Kayu Manis

Nasib Pahit Petani Kayu Manis
JK, (2010):

Cuaca tidak begitu cerah, karena mendung terus menggelayuti langit di kawasan kaki pegunungan Meratus. Daun pepohonan dan jalan aspal di sepanjang lereng di Desa Loksado, Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan masih basah bekas guyuran hujan sepanjang malam.

Namun warga desa terlihat sibuk menghampar kulit-kulit kayu berwarna kuning kecoklatan di sepanjang tepi jalan desa. Kulit-kulit kayu yang berasal dari tanaman hutan pegunungan Meratus ini adalah kayu manis (Cinnamomum Verum).

Selama berabad-abad suku dayak bukit, penduduk asli pegunungan meratus, mengandalkan tanaman hutan kayu manis sebagai mata pencaharian utama, selain memanen buah kemiri (Aleurites moluccana). Belakangan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga mulai beralih dengan menanam karet.

Senasib dengan para petani di daerah lain, nasib petani di kaki pegunungan meratus inipun tidak semanis nama komoditas andalan mereka kayu manis. Mayoritas warga masih hidup dalam kemiskinan dan terbelakang.

“Harga kayu manis tidak menentu, tetapi ini merupakan mata pencaharian kami turun temurun,” tutur Jahri,35 seorang anak Kepala Desa (pembakal) Loksado. Selain masalah fluktuasi harga, kayu manis asal belantara Kalimantan hanya sekali panen.

Untuk memanen kayu manis, warga dayak harus memasuki hutan belantara hingga berjam-jam dan dari waktu ke waktu semakin jauh. Pohon kayu manis yang sudah berukuran besar diameter 15 cm-20 cm ditebang, kulitnya diambil dengan cara disamak (dikuliti dengan kampak).

Sementara kayu pohon yang sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar, jarang diambil dan dibiarkan begitu saja karena sulit untuk dibawa ke luar hutan. Pohon kayu manis yang sudah ditebang otomatis mati. Padahal waktu tumbuh pohon kayu manis hingga siap dipanen memerlukan waktu 10-15 tahun.

“Saat ini tanaman kayu manis di hutan sudah semakin jarang, tetapi beberapa warga mulai tergerak untuk membudidayakan untuk anak cucu mereka,” ucap pria beranak dua dan berharap anak-anaknya kelak dapat merubah nasib mereka.

Kondisi cuaca buruk, dimana hujan terus menerus turun membuat warga tidak bisa bercocok tanam padi gunung (beras merah) dan menyadap karet. Memanen kayu manis dan kemiri menjadi pilihan utama untuk bertahan hidup.

Harga kayu manis kering yang dijual warga ke tangan para tengkulak sekarang ini, mencapai Rp 8.000 perkilo. Harga ini jauh lebih baik dari awal tahun lalu yang hanya Rp 5.000 perkilo.

Hal serupa juga dikemukakan, Jhonson Maseri, Ketua Persatuan Masyarakat Adat Dayak (Permada) Kalsel. “Sebagian besar masyarakat suku dayak yang bermukim di sepanjang kaki pegunungan meratus, mengandalkan kayu manis dan kemiri sebagai mata pencaharian,” ucapnya.

Baru beberapa tahun terakhir, penanaman pohon kayu manis atau budidaya dilakukan warga lokal dengan bantuan pemerintah daerah. Budidaya kayu manis dipusatkan di beberapa wilayah hutan balai adat Kecamatan Loksado.

Kayu manis dari hutan meratus, dikenal berkualitas baik dan harum sehingga banyak diminati pembeli di pulau Jawa yang kemudian mengekspornya ke luar negeri. Kayu manis merupakan salah satu bahan rempah-rempah yang dikenal di seluruh dunia, bahkan secara tradisional warga dayak menjadikannya sebagai Supplement untuk berbagai penyakit.

Kayu manis dengan dicampur Madu, dipercaya ampuh mengobati berbagai macam penyakit seperti radang Sendi, Kulit, Jantung dan Perut Kembung. Camat Loksado, Rubingan, mengakui membaiknya harga kayu manis tidak mampu meningkatkan kesejahteraan warganya. Karena kendali pemasaran dan harga kayu manis, ada di tangan para tengkulak.

Bambu jadi penopang hidup

Jika warga suku dayak bukit yang bermukim di kawasan hutan pegunungan meratus mengandalkan kayu manis dan kemiri, warga dayak di daerah aliran sungai Amandit mengandalkan bambu untuk penopang hidup.

“Beginilah keseharian kami, menjual bambu untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Apan,50 warga Desa Ulu Banyu, Kecamatan Loksado. Di sepanjang daerah aliran sungai Amandit yang membelah pegunungan meratus, ditumbuhi pepohonan bamboo.

Seperti halnya tanaman hutan kayu manis, tanaman bambu yang tumbuh liar ini memerlukan waktu 15 tahun baru bisa dipanen. Di pasaran sebatang bambu ukuran besar berharga Rp 5.000 sampai Rp 8.000.

Oleh warga di bagian hilir, bambu yang dijual warga dari hulu tersebut dipotong-potong dan dibelah ukuran 2-3 meter. Bamboo yang sudah dibelah harganya sedikit lebih mahal Rp 8.500 perikat isi 20 potong. Sebatang bamboo ukuran besar dapat dijadikan satu setengah ikat.

Bamboo potongan ini, banyak digunakan warga sebagai dinding rumah atau pondok, maupun kandang ternak. Pemasaran bamboo potongan ini, hingga ke sejumlah kabupaten tetangga di Kalsel. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: