Kearifan Lokal

Aruh Buntang Ritual Mengantar Arwah Menuju Surga

JK, (2010):

Moooo..suara erangan kerbau jantan (hadangan) merintih kesakitan ketika ujung-ujung tombak menancap di tubuhnya. Hampir satu jam, secara bergiliran warga suku dayak Dea yang bermukim di kaki pegunungan Meratus, Kecamapat Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan menombak tubuh kerbau, hingga akhirnya binatang aruh tersebut roboh dengan puluhan mata luka.

Membunuh hadangan merupakan salah satu tahapan penting dalam kegiatan ritual pesta adat (aruh) Buntang yang digelar masyarakat suku dea, salah satu suku dayak yang bermukim di kaki pegunungan meratus. Aruh buntang atau mambuntang, adalah kegiatan aruh yang digelar untuk mengangkat arwah orang meninggal dari alam kubur ke alam roh atau surga sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga terhadap mendiang.

“Aruh buntang merupakan budaya leluhur dan menjadi tahapan penting dalam perjalanan hidup masyarakat suku dayak,” tutur Andreas, tokoh masyarakat dayak Meratus. Kerbau yang sudah mati kemudian disembelih dengan tata cara dayak kaharingan (agama) dan dagingnya menjadi hidangan utama dalam acara puncak aruh buntang.

Aruh buntang suku dayak dea tahun ini, digelar secara besar-besaran oleh keluarga Purdi Sitan, warga desa Pangelat (berjarak 350 Km dari Banjarmasin) dengan menyembelih dua ekor kerbau, karena jumlah leluhur yang diaruhkan cukup banyak. Pesta yang melibatkan ribuan komunitas adat hingga pedalaman provinsi tetangga Kalimantan Tengah itu, berlangsung selama delapan hari delapan malam.

Persiapan kegiatan aruh yang menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah inipun sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Kegiatan aruh juga menjadi symbol kegotongroyongan warga sekitar, termasuk suku-suku dayak tetangga yang ikut membantu kelancaran pelaksanaan aruh, dengan menyumbang hasil panen dan ternak seperti ayam dan babi.

Sejak hari pertama pelaksanaan aruh yang bertepatan dengan selesainya musim panen ladang warga ini, diwarnai dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tari-tarian. Seluruh kegiatan aruh dipusatkan di balai adat.

Setiap hari, para muda mudi dayak dea, bergembira menari dan bernyanyi dengan diiringi tetabuhan tradisional berupa gendang, gong dan kenong. Ritual serupa juga kerap dilakukan suku-suku dayak lainnya, meski tata caranya aruhnya sedikit berbeda. Dari kegiatan aruh ini, warga yang masih hidup mengharapkan adanya keberkahan bagi kehidupan warga dari mendiang leluhur.

Balian terancam punah

Selama pelaksanaan aruh buntang, delapan hari delapan malam di Desa Pangelat semua prosesi menjadi tanggung jawab balian (tokoh agama). Balianlah yang menyiapkan berbagai sesaji sebagai unsur ritual, memanggil dan berkomunikasi dengan arwah, dan mengangkatnya ke alam surga.

Disamping menyiapkan sesaji di lokasi aruh di balai adat, balian juga memimpin proses bamamang (membaca mantra). Dan berbagai ritual lainnya, hingga pelaksanaan aruh selesai. Intinya peran balian sangat vital dalam mensukseskan pelaksanaan aruh ini.

Sayang saat ini, sosok balian semakin sulit ditemui. “Sekarang ini, balian sudah hampir punah. Untuk kegiatan aruh warga adat harus mengundang balian dari daerah tetangga seperti kalteng bahkan kaltim,” ungkap Andreas.

Semakin sulitnya mencari sosok balian ini, banyak disebabkan pengaruh masuknya agama lain sepertik Kristen dan Islam di kalangan warga suku dayak. Padahal syarat utama menjadi seorang balian adalah masih menganut agama asli yaitu kaharingan atau animisme.

Selain itu, sosok balian merupakan sosok pilihan yang mempunyai kelebihan baik kesaktian, ketokohan serta kemampuan berkomunikasi dengan alam roh. Banyaknya warga suku dayak yang kini beragama membuat profesi balian semakin sulit dijumpai.

Aruh berlangsung meriah

Pelaksanaan aruh yang banyak menguras energy ini, berlangsung meriah. Warga dayak dari berbagai daerah dan berbeda suku ikut berkumpul. Suasana kampung bak pasar malam, penuh sesak dipadati warga.

Kegembiraan warga ditandai dengan minum tuak dan permainan kartu dan dadu. Budaya yang sempat dilarang pihak kepolisian ini, menjadi kegiatan wajib dalam pelaksanaan aruh, sehingga sulit dihilangkan.

Di dalam balai pada saat puncak aruh, para balian menggelar ritual mambuntang dengan tarian diiringi bunyi gemerincing gelang dadas (gelang kuningan) yang dikenakan balian. Penampilan balian mengenakan pakaian adat khas balian dusun, berupa tapih bahalai, kain batik yang dililitkan di pinggang dan ikat kepala.

Tarian ini memakan waktu lama hingga selesainya proses mengangkat arwah dan mengantarnya ke alam roh atau surga selesai pada dini hari. Beberapa tahapan prosesi aruh ini, sarat nuansa mistik yang ditandai dengan kejadian kesurupan dialami warga, khususnya kerabat dekat mendiang. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: