Pedalaman Rawa

Beradaptasi Dengan Kerasnya Alam
JK, (2011):

Bagi kebanyakan orang mungkin tidak dapat membayangkan bagaimana bertahan hidup di belantara rawa. Namun 8.000 lebih penduduk Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara mampu beradaptasi dengan kerasnya alam.

Laju perahu motor (klotok), terpaksa kerap kali terhenti saat berpapasan dengan lalu lalang jukung-jukung (perahu kecil) yang mengangkut hasil bumi. Gelombang besar yang dihasilkan mesin perahu motor, dikhawatirkan dapat membuat jukung terbalik.

Hamparan rumput liar dan tanaman air seperti enceng gondok yang menutupi sebagian besar permukaan rawa, tak jarang menutupi jalur lintasan transportasi air di wilayah tersebut. Pagi itu, belasan orang rombongan wisatawan lokal berangkat menuju Kecamatan Paminggir, lokasi peternakan kerbau rawa.

Kecamatan Paminggir merupakan daerah paling ujung (pinggir) dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Barito Kuala dan Jenamas, Barito Selatan, Kalimantan Tengah yang hanya dibatasi sungai Barito. Dari Danau Panggang, desa-desa di Kecamatan Paminggir dapat ditempuh dalam waktu 1,5 Jam.

Sepanjang perjalanan, kita dapat melihat kondisi kehidupan warga yang bermukim di atas rawa-rawa, dengan luas ratusan kilometre persegi. Seluas mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan rawa. Perahu menjadi alat transportasi utama warga disini.

“Kondisi alam disini sangat keras, tetapi warga sudah bermukim turun-temurun sejak ratusan tahun silam,” tutur Juniansyah, tokoh masyarakat Paminggir. Meski kondisi alam tidak mendukung, tetapi warga pedalaman rawa yang masuk kategori daerah tertinggal ini, mampu beradaptasi.

Kondisi rawa monoton dan diperparah, semakin tingginya intensitas bencana banjir akibat meluapnya sungai barito, membuat aktifitas pertanian tanaman pangan warga di lahan rawa kini tidak dapat lagi diandalkan. “Saat kemarau panjang, ada beberapa daerah yang sebelumnya dapat ditanam padi, kini banjir terjadi sepanjang tahun, sehingga petani gagal panen,” keluhnya.

Saat ini ribuan warga di sebagian daerah rawa Kecamatan Danau Panggang dan Paminggir, beralih para profesi nelayan rawa. Pedalaman rawa di Kalsel ini memang dikenal banyak menghasilkan ikan air tawar seperti seluang, patin, papuyu, haruan (gabus), pipih, lele bahkan udang.

Menjadi nelayan rawa, ternyata cukup memberikan penghasilan untuk menutupi kebutuhan hidup warga sekitar.

Kerbau Rawa

Wilayah rawa-rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan sejumlah kabupaten lain di kalsel seperti Hulu Sungai Tengah, Tapin, Barito Kuala, Banjar dan Tanah Laut juga menjadi habitat kerbau rawa (Bubalus carabanensis). Kerbau rawa adalah salah satu ternak ruminansia spesifik lokal atau plasma nutfah yang berkembang di daerah rawa-rawa Kalimantan . Kerbau rawa ini digolongkan pada Kelas Mammalia, Ordo Ungulata atau kerbau India .

Kerbau rawa lebih banyak menghabiskan waktu dengan berenang dan mencari makan berupa rerumputan rawa. Para gembala dan pemilik kerbau tidak perlu repot menyediakan pakan peliharaannya karena rerumputan rawa tumbuh subur di belantara rawa.

Kerbau rawa ini menjadi symbol daerah dan pariwisata Kalsel. Sepuluh tahun lalu, pemerintah daerah sempat berupaya mengembangkan keberadaan kerbau rawa menjadi sebuah obyek wisata. Arena pacuan kerbau rawa di bangun, termasuk hotel dan titian (jembatan kayu) sepanjang delapan kilometre yang menghubungkan ibukota Kecamatan Danau Panggang ke lokasi wisata pacuan.

Sayang pembangunan kepariwisataan yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi warga setempat ini, gagal dan kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Nur Aidi, Kepala Desa Ambahai, salah satu desa di Kecamatan Paminggir mengutarakan, mayoritas warganya adalah peternak kerbau rawa, baik sebagai pemilik atau hanya sebatas pengembala, dengan system bagi hasil (angon). Untuk satu ekor kerbau rawa dewasa saat ini harganya mencapai Rp 10 Juta.

Di Paminggir, populasi kerbau rawa ini diperkirakan mencapai 12.000 ekor dan di Kalsel lebih dari 40.000 ekor. Meski banjir telah menyebabkan cadangan rumput pakan kerbau terganggu, tetapi usaha peternakan kerbau rawa ini sangat potensial.

“Rawa-rawa ini sebenarnya memberikan kemakmuran bagi warganya, hanya saja daerah ini merupakan daerah terpencil dan terkendala sarana transportasi,” ucapnya. Karena itu sebagian besar warga di pedalaman rawa ini mempunyai penghasilan cukup tinggi.

Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang berangkat ibadah haji dan umrah setiap tahunnya. Demikian juga rata-rata warga pedalaman rawa ini memiliki rumah di wilayah daratan (Amuntai) dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke Pulau Jawa.

Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir warga sekitar mulai menggeluti bisnis baru berupa budidaya burung walet. Daerah rawa-rawa merupakan habitat burung walet, sehingga budidaya walet di wilayah ini dapat berhasil walau hanya dengan membangun goa buatan berupa rumah-rumah diatas rawa.

Tetapi harus diakui, kondisi kehidupan warga di daerah pedalaman rawa ini masih kurang tersentuh pembangunan. Sarana pendidikan dan kesehatan masih dirasakan kurang oleh masyarakat sekitar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: