Budidaya Walet

Bisnis Liur Yang Menggiurkan
JK, (2011):

Liur burung walet menjadi sebuah bisnis yang sangat menggiurkan. Diperlukan modal lumayan besar dan sedikit keberuntungan untuk menciptakan goa buatan sebagai mesin pencetak uang.

Hari mulai senja dan cuaca sedikit mendung menyelimuti langit Kota Banjarmasin. Di beberapa lokasi sudut kota, tampak kawanan burung wallet (swallow) terbang rendah berputar-putar, mengitari bangunan rumah toko (ruko).

Kawanan walet ini terbang berkelompok-kelompok dalam jumlah besar. Suara cicitan burung yang bersahut-sahutan terdengar melengking membelah udara.

Bagi masyarakat kota dengan penduduk terpadat di provinsi Kalimantan Selatan, keberadaan kawanan burung walet ini merupakan pemandangan yang biasa, meski belakangan muncul berbagai keluhan terhadap budidaya burung walet di tengah kota ini.

Para pemilik ruko yang umumnya, kalangan berpunya telah menyulap bagian atas bangunan ruko menjadi menara atau goa buatan tempat tinggal walet. “Bisnis walet di tengah kota ini sangat potensial dan menjanjikan hasil menakjubkan,” tutur Eri, Ketua Asosiasi Pengusaha Walet Banjarmasin.

Usaha sarang burung walet di perkotaan dilakukan dengan cara budidaya. Yaitu dengan membangun gedung bertingkat menyerupai gua dan kemudian memancing kehadiran burung walet dengan menggunakan rekaman suara burung walet.

Tidak mudah memang untuk menggeluti bisnis walet ini. Selain diperlukan modal besar untuk membangunan goa buatan, juga yang terpenting adalah keberuntungan atau hoki. Tanpa hoki, bisnis ini menjadi sia-sia.

“Walet ini burung liar, dan tidak semua orang bisa menggeluti bisnis ini, meski punya banyak uang untuk membangun ruko,” bebernya.

Karena tidak sedikit pengusaha yang membangun rumah walet dalam jumlah banyak tetapi tidak ada walet mau bersarang. Dan sebaliknya,dengan sedikit keberuntungan seseorang dalam waktu sekejap akan menjadi jutawan, berkat liur walet ini.

Hidayat, warga Kelurahan Gunung Sari, Banjarmasin Barat, misalnya mencoba peruntungan bisnis walet dengan membangun goa buatan sederhana berdinding papan. Berbeda dengan goa buatan umumnya terbuat dari beton dalam bentuk ruko lantai tiga atau empat. Dirinya yakin, puluhan juta uang yang sudah terkuras suatu saat akan memberikan hasil berlipat ganda.

Perlakuan Khusus

Burung walet yang notabene burung liar, memerlukan perlakuan khusus untuk memikatnya bersarang di goa buatan. Selain memerlukan bangunan tinggi, walet sangat sensitive dengan kebisingan.

Goa buatan yang dibuat harus memperhatikan temperatur dan kelembaban, menyerupai goa alam. Kebanyakan para pemilik rumah wallet membuat kolam-kolam di dalam goa agar kelembaban tetap terjaga. Hal inilah yang kerap dinilai bisa memicu munculnya penyakit demam berdarah.

Dengan bantuan rekaman suara walet yang diputar, secara terus menerus akan memikat kawanan walet liar untuk masuk ke dalam goa buatan dan kemudian bersarang. Namun waktu yang diperlukan bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Rumah walet juga harus selalu dijaga dari kebisingan, termasuk gangguan tikus maupun serangga. Rumah-rumah walet yang sudah jadi atau ditempati walet, merupakan mesin pencetak uang bagi pemiliknya. Panen sarang walet bisa berlansung hingga 10 kali dalam setahun, dengan hasil sangat fantastis.

Ada tiga jenis panen walet yaitu panen tetas, buang telur dan rampasan. Panen tetas telur dinilai sangat bagus demi regenerasi burung.

Panen buang telur dilakukan pada saat musim kemarau, saat burung agak kesulitan mencari pakan, sedangkan panen rampasan sering dilakukan peternak ketika awal musim hujan.

Potensi PAD daerah

Bisnis walet di Kalsel sebenarnya sudah ada sejak lima belas tahun terakhir. Tetapi dalam beberapa tahun belakangan ini bisnis walet berkembang pesat.

Di Kota Banjarmasin sendiri diperkirakan ada 240an rumah walet yang sebagian besar dalam bentuk ruko. Bisnis ini juga berkembang di daerah sekitar seperti Kota Banjarbaru, Martapura serta kabupaten lain seperti Tanah Bumbu dan Kotabaru yang terkenal dengan goa alamnya.

Goa Temuluwang di Kotabaru, misalnya merupakan salah satu penghasil sarang burung walet terbesar di kalsel. Tetapi besarnya hasil panen sarang walet ini, kerap memicu konflik antar warga.

“Bisnis walet ini, merupakan potensi bagi peningkatan PAD daerah,” tutur Rusian, Ketua DPRD Kota Banjarmasin yang memiliki sejumlah rumah walet. Menurut perhitungannya, setiap bulannya hasil panen sarang walet di Banjarmasin bisa mencapai miliaran rupiah.

Dengan perhitungan rata-rata tiap rumah walet menghasil panen 1.000 hingga 2.000 sarang atau sekitar 10-20 kilogram. Dengan harga perkilonya mencapai Rp 15 Juta, maka dapat dibayangkan penghasilan dari usaha walet ini mencapai ratusan juta rupiah sekali panen.

Meski banyak protes, tetapi usaha walet ini tetap berjalan. Pemko Banjarmasin sendiri telah menyiapkan peraturan daerah (Perda) retribusi 10 persen bagi usaha budidaya walet ini. Pengusaha walet juga diwajibkan memberikan CSR kepada warga sekitar.

Hasil panen sarang burung walet umumnya diekspor ke Singapura, Jepang, Hong Kong, Malaysia dan China, hingga Amerika. Indonesia memproduksi sekitar 70-80 persen dari total produksi sarang burung walet dunia. Negara China menyerap lebih dari 60 persen total perdagangan komoditas sarang burung walet dunia.

Ekspor sarang wallet Indonesia ini mencapai trilyunan rupiah pertahun. Sebuah bisnis yang terbukti sangat menggiurkan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: