Transportasi Sungai

Klotok Akomodasi Utama Mudik ke Pedalaman

Suasana di dermaga Pasar Sudimampir, Banjarmasin dipadati puluhan perahu motor (klotok) berbagai jurusan daerah pesisir dan pedalaman Kalimantan Selatan. Klotok menjadi akomodasi utama, menjangkau wilayah pedalaman.
Seorang perempuan paruh baya, tampak kesulitan menembus kerumunan penumpang lainnya saat akan menaiki perahu motor yang terombang ambing diterpa gelombang sungai di tepi dermaga. Bersama dua anaknya yang masih kecil, Rohimah,52 warga Aluh-aluh, sebuah wilayah pesisir di Kabupaten Banjar ini habis berbelanja keperluan lebaran.
Sebuah karpet yang sudah dilipat, terapit di panggul kiri, sedang tangan kanannya menenteng tas belanja berisi kue kering dan sirup. Dua anak lelaki dan perempuannya juga menenteng,tas belanjaan berisi baju lebaran.
Seolah tak mau ketinggalan momen idul fitri sebentar lagi, para penumpang lainnya juga melakukan aksi borong aneka kebutuhan, termasuk membeli kasur, kursi dan lemari yang ditaruh diatas klotok.
Beberapa hari terakhir menjelang lebaran, tak ubahnya dengan pelabuhan penumpang antar pulau, dermaga penyeberangan Sudimampir penuh sesak penumpang. Mereka adalah warga pedalaman Kalsel yang datang ke Banjarmasin, ibukota Kalsel untuk berbelanja keperluan lebaran.
Sebagian dari mereka adalah pedagang dan sebagian lagi adalah warga pedalaman yang bekerja di Banjarmasin dan akan mudik ke kampung halaman. Setiap hari puluhan klotok hilir mudik singgah di dermaga Sudimampir yang letaknya persis di pusat perbelanjaan dan berangkat mengarungi sungai barito menuju wilayah-wilayah pedalaman. Bagi sebagian warga mudik menggunakan perahu motor masih menjadi pilihan utama.
“Warga pedalaman memang berbelanja dan mudik menggunakan klotok, karena untuk menjangkau kampung mereka lebih mudah lewat sungai,” tutur Arbain, 40 seorang sopir klotok jurusan Aluh-aluh. Aluh-aluh merupakan daerah terpencil dan berada di pesisir laut Jawa, masuk wilayah Kabupaten Banjar.
Diperlukan waktu hingga dua jam menggunakan perahu motor, dengan ongkos Rp 20.000 perorang. Sementara jika melalui jalur darat memerlukan waktu lebih lama dan melalui kondisi jalan yang sebagian rusak parah. Bahkan beberapa rumah warga yang berada di muara sungai barito tidak dapat ditembus jalur darat.
Sebagian wilayah pedalaman di kalsel seperti Tabunio, Kabupaten Tanah Laut, Aluh-aluh, Kabupaten Banjar, Tabunganen dan Kuripan, Kabupaten Barito juga Margasari, Kabupaten Tapin, serta beberapa daerah pedalaman rawa di Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara belum tersentuh jalur darat hingga kini masih
mengandalkan angkutan sungai sebagai sarana
transportasi dan angkutan barang.

Kebutuhan Pokok Sulit
Keterisolasian ini di sisi lain menyebabkan kebutuhan pokok di pedalaman sulit diperoleh dan harganya tinggi. Sementara, Kota Banjarmasin merupakan sentra perdagangan utama di wilayah Kalsel dan sebagian Kalimantan Tengah.
Setiap harinya baik warga maupun pedagang dari berbagai
penjuru daerah, datang ke pasar-pasar penyedia bahan
kebutuhan pokok masyarakat seperti Pasar Baru, Harum
Manis dan Pasar Lima di Banjarmasin, untuk membeli
eceran dan partai aneka barang dan kebutuhan pokok
yang kemudian dijual kembali di daerah.
Distribusi sembako ke wilayah pedalaman ini, umumnya
hanya satu sampai dua kali seminggu. Dan biasanya
tergantung pada hari pasar, karena sebagian pedagang
keliling menggunakan kapal-kapal besar atau bus air
untuk membawa barang jualannya ke pedalaman. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada September 15, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: