Jeruk Siam Banjar

Siam Banjar Bertahan Ditengah Anomali Iklim
JK, (2010):

Suasana pasar terapung Lokbaintan, Kabupaten Banjar tetap ramai meski hujan yang turun sejak malam tak kunjung berhenti. Puluhan pedagang dengan menggunakan jukung (perahu) seolah tak menghiraukan guyuran hujan membasahi tubuh dan barang bawaan mereka.

Guyuran hujan, membuat permukaan sungai Tabuk, anak sungai Martapura yang menjadi lokasi pasar terapung sedikit bergelombang. Kondisi ini mengharuskan para pedagang yang mayoritas adalah kaum perempuan ekstra hati-hati agar tidak terbalik.

Berbeda dengan pasar terapung Kuin, Banjarmasin, pasar terapung Lokbaintan merupakan tempat transaksi dan barter hasil bumi serta buah-buahan lokal. Bulan-bulan seperti sekarang, buah-buahan lokal seperti jeruk, nenas, kuini (sejenis mangga), buah kapul, hingga kecapi adalah komoditas utama yang diperdagangkan.

“Siam Banjar”, nama jeruk lokal yang berasal dari kebun rakyat di wilayah Kabupaten Banjar dan Barito Kuala begitu mendominasi. Dijual dengan harga Rp 45.000-Rp 50.000 perkeranjang, jeruk siam banjar banyak dibeli para pengumpul maupun pengunjung pasar terapung.

“Tahun ini musim panen jeruk tidak sebanyak tahun lalu, begitu juga dengan buah-buahan hutan lainnya,” ucap Hamsiah,50 pedagang pasar terapung. Padahal keberadaan pasar terapung sendiri sangat bergantung dengan musim panen buah-buahan lokal.

Cuaca buruk, berupa banjir dan perubahan iklim yang mempengaruhi panen sangat berpengaruh pada kegiatan pasar terapung. Hal serupa dikemukakan, Haji Fadli, 60 seorang petani jeruk di Desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar.

Dalam beberapa tahun terakhir, areal pertanian termasuk tanaman jeruk petani kerap dilanda banjir. “Cuaca buruk membuat hasil panen menurun dan kualitas buah jeruk pun tidak sebagus dulu,” tuturnya.

Haji Fadli yang menjadikan komoditas jeruk menjadi mata pencaharian utama keluarganya di lahan seluas empat hektar, mengaku merosotnya hasil panen jeruk hingga 50 persen. Dulu saat iklim masih normal, tiap pohon jeruk siam banjar berbuah hampir sepanjang tahun dan mampu menghasilkan hingga satu kuintal setengah buah jeruk.

Disamping itu, cuaca buruk menyebabkan tanaman jeruk terutama usia muda rentan serangan penyakit seperti CVPD, jamur dan mati kering karena akar terendam banjir.

Sukandi,45 warga transmigran asal Pulau Jawa yang sukses dengan menanam jeruk Siam Banjar, di Kecamatan Mandastana, Barito Kuala, mengatakan menjadi petani jeruk cukup menjanjikan, walau dihadapkan pada masalah penyakit dan cuaca buruk. Dari enam hektar tanaman jeruk miliknya, sepanjang 2010 ini sudah menghasilkan tidak kurang dari 100 ton jeruk yang dipasarkan hingga ke luar kalsel dengan harga Rp 4.000 perkilo.

Buah lokal andalan Kalsel

Jeruk Siam Banjar, merupakan komoditas buah lokal andalan Kalimantan Selatan. Walau belum setenar nama jeruk Pontianak, produksi jeruk Siam Banjar, sudah menembus pangsa pasar hingga Pulau Jawa seperti Surabaya dan Bandung.

“Siam Banjar punya ciri khas tersendiri dan dapat bersaing dengan buah jeruk daerah lain, bahkan produk import. Di berbagai ajang kontes buah, Siam Banjar kerap memenangkan kejuaraan,” tutur Yonanes Sriyono, Kepala Dinas Pertanian Kalsel.

Jeruk Siam Banjar banyak digemari karena jeruk ini memiliki kandungan air buah yang tinggi, sehingga mempunyai cita rasa buah manis dan segar. Performa fisik buah yang besar, kulit buah luar mengkilap dan mudah dilepas dari daging buah serta warna buah matang kekuningan mengkilap menjadikan buah ini menjadi pilihan konsumen.

Di Kalsel pengembangan komoditas jeruk siam banjar sudah ada sejak 2003 lalu. Empat kabupaten yaitu Barito Kuala, Banjar, Tapin dan Hulu Sungai Selatan merupakan sentra pengembangan komoditas jeruk dan dicanangkan sebagai wilayah agropolitan.

Hingga kini luas tanaman jeruk di kalsel diperkirakan mencapai 10.000 hektar. Pengembangan komoditas jeruk siam banjar terbesar berada di Barito Kuala dengan luasan tanam diperkirakan 7.094 hektar.

“Tanaman jeruk yang sudah panen seluas 4.023 hektar dengan produksi 740.514 kuintal pertahun,” ucap Zulkifli, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Barito Kuala. Diakuinya selain serangan hama, ancaman gangguan iklim menjadi momok bagi sekitar 5.000 petani jeruk di wilayahnya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 1, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: