Permukiman

Nyatanya Bisnis Real Estate di Kalimantan
JK, (2010):

Ledakan penduduk, ancaman bencana di Pulau Jawa dan bergulirnya wacana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan menggiring pelaku usaha industri perumahan berekspansi.

Puluhan stand pameran perumahan yang berlangsung di sebuah mall di Kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan, penuh sesak pengunjung. Ratusan warga dari berbagai daerah, termasuk provinsi tetangga Kalimantan Tengah setiap harinya datang pada kegiatan pameran industry perumahan yang disebut-sebut terbesar tahun ini.

Tercatat 29 developer perumahan di kalsel hingga developer skala nasional seperti Ciputra dan Aston Internasional mengikuti ajang pameran bertajuk Real Estate Exibhition 2010 ini. “Minat warga cukup tinggi untuk memiliki rumah, ini dapat dilihat dari jumlah warga mengunjungi pameran membludak,” tutur Amelia,25 sales refhresentatif PT Banua Mandiri, sebuah developer perumahan kelas menengah ke bawah.

Rumah-rumah type kecil atau sederhana 36 dan 45 menempati posisi teratas buruan warga. Harga yang ditawarkan untuk rumah type ini berkisar antara Rp 75 Juta hingga Rp 150 Juta. “Tidak murah memang, tetapi laku seperti kacang goreng,” ucap Amel sembari mengungkapkan selama pameran berlangsung selama empat hari, nilai transaksi perusahaannya mencapai Rp 2 Miliar lebih.

Tidak hanya perumahan untuk kalangan menengah ke bawah, rumah-rumah real estate dengan harga fantastis termasuk rumah toko juga laris manis. Panitia penyelenggara dari pihak DPD Real Estate Indonesia Kalsel, mencatat transaksi keseluruhan pameran menembus angka penjualan Rp 50 Miliar.

Yang cukup menarik dari pameran perumahan ini adalah hadirnya developer skala besar menawarkan apartemen dan kondominium hotel (kondotel). Donny M, Manager Pemasaran apartemen Grand Banua ini, menyebut dalam tiga bulan masa promosi sudah 30 persen apartemen dengan patokan harga mulai Rp 400 Juta hingga Rp 4 Miliar terjual.

“Kalsel merupakan pangsa pasar menjanjikan bagi bisnis real estate, termasuk konsep apartemen seperti kota metropolitan,” tuturnya. Terus membaiknya perekonomian warga serta bermunculannya para pengusaha di sektor pertambangan merupakan konsumen utama real estate mewah.

Di sisi lain, tanah dan proferty menjadi bisnis investasi cukup menjanjikan, selain investasi emas yang banyak diminati masyarakat Kalsel. “Masyarakat Kalsel memang sangat menyukai investasi proferty. Ini terbukti dari kepemilikan real estate dan apartemen warga kalsel di kota-kota besar seperti Jakarta,” tambahnya.

Menurut catatan REI Kalsel dalam setahun tidak kurang 6.000 unit perumahan type sederhana dan ratusan unit rumah real estate habis terjual. “Nyatanya” bisnis property di tanah kalimantan menjadi bidikan banyak perbankan untuk menggeluti segmen ini.

Bank Tabungan Negara selaku pemain lawas dalam bisnis property di tanah air, pertahunnya mampu mengucurkan kredit perumahan lebih dari Rp 250 Miliar. Kini persaingan antar perbankan dalam menarik konsumen perumahan semakin ketat.

Peneliti Madya bidang Ekonomi Moneter, Bank Indonesia Banjarmasin, Taufik Saleh, menyebutkan tingginya laju pertumbuhan penduduk diiringi tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat yang terus membaik, berpengaruh positif pada bisnis proferty. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan property di wilayah Kota Banjarmasin, ibu kota Kalsel sudah sangat padat.

Kini arah pertumbuhan permukiman penduduk mulai merambah daerah-daerah sekitar seperti Kota Banjarbaru, Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. Terlebih kebijakan pemindahan pusat perkantoran dari Banjarmasin ke Banjarbaru, memicu terjadinya laju pertumbuhan sarana perkantoran dan permukiman sangat pesat.

Krisis listrik dan bahan baku kayu

Dibalik cerahnya bisnis real estate di Kalsel ini, para pengembang yang juga “dibebani” kewajiban membangun permukiman untuk masyarakat berpenghasilan rendah (RSS dan RSH) dihadapkan pada masalah kondisi krisis listrik dan semakin sulitnya mendapatkan bahan baku kayu.

“Krisis listrik menjadi masalah utama para pengembangan, selain penyediaan fasilitas air bersih,” ungkap Ketua DPD REI Kalsel, Anwar Hadimi. Namun, diakuinya bisnis perumahan di Kalsel sangat prospektif. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perusahaan developer yang mencapai lebih 100 perusahaan, termasuk ekspansi developer raksasa dari luar kalsel, serta tingginya konsumen sektor perumahan.

Konsumen proferty tidak hanya berasal dari dalam kalsel, tetapi sebagian adalah warga pulau Jawa, karena pertimbangan investasi dan antisipasi bencana. Memiliki tanah dan proferty dapat diibaratkan memiliki tabungan yang menjanjikan bungan berlipat ganda. Tak mengherankan bisnis ini sangat rentan, munculnya kasus sengketa kepemilikan lahan.

Pada bagian lain, pertumbuhan sektor perumahan justru menjadi ancaman bagi ketersediaan lahan pertanian. Pembangunan permikiman yang tidak terpola membuat tata ruang daerah seperti halnya Banjarmasin semrawut, demikian juga dengan ancaman terus berkurangnya luas lahan pertanian di Kalsel. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 1, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: