Bencana Banjir

Ketika Alam Tidak Lagi Bersahabat
 
Usman,45 hanya bisa duduk terpaku di atas sebuah bongkahan kayu besar yang teronggok di bibir sungai Satui, tepat di lokasi bekas rumahnya. Dirinya tampak tertegun melihat arus sungai yang masih mengalir deras melintasi kampung mereka.
     Seakan meratapi nasib, dari mulutnya terucap keluh, “Ya Allah, begitu berat cobaan engkau berikan kepada kami”. Sang istri dan dua anaknya juga tidak kalah gelisah, memikirkan dimana mereka akan berteduh dan bagaimana mereka akan melanjutkan hidup.
     Beberapa waktu lalu, banjir besar menghantam kampungnya Desa Satui Barat, Kecamatan Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu. Meluapnya sungai Satui karena tingginya curah hujan, disertai datangnya air bah dari bagian hulu membuat puluhan rumah warga yang berada di dataran rendah sepanjang tepi sungai nyaris tenggelam.
     Bahkan, banyak rumah penduduk yang terbuat dari kayu rusak dan hanyut terseret arus sungai. Salah satunya rumah Usman yang hilang bersama seluruh harta benda mereka.
     Alam tidak lagi bersahabat. Bencana banjir telah memporakporandakan desa dan perekonomian warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Tidak hanya kali ini, banjir selalu datang menghampiri setiap tahunnya.
     Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, wilayah-wilayah dataran rendah sepanjang daerah aliran sungai pada 13 kabupaten/kota di wilayah ini merupakan daerah rawan banjir dan tanah longsor. Artinya seluruh wilayah Kalsel merupakan daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor.
     Zainal Ariffin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, mengungkapkan tidak hanya rawan bencana  bahkan, sejumlah daerah di Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Balangan, Tanah laut, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Barito Kuala, menjadi daerah langganan banjir terparah dan sudah tidak layak lagi dihuni.
     Sayangnya masalah relokasi warga yang bermukim di daerah rawan bencana ini menjadi terkendala, terkait ketiadaan dana pemerintah daerah serta keengganan warga. “Banyak warga enggan di relokasi karena budaya mereka hidup dan mencari nafkah dari sekitar sungai,” tuturnya.
     Bencana banjir akhir Juli lalu, melanda sebelas desa sekitar tambang di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Danau, Karang Bintang dan Kusan Hulu, di Kabupaten Tanah Bumbu. Tercatat lebih dari 4.000 rumah warga terendam banjir dan sebagian besar terpaksa mengungsi.  Banjir juga menyebabkan empat orang tewas dan empat lainnya hilang akibat terseret arus sungai.
Banjir juga melanda sedikitnya 600 rumah warga di wilayah Kecamatan Kintap dan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. Hal yang sama juga menimpa warga di sebagian wilayah Kotabaru dan Tapin.
 
Kerusakan Lingkungan
Manager Kampanye WALHI Kalimantan Selatan, Dwitho Frasetiandy mengatakan, pemerintah tidak pernah mau belajar, karena banjir telah terjadi berulang-ulang. ”Maraknya penerbitan ijin tambang dan pembukaan lahan sawit menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan dan memicu terjadinya bencana banjir,” tuturnya.
     Kebijakan pengambilan manfaat dari sumberdaya alam, tidak memperhitungkan dampak secara ekologi serta sosial, sehingga merugikan masyarakat. Eksploitasi SDA yang tidak bertanggung jawab, menjadi penyebabkan terjadinya bencana.
     Sepanjang 2009, korban bencana alam ini mencapai 19.366 keluarga dan 20 orang diantaranya tewas. Banjir terjadi 21 kali dan taksiran total kerugian bencana alam mencapai Rp 52,2 Miliar. Dan pada 2010 ini sudah tujuh kali terjadi banjir dengan korban meninggal sebanyak delapan orang dan 36.672 rumah terendam banjir, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 18,5 Miliar.
     Gubernur Kalsel terpilih, Rudy Ariffin yang akan menjabat untuk kedua kalinya ini menyebutkan persoalan kerusakan lingkungan dan bencana kini menjadi fokus utama untuk dibenahi. Karena manfaat dari eksploitasi tambang ternyata tidak sebanding dengan dampak kerugian akibat bencana dan kerusakan lingkungan. (Denny Susanto)
    

~ oleh DennySAinan pada Agustus 4, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: