Pupuk Organik

Income Baru Dari Sampah Rumah Tangga
JK, (2011):

Sampah rumah tangga tidak lagi menjadi sesuatu yang menjijikkan. Warga Kelurahan Sungai Jingah, Kota Banjarmasin memiliki income baru dengan menyulap sampah menjadi pupuk organik.

Suasana sejuk begitu terasa, ketika memasuki kawasan permukiman penduduk di komplek Mahligai, RT 33, Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Permukiman yang terletak di pinggiran kota berjuluk seribu sungai ini dipenuhi pepohonan pelindung sehingga memberikan keteduhan, walau cuaca sangat panas.

Pepohonan pelindung berupa pohon buah-buahan, tumbuh subur di tiap-tiap halaman depan rumah yang berjumlah 52 keluarga. Tak ketinggalan aneka tanaman hias dan anggrek, ikut menyemarakkan keasrian komplek berpredikat terbersih dan terhijau (green and clean) se Kota Banjarmasin tersebut.

Siang itu, para ibu terlihat sedang bergotong royong mengumpulkan sampah rumah tangga sisa pesta perayaan malam pergantian tahun, termasuk sampah dedaunan pohon yang berguguran. “Sampah-sampah ini jadi sumber pemasukan tambahan warga di sini,” ungkap Fatmawati,40, salah seorang pengurus Tim Penggerak PKK RT 33.

Sejak empat tahun terakhir, warga komplek terutama kaum ibu bergelut dalam bisnis pembuatan pupuk organik berbahan baku sampah rumah tangga dan sampah lingkungan seperti dedaunan pohon. Dalam sebulan produksi pupuk organik ibu-ibu ini hampir satu ton.

Dengan harga jual pupuk organik tanpa label seharga Rp 4.000 perpak (isi 1,5 Kilogram), maka setiap bulannya warga memperoleh pemasukan hingga jutaan rupiah. Hasil penjualan pupuk organic ini, sebagian masuk ke kas kampong yang digunakan untuk berbagai kepentingan bersama dan sebagian menjadi penghasilan tambahan warga.

Sementara modal yang dikeluarkan sangat kecil, seperti pembelian bakteri mempercepat permentasi sampah menjadi pupuk yang disebut intensif mikro organisme. Tiap liter bahan permentasi seharga Rp 25.000 ini mampu menghasilkan satu ton pupuk organik.

“Penjualan pupuk organic warga sangat laris. Banyak pembeli datang dan siap menampung berapapun produksi pupuk organic warga,” tutur Arimansyah, Ketua RT 33.

Bahkan warga mulai kekurangan bahan baku sampah rumah tangga untuk pembuatan pupuk organik ini. Setiap harinya warga secara sadar, dari rumah masing-masing memulai tahapan awal pembuatan sampah organik.

Pertama-tama sampah rumah tangga dipisahkan antara sampah organik seperti sisa nasi, sayur dan kertas, dengan sampah an organic berupa plastic, botol dan lainnya. Sampah yang sudah dipisahkan ditaruh dalam tong sampah terpisah di depan rumah masing-masing warga, dimana sampah anorganik terpaksa diberikan kepada petugas sampah untuk dibuang ke TPA.

Setelah terkumpul cukup banyak, sampah-sampah ini dimasukkan ke dalam penampungan, disebut komposter. Komposter adalah media penyimpan bahan pupuk organic. Proses permentasi (pembusukan) sampah menjadi pupuk, dengan bantuan bakteri aerob (IM4) ini memerlukan waktu dua minggu.

“Selain bakteri aerob, perlu juga diberi gula untuk mempercepat proses pembusukan,” tambah Fatmawati. Jika tanpa bantuan bakteri aerob, maka proses pembusukan sampah menjadi pupuk sampai enam bulan.

Pupuk yang berasal dari sampah organik seperti sisa sayuran, makanan, daging dan ikan mengandung nutrisi ( NPK, MgSCa dan Mikro Elemen) baik dan sedikit sekali mengandung logam berat (Fe, Al, Cu), sehingga sangat baik untuk lingkungan.

Bantuan Kementrian LH

Usaha ibu-ibu warga komplek Mahligai, Banjarmasin ini mendapat perhatian dari kementerian lingkungan hidup. Dan pada 2006 lalu, kementerian LH membantu dua buah masin pencacah (pemotong). Sayang salah satu mesin, kini dalam kondisi rusak.

Bantuan mesin pencacah ini sangat membantu warga untuk menghaluskan sampah dedaunan yang selama ini harus dilakukan dengan cara manual dicincang menggunakan golok. Keberhasilan usaha pembuatan pupuk organik ini, memberikan inspirasi bagi komunitas warga lain di Banjarmasin.

Kepala Dinas Tata Kota Banjarmasin, Hamdi, mengatakan sampah menjadi masalah serius pemerintah kota. Saat ini, selain pemerintah kota yang terus berjuang memerangi sampah, ada sejumlah kelompok warga mulai menggeluti bisnis pupuk organic dari sampah rumah tangga. Kota Banjarmasin, ibu kota provinsi Kalsel dengan jumlah penduduk mencapai 600.000 jiwa, setiap harinya menghasilkan tidak kurang dari 600 meter kubik sampah.

Jumlah itu tidak termasuk, sampah yang dibuang secara langsung ke sungai, karena mayoris warga bermukim di sepanjang tepi sungai dan menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa. Diperkirakan separuh dari volume sampah ini, tidak mampu terbuang ke TPA.

Sebanyak 60 persen sampah rumah tangga ini adalah sampah organic, sehingga potensi bisnis pupuk organik merupakan suatu yang cukup menjanjikan. Pemkot Banjarmasin mulai memikirkan penerapan strategi untuk memerangi sampah, dengan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS).

Volume sampah di Banjarmasin diperkirakan mampu dirubah menjadi energy listrik dengan kapasitas 8-10 Megawatt. Selain itu, perang terhadap sampah dan merubah budaya membuang sampah sembarangan juga diterapkan melalui peraturan daerah yang melarang membuang sampah di sungai dan perda larangan membuang sampah di siang hari.

Masalah sampah kota ini, sempat menempatkan Banjarmasin menjadi salah satu kota terkotor di tanah air. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Februari 3, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: