Pahlawan Terlupakan

-diajukan untuk tulisan 17an-
Alam Roh Basis Perjuangan yang Terlupakan

Sebuah tiang bendera terbuat dari kayu ulin (kayu besi) yang disambung dengan kayu gaharu setinggi delapan meter, masih tegak berdiri diantara rimbun semak belukar dan pepohonan rawa di Desa Paku Alam, Kecamatan Sei Tabuk, Kabupaten Banjar.
Merah putih yang sudah lusuh dan pinggirannya mulai sobek dimakan usia, tidak mampu lagi berkibar karena terhalang ranting pepohonan. Lokasi berdirinya tiang bendera yang dipancang pada 1947 itu, disebut alam roh markas perjuangan dan pelarian gerilyawan.
Di sini pertama kalinya sang saka merah putih berkibar di bumi Kalimantan (Borneo), bersamaan dengan deklarasi kemerdekaan Divisi IV ALRI pertahanan Kalimantan. Sekitar 5.000 pejuang waktu itu, berkumpul dan mengikuti upacara pengibaran merah putih.
“Di sebut alam roh karena wilayah ini dulunya, basis pertahanan dan makam para pejuang dari jaman penjajahan belanda hingga perang kemerdekaan,” tutur Haji Ismail, juru kunci alam roh. Lelaki yang sudah berusia 90 tahun ini, merupakan salah seorang pelaku sejarah, bagaimana pahit getirnya perjuangan melawan penjajah.
Ribuan pejuang yang terbagi-bagi dalam kelompok perlawan di bawah pimpinan Hasan Basry (kini berstatus pahlawan nasional), Daeng Lajeda, Kapten Mulyono, bahkan Ibnu Hajar di pedalaman Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, menjadikan desa paku alam menjadi markas besar perjuangan.
Di kawasan hutan yang kemudian disebut alam roh ini, para pejuang dari berbagai daerah bertemu, berkoordinasi merencanakan penyerbuan, sekaligus tempat paling aman untuk bersembunyi dari kejaran penjajah.
“Warga turut membantu perjuangan dengan menyediakan bahan makanan. Disini juga sebagian warga membuat senjata rakitan,” ucap Kai (kakek) Ismail, dengan penuh semangat menceritakan kisah perjuangan, bahkan sesekali dia terbatuk-batuk karena kondisi kesehatannya sudah menurun.
Dengan segala keterbatasan, para pejuang yang hanya berbekal bamboo runcing dan bedil rakitan, kerap melakukan penyerbuan konvoi dan benteng pertahanan belanda di benteng Tatas di Banjarmasin. Kini kawasan benteng tersebut sudah berubah menjadi kawasan Mesjid Sabilal Muhtadin dan Korem 101/Antasari.
Alam roh memang berkaitan dengan sesuatu yang gaib. Kawasan hutan yang berjarak sekitar enam kilo meter dari tepi sungai Martapura dan pasar terapung Lok Baintan ini diberi pagar gaib di ke empat sudutnya, sehingga pihak penjajah tidak dapat melihat.
Hingga kini masyarakat sekitar masih percaya dengan mitos gaib alam roh. Tidak jarang warga setempat dan orang luar yang masuk wilayah ini, dirasuki roh para pejuang.

Memprihatinkan
Tidak seperti namanya yang kesohor, kondisi alam roh sendiri sekarang ini sangat memprihatinkan. Hampir tidak ada perhatian pemerintah terhadap jerih payah serta pengorbanan para pejuang.
Pemerintah daerah hanya membangun sebuah monument proklamasi sederhana di tepi sungai, tetapi lokasi sesungguhnya yang layak dibangun monument khusus seperti alam roh sama sekali tidak tersentuh. “Seharusnya, monument itu dibangun di alam roh, sebagai bentuk penghargaan bagi pejuang,” cetus Kai Ismail, dengan nada kecewa dengan pemerintah daerah.
Selain sudah berubah menjadi hutan, di sekitar lokasi tiang bendera banyak ditemukan lobang galian oleh warga setempat. Hal ini terkait dengan mitos mengenai adanya harta karun berupa intan, milik pejuang yang dikubur di areal tersebut. Termasuk upaya pengambilan tiang bendera yang terbuat dari kayu gaharu karena harganya mahal.
“Pemerintah harus segera menyelamatkan kawasan bersejarah ini dan bila perlu menjadikan sebuah kawasan wisata, dengan membangun monument di alam roh,” tutur Khaidir Rahman, Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia. Sejak dikibarkan untuk pertama kali, tidak ada perhatian terhadap alam roh, bahkan para pejabat daerah pun tidak mengetahui keberadaan kawasan bersejarah ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Agustus 10, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: