolahkan tiga anaknya dan sebagian ditabung untuk hari tua. Kini dirinya dapat menuai hasil jerih payahnya, dimana anak-anaknya sudah mandiri dan dirinya pun memiliki tabungan yang lumayan.
     Tetapi bagi motoris lainnya, seperti Gatot,50 hanya bisa menyesal dan sebatas mengenang masa-masa kejayaan taksi air dulu. “Hura-hura, hiburan malam dan perempuan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kami, kerana uang saat itu tidak ada masalah,” tuturnya.
     Kini untuk mencari uang Rp 10.000 saja harus menunggu dua sampai tiga hari. Bahkan, para motoris tidak berani lagi mengambil penumpang regular atau perorangan, kecuali dicarter, karena takut merugi.
     Bagai diujung tanduk, nasib para motoris taksi air tinggal menunggu kejatuhan. Harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok yang terus melambung menjadi persoalan tersendiri bagi para motoris.
Sekitar 150 buah taksi air yang ada sudah berumur tua dan tidak pernah adalagi peremajaan. Perbaikan mesin dan body perahu sekadar agar taksi air dapat jalan. Sebagian motoris terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain, untuk bertahan hidup. Dan sebagian lainnya, mencoba tetap bertahan karena tidak punya pilihan lain. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 29, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: