Eco Tourisme

Wisata Alam Dalam Ancaman Kerusakan Alam

Hari baru menunjukkan pukul 05.00 Wita pagi, ketika panitia kegiatan membangunkan para peserta tour dari tidurnya di sebuah pondokan sederhana di lokasi obyek wisata pemandian air panas, Desa Tanuhi, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Padahal para peserta tour yang sebagian adalah wisatawan mancanegara itu, baru tertidur kurang dari tiga jam setelah pada malam harinya menghadiri upacara penyambutan dari masyarakat suku dayak dan Bupati setempat.

Pagi itu, rombongan International Eco Tourism Busines Forum and Mart 2010 dari berbagai daerah dan mancanegara diajak melakukan fun trip dengan menyaksikan kegiatan warga lokal menyadap karet. Aktifitas masyarakat lokal menyadap karet yang menjadi mata pencaharian utama warga selain ladang berpindah, rupanya mendapat perhatian dari wisatawan.

Bergiliran para bule dari negari Jerman, Belanda, Korea Selatan dan Malaysia, mencoba menyadap karet. “Menyadap karet dianggap sebagai petualangan yang unik bagi turis mancanegara,” tuturnya Akhmad Ariffin, salah seorang panitia kegiatan dari Forum Pariwisata Kalimantan Selatan.

Pagi menjelang siang, perjalanan rombongan eko wisata ini dilanjutkan mengunjungi balai adat Malaris dan permukiman penduduk suku dayak di kaki pegunungan Meratus. Agak disayangkan, harapan wisatawan untuk melihat eksotisme kehidupan suku dayak yang masih primitive tidak bisa dijumpai, karena warga suku dayak di sini tidak lagi berdiam di rumah balai.

Demikian juga kondisi kehidupan mereka sudah cukup modern, meski dilingkupi berbagai keterbatasan akibat minimnya pembangunan. Acara puncak kegiatan fun trip para peserta yang berasal dari kalangan industry pariwisata dalam dan luar negeri ini adalah arung jeram menyusuri sungai Amandit menggunakan rakit bamboo atau dikenal dengan bamboo rafting.

Bagi wisatawan lokal apalagi mancanegara, petualangan treckling (jalan kaki) dan kemudian dilanjutkan dengan menaiki rakit bamboo, sembari menikmati pemandangan alam, merupakan hal yang luar biasa. Derasnya arus sungai yang berbatu, menjadi tantangan tersendiri dalam petualangan bamboo rafting.

Balanting paring, begitu warga banjar menyebutnya cukup unik karena hanya menggunakan rakit bamboo sederhana, berbeda dengan olah raga arung jeram umumnya yang menggunakan perahu karet dan berbagai alat keselamatan lainnya. Karena terbuat dari rakit bambu, maka para petualang arung jeram tradisional ini, harus berdiri dengan dibekali gala bambu.

Sepanjang perjalanan, wisatawan disuguhkan dengan pemandangan indahnya alam berupa gunung dan hutan, ladang dan permukiman masyarakat suku dayak di sepanjang tepi sungai Amandit, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Ancaman kerusakan alam

Pandangan mata peserta bamboo rafting cukup terusik dengan sampah-sampah pepohonan di sepajang tepi sungai. Beberapa buah jembatan gantung yang merupakan jalur transportasi utama warga lokal putus dan sejumlah rumah warga di tepi sungai hancur.

Dua pekan berselang, banjir bandang menerjang sedikitnya lima desa di Kecamatan Loksado, menyusul meluapnya sungai Amandit yang berhulu di pegunungan Meratus. Degradasi kawasan hutan pegunungan Meratus, akibat pembabatan dan alih fungsi hutan untuk berbagai kegiatan perkebunan dan pertambangan, disinyalir menjadi pemicu utama bencana banjir, selain cuaca buruk.

Tidak hanya lokasi wisata alam Loksado, sejumlah lokasi wisata alam lain di Kalsel di beberapa kabupaten seperti Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Kotabaru dan Tanah Bumbu dilanda bencana. Bahkan, tujuh pelancong lokasi wisata air terjun Kinarum, Kabupaten Tabalong menjadi korban diterjang air bah. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, bencana yang melanda lokasi wisata alam di kalsel sudah sering kali terjadi dan menjadi ancaman serius bagi warga.

Forum Pariwisata Kalsel, mendesak upaya percepatan pemulihan kondisi kerusakan lingkungan sekitar pegunungan Meratus untuk menjaga eksistensi obyek wisata andalan Kalsel ini. Pemerintah diminta untuk menjadikan kawasan pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional, sehingga ekosistem dan keragaman hayati dapat terjaga.

Hal serupa juga dikemukakan, Surya Yoga, Staf Ahli bidang Pranata Sosial, Kementrian Pariwisata yang mengakui kondisi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim menjadi ancaman bagi perkembangan pariwisata tanah air. Tak terkecuali, masih kurangnya kepedulian pemerintah daerah dalam memajukan industry pariwisata yang dapat dilihat dari buruknya infrastruktur obyek wisata tanah air.

“Kerusakan alam menjadi ancaman serius bagi perkembangan pariwisata kita,” ucapnya. Meski demikian pemerintah tetap menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak tujuh juta orang pada 2010 ini.

Kini pemerintah melahirkan konsep pengembangan wisata alternative yang disebut eco tourism yaitu konsep perjalanan wisata berbasis alam dan budaya lokal. Kalimantan dianggap menjadi surge ekowisata ini. Tetapi kerusakan alam di pulau berjuluk Borneo ini, menjadi ancaman pengembangan wisata alam. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 1, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: