Bisnis Penukaran Uang

Bisnis Pecahan Rupiah yang Menggiurkan

Puluhan penjajah uang pecahan berjejer di sepanjang jalan protokol Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin. Mereka sibuk melambaikan tangan sambil menggenggam beberapa bundel uang kertas ke setiap pengendara yang melintas di kawasan tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, aktifitas para penjajah pecahan rupiah ini semakin marak. Jalan Lambung Mangkurat sepanjang 300 meter dari depan Bank BNI 46 hingga gedung KNPI, dipadati para penjual rupiah pecahan yang berdiri dengan jarak tiap sepuluh meter.

Purwanto,35 salah seorang penjual pecahan di depan gedung DPRD Kalsel, mengaku bisnis “Money Changer” yang baru digelutinya ini menghasilkan keuntungan lumayan besar. “Awalnya saya cuma ikut saudara yang sudah beberapa tahun bisnis uang pecahan ini. Tetapi hasilnya lumayan juga buat lebaran,” tuturnya sambil tersenyum.

Purwanto yang sehari-harinya kerja sebagai satpam sebuah rumah sakit di Banjarmasin ini, rela menguras tabungan sebesar Rp 25 Juta sebagai modal. Uang pecahan yang dijajah umumnya terdiri dari pecahan seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu dan dua puluhan ribu rupiah.

Untuk satu bundel pecahan seribu isi Rp 100.000 dijual seharga Rp 110.000. Sedangkan satu bundel pecahan dua ribu isi Rp 200.000 dijual Rp 115.000. Sementara pecahan dua puluh ribu isi Rp 2 Juta, para penjual mengambil keuntungan hingga Rp 120.000.

Yanti,30, penjual pecahan rupiah yang mangkal di depan kantor PLN Banjarmasin , mengaku setiap hari mampu menjual uang pecahan hingga Rp 10 Juta. “Setiap hari pasti habis, warga yang memesan pun banyak,” ungkapnya.

Dalam sehari, para penjual mampu meraup keuntungan bersih Rp 500.000 hingga Rp 1 Juta, tergantung modal. Bisnis ini umumnya berlangsung tiga pekan sampai H-1 sebelum lebaran.

Namun para penjajah pecahan rupiah ini, tidak mau disebut bisnis mereka sebagai jual beli uang, tetapi keuntungan yang mereka ambil adalah sebagai pengganti lelah. Karena seperti sekarang ini, loket penukaran uang di Bank Indonesia Banjarmasin , setiap harinya penuh sesak.

Bahkan, para penjual pecahan rupiah ini menukarkan uang untuk kemudian dijual kembali, harus melalui perantara calo yang juga memungut keuntungan tersendiri. Bagi warga yang memerlukan uang pecahan untuk kepentingan memberi sedekah, zakat dan keperluan lebaran, keberadaan penjual pecahan rupiah sangat membantu.

Pihak Bank Indonesia , sebenarnya melarang praktek jual beli uang tersebut. Namun pihaknya tidak bisa menindak sepanjang tidak merugikan masyarakat. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah masyarakat yang menukarkan uang pecahan meningkat tajam terutama selama bulan ramadhan menjelang lebaran,” ucap Andi Widianto, Humas Bank Indonesia , Banjarmasin .

Menurut catata BI, selama ramadhan ini jumlah penukaran uang pecahan di Kalsel sudah mencapai Rp 20 Miliar lebih. Angka ini diprediksi akan terus bertambah. Tahun sebelumnya, penukaran uang pecahan selama ramadhan mencapai Rp 51 Miliar. Secara keseluruhan BI telah menyiapkan penukaran uang pecahan hingga Rp 2,4 Trilyun.(Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada September 4, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: