Situs Candi Agung

Ritual Tawaf di Situs Kerajaan Negara Dipa

Puluhan orang berjalan beriringan mengitari bangunan segi empat berukuran 1×2 meter yang terbuat dari susunan bata merah setinggi 30 centimeter. Dari mulut mereka sayup-sayup terdengar lantunan shalawat diucapkan tanpa henti sampai ritual “tawaf” tersebut selesai tujuh putaran.
Pada bagian akhir warga yang datang dari berbagai pelosok daerah itu duduk bersimpuh, berdoa dan meletakkan untaian bunga rampai di atas bebatuan bangunan utama situs Candi Agung. Di luar bangunan candi sudah menunggu rombongan warga lain yang bersiap melakukan ritual serupa.
“Warga percaya doa dan hajad mereka akan terkabul dengan melakukan ritual mengelilingi candi agung. Tetapi semuanya tak lepas dari kuasa Allah Swt,” tutur Rahmadi,52 juru kunci Candi Agung.
Tidak hanya ritual berdoa di dalam candi, warga juga mempercayai makbulnya doa di beberapa lokasi peninggalan kerajaan hindu yang dianggap keramat yang ada di sekitar komplek candi agung. Seperti mandi atau membasuh muka sambil berdoa dan berhajad pada situs tiang mahligai rumah Putri Junjung Buih.
Hal serupa juga dilakukan di lokasi tepi sungai yang disebut telaga darah yaitu lokasi pertempuran Patih Lambung Mangkurat dan lokasi dermaga Perahu Prabayaksa. “Tujuan utama warga yang datang ke lokasi candi agung ini adalah melakukan ritual seperti itu,” ucap Rahmadi yang sudah bekerja menjaga situs candi agung selama 20 tahun terakhir.
Ada satu ritual lain yang cukup unik adalah menaruh lidi di lokasi pertapaan Pangeran Suryanata. Ritual ini berupa, sebatang lidi yang dipotong seukuran jengkal jari, kemudian ditanam di lokasi pertapaan.
Setelah melafalkan doa dan shalawat, serta berhajad (keinginan), lidi yang ditanam diambil kembali dan diukur dengan jengkal tangan. Apabila ukuran lidi lebih panjang dari jengkal tangan, maka doa dan keinginan dipercaya akan terkabul dan sebaliknya.
Di lokasi komplek candi agung juga terdapat museum yang menyimpan berbagai artepak peninggalan kerajaan Negara dipa, seperti senjata, gerabah dan artepak lainnya selain koleksi di museum Lambung Mangkurat banjarbaru.

Situs Peninggalan Kerajaan Hindu
Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu terletak di Desa Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (240 Km dari Banjarmasin). Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi, pada jaman Kerajaan Majapahit.
Bangunan utama candi berukuran 20×20 meter dan luas areal candi yang kini menjadi situs keperbukalaan seluas tiga hektar itu, diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bangunan candi terbuat dari batu bata merah.
Menurut sejarahnya, keberadaan candi agung ini berkaitan erat dengan kerajaan Hindu Negaradipa yang berdiri pada 1438 di persimpangan tiga aliran sungai yaitu sungai Tabalong, Balangan, dan Negara. Kerajaan ini diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat.
Selain candi agung, di Kalsel juga terdapat situs candi lainnya yaitu Candi Laras yang terletak di Kecamatan Candi Laras, berjarak sekitar 30 Kilometer dari Kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin. Candi Laras merupakan peninggalan Kerajaan Hindu Syiwa dengan rajanya Raden Panji Sari Kaburangan.
Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.
Setiap harinya, kedua candi ini banyak dikunjungi warga dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kalsel tetapi juga daerah lain di Kalimantan dan pulau Jawa. Khusus pada saat libur lebaran kemarin, jumlah pengunjung situs candi agung misalnya mencapai 3.000 orang perhari. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada September 15, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: