Abrasi Kampung Nelayan

Perkampungan Nelayan itu Kian Tergusur
JK, (2011):

Abrasi kian mengancam wilayah pesisir. Banyak perkampungan nelayan di Kalimantan Selatan tergusur akibat terkikisnya pantai.
Suara debur ombak bersahut-sahutan memecahkan barisan bebatuan penahan gelombang (Bronjong). Cuaca buruk yang melanda wilayah perairan, belum kunjung membaik.
Tetapi bagi warga nelayan di Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, mereka tidak punya pilihan lain kecuali tetap melaut untuk dapat bertahan hidup. Siang itu, di tengah guyuran hujan, Rusmini,35 bersama para isteri nelayan lainnya, berharap-harap cemas menunggu kedatangan suami mereka.
Sudah dua hari ini, nelayan terpaksa melaut meski kondisi cuaca di laut masih buruk. “Sudah berbulan-bulan gelombang sangat besar,” ucap Rusmini, sembari menunjuk sebuah perahu yang sandar sedang terombang ambing di hantam gelombang, tidak jauh dari rumahnya.
Di sepanjang pantai, terlihat banyak pepohonan mangrove bertumbangan, sementara pohon-pohon yang masih tegak berdiri pun mengering dan mati. Zainuddin, Kepala Desa Kuala Tambangan, menyebut dari waktu ke waktu wilayahnya terus terkikis gelombang.
Garis pantai desa setempat telah bergeser hingga seratus meter ke daratan. “Tadinya ada perkampungan nelayan di sini, tetapi mereka terpaksa mengungsi, karena rumah-rumah mereka rusak diterjang gelombang,” paparnya.
Desa Kuala Tambangan merupakan sebuah perkampungan nelayan yang wilayah perairannya berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Desa ini dihuni sedikitnya 590 keluarga nelayan.
Masalah abrasi ini juga dialami wilayah pesisir lainnya di sejumlah kabupaten seperti Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru. Di Desa Tabunio, sebuah desa nelayan yang bertetangga dengan Desa Kuala Tambangan, juga bernasib sama. Abrasi telah menyebabkan rusaknya sejumlah rumah warga dan mengancam sebuah bangunan Sekolah Dasar di sana.
Diperkirakan bibir pantai di pesisir Tabunio terkikis hingga lebih dari 50 meter, dalam lima tahun terakhir. Pepohonan tepi pantai seperti kelapa dan cemara roboh diterjang gelombang.

Abrasi capai ratusan kilometer
Diperkirakan kerusakan pantai akibat abrasi di Kalsel telah mencapai ratusan kilometer dari 1.330 Km panjang pantai yang ada. Pemerintah daerah memerlukan dana besar untuk membangun jalan layang, bronjong dan melakukan penanaman pohon penahan abrasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalsel, Arsyadi, mengatakan abrasi terparah terjadi di sepanjang pesisir Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu. “Selain permukiman nelayan, abrasi juga menyebabkan sejumlah ruas jalan trans Kalimantan terancam putus,” tuturnya.
Pemerintah daerah membutuhkan dana hingga Rp170 Miliar, bagi pembangunan jalan layang di wilayah yang terkena abrasi. Sementara pembangunan bronjong atau dam penahan gelombang juga terus dilakukan, meski kemajuannya kalah cepat dibanding dampak abrasi.
Pada bagian lain, puluhan wartawan yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia (KOJHI) Kalimantan Selatan, melakukan penanaman 1.000 pohon penahan abrasi jenis Ketapang Laut. Penanaman dilakukan di Desa Kuala Tambangan, dengan melibat warga setempat.
Humas KOJHI Kalsel, Enny Sulistyowati, mengatakan kegiatan penanaman pohon penahan abrasi yang dibarengi kegiatan pengobatan gratis dan bantuan paket sembako bagi warga nelayan tersebut, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk lebih peduli terhadap kondisi kerusakan lingkungan pesisir.

Nelayan turun ke sawah
Seperti yang terjadi di daerah lainnya, kehidupan nelayan di Kalsel juga indentik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Pemerintah Kabupaten Tanah Laut memprogramkan pencetakan areal persawahan di wilayah pesisir dan kampung-kampung nelayan.
Bupati Tanah Laut, Adriansyah, mengungkapkan program berupa
perbaikan sarana penunjang pertanian dan pencetakan
sawah baru ini dimaksudkan agar nelayan mempunyai mata pencaharian lain selain melaut.
Wilayah pesisir akan dikembangkan menjadi sentra
pertanian tanaman padi baru di Kabupaten Tanah Laut,
dengan membangunan jaringan irigasi serta pencetakan
sawah baru. Saat ini pencetakan sawah di wilayah
pesisir, mulai dilaksanakan di Desa Batakan, seluas
300 hektar. Potensi pencetakan sawah baru di kawasan pesisir ini mencapai 5.000 hektar.
Menurut Adriansyah program ini, bertujuan untuk
mencari jalan keluar masalah kemiskinan yang dihadapi
masyarakat nelayan selama ini. Lebih dari 20.000 jiwa
masyarakat nelayan yang tersebar di sejumlah kecamatan
di Tanah Laut, seperti Kecamatan Takisung, Tabunio dan
Kurau hidup dalam kemiskinan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: