Pupuk Organik

Mengubah Sampah Sungai Jadi Pupuk Organik
JK, (2010):

Keberangkatan kapal feri tua yang mengangkut penumpang serta belasan sepeda motor dan mobil pembawa hasil kebun siang itu, terpaksa ditunda beberapa saat, ketika sebuah tongkang bermuatan 12.000 ton batubara melintasi sungai barito di depan dermaga penyeberangan Sei Gampa, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.

Hamparan gulma jenis enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang betebaran di sepanjang sungai, tidak menghambat laju kapal pengangkut emas hitam tersebut. Di tepi sungai tak jauh dari dermaga, terlihat aktifitas beberapa orang mengumpulkan enceng gondok dan menaruhnya ke dalam perahu motor (klotok) mereka.

Melimpahnya enceng gondok yang mengapung di permukaan sungai, membuat proses pengumpulan dan pengisian klotok berlangsung singkat. Oleh warga setempat, mengumpulkan enceng gondok atau sering disebut ilung-ilung kini menjadi mata pencaharian sampingan di tengah keterpurukan ekonomi saat ini.

Sampah sungai tersebut berharga Rp 200.000 untuk tiap klotoknya. Adalah gabungan kelompok tani (Gapoktan) Karya Baru yang berdomisili di Desa Antar Baru, Kecamatan Marabahan dalam tiga tahun terakhir telah mampu “menyulap” gulma enceng gondok menjadi pupuk organik.

Proses pembuatan pupuk organik ini, tergolong mudah dan tidak memakan banyak biaya. Enceng gondok yang baru diambil dari sungai, dicincang kecil-kecil ditaruh sebagai lapisan dasar pada kotak besar sesuai kebutuhan.

Diatasnya ditaburi jamur tricodherma, cendawan yang berfungsi untuk mempercepat permentasi dan menghasilkan pupuk dengan kesuburan tinggi. Selanjutnya pada bagian atas ditaburkan serbuk gergaji dan jerami. Tak jarang pula, para petani menambahkannya dengan kotoran ternak sapi dan ayam peliharaan.

Kotak yang sudah penuh bahan baku pupuk organik ini, kemudian ditutupi plastic dan dibiarkan untuk proses permentasi. Setelah 25 hari pupuk organic yang diklaim ramah lingkungan ini siap digunakan.

Tidak hanya enceng gondok, sampah sungai lainnya seperti serbuk gergaji limbah pabrik kayu, tanaman alang-alang dan jerami diolah menjadi pupuk organik yang disebut trico kompos. “Setiap bulannya produksi pupuk organik kami yang berasal dari enceng gondok dan sampah sungai mencapai 30 ton,” tutur Fauzan Muslim, Ketua Gapoktan Karya Baru.

Akibat keterbatasan permodalan, usaha pembuatan pupuk organic ini belum dapat dilakukan besar-besaran. Sejauh ini produksi pupuk organik, hanya untuk memenuhi kebutuhan puluhan anggota Gapoktan yang mayoritas adalah petani jeruk siam banjar.

Penghargaan tingkat Asia

Diungkapkan Fauzan Muslim, pengembangan pupuk organik sampah sungai ini, bermula dari sebuah ketidak sengajaan. Para petani miskin di wilayahnya dihadapkan pada masalah ketiadaan dana untuk membeli pupuk kimia yang harganya mahal.

Hingga terpikirkan bagaimana membuat pupuk dengan biaya terjangkau oleh petani. Inovasi pembuatan pupuk organik ini, mengantarkan Gapoktan Karya Baru, meraih penghargaan tingkat provinsi, nasional dan asia 2010. Sebuah penghargaan yang cukup membanggakan.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Barito Kuala, Zulkifli, mengatakan pihaknya tengah berupaya mengembangkan pupuk organik untuk penyediaan kebutuhan pupuk puluhan ribu petani di wilayah salah satu kantong kemiskinan di Kalsel itu.

“Sebagian besar warga barito kuala adalah petani dan mereka dihadapkan pada masalah ketidak mampuan membeli pupuk,” ucapnya. Pupuk organik sendiri mempunyai banyak keunggulan, antara lain dapat dibuat sendiri oleh petani, murah dan ramah lingkungan.

Berdasarkan hitung-hitungan, jika menggunakan pupuk kimia petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp 5 Juta per hektar, maka dengan pupuk organik biaya dikeluarkan petani hanya Rp 500.000 atau 10 persen dari biaya penyediaan pupuk. Biaya produksi petani menurun tajam, sehingga keuntungan akan lebih besar.

Namun banyak petani di Kalsel belum familiar dengan penggunaan pupuk organik. Menurut data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalsel, dari 6.000 ton pupuk organik bersubsidi yang gelontorkan pemerintah, pada 2010 hanya sekitar 1.200 ton atau 20 persen diserap petani. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 1, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: