Baayun Maulid

Nuansa Religi di Bulan Kelahiran Rasul
JK, (2011):

Bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam atau disebut bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, diperingati dengan penuh semarak dan nuansa religi.

Syair habsyi diiringi gema tetabuhan rebana yang dilantunkan puluhan santri, mengiringi prosesi Baayun Maulid di komplek Mesjid Agung Al Qarommah, Desa Banua Halat, Rantau, Kabupaten Tapin. Sejak beberapa hari terakhir suasana desa yang menjadi lokasi peringatan kelahiran Rasulullah (Maulid) terbesar di Kalsel setiap tahunnya ini, begitu semarak.
Tahun ini, sebanyak 2.000 orang yang sebagian besar anak-anak menjadi peserta baayun. Orang dewasa bahkan manula pun, ikut ambil bagian. Jumlah peserta baayun kali ini, hampir sama dengan peserta tahun-tahun sebelumnya.
Baayun pada bulan Maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan tradisi turun temurun masyarakat muslim di Kalimantan Selatan. Pada saat yang sama, kegiatan serupa juga digelar di sejumlah daerah, seperti di Komplek Makam Sultan Suriansyah, Kota Banjarmasin. Disini ada lebih dari 200 peserta mengikuti prosesi baayun maulid.
Baayun merupakan tradisi yang menghadirkan ritual pembacaan doa dan syair-syair Islam sembari mengayun anak dalam ayunan. Namun baayun sendiri sebenarnya bukanlah tradisi dalam agama Islam, melainkan sebuah tradisi campuran yang dipengaruhi adat suku dayak.
Sejatinya, prosesi baayun ditujukan kepada anak-anak tetapi dalam perkembangannya, kegiatan ritual keagamaan di Kalsel banyak diikuti orang dewasa, sehingga kemudian dinamakan Baayun Maulid.
Kegiatan baayun dimulai dengan pembacaan syair-syair maulid dipimpin seorang tuan guru, diiringi tetabuhan rebana dari kelompok pengajian. Para orang tua asyik mengelus dan mendoakan anak-anak mereka dalam ayunan sembari mengoleskan wewangian.
Bagi sebagian peserta baayun disempatkan berdoa agar dimurahkan rejeki dan terhindari dari berbagai musibah termasuk penyakit. Penggunaan kain ayunan untuk baayun anak terdiri tiga lapis (dulu memakai sasirangan) digambarkan agar yang diayun dapat menguasai ilmu tasawuf, marifat dan
hakikat.
Juga penggunaan hiasan janur dari pohon aren
yang dibentuk berupa payung-payung, patang kangkung,
rantai (gelang), kambang sarai bersimbol agar anak
selalu dilindungi dari kejahatan dan bala.
Syamsiar Seman, budayawan Kalsel mengatakan asal muasal tradisi baayun adalah tradisi masyarakat banjar saat menidurkan bayinya dengan cara mengayun. Hingga sekarang tradisi menina bobokkan anak seperti ini masih melekat di tengah kehidupan masyarakat suku banjar.
Umumnya ayunan itu terbuat dari kain kuning (tapih) yang ujungnya diikat dengan tali ijuk. Ayunan ini biasanya digantungkan di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur , dengan maksud sebagai penangkal makhluk gaib atau penyakit yang mengganggu bayi.
Tradisi baayun ini marak diadakan di 13 kabupaten/kota selama bulan Maulid. Kegiatan terbesar diselenggarakan di beberapa daerah seperti Mesjid Sultan Suriansyah, Banjarmasin , Kota Martapura, Kabupaten Banjar dan mesjid keramat Al Qorammah, Desa Banua Halat, Tapin.

Even Pariwisata
Tradisi peringatan mauled Nabi dengan cara baayun ini, menjadi daya tarik bagi masyarakat dan menjadi bagian even wisata daerah. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalsel, Mohandas mengungkapkan banyak wisatawan lokal yang datang dari berbagai daerah, termasuk manca negara menyaksikan keunikan tradisi peringatan kelahiran nabi ini.
Tidak hanya baayun, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di kalsel yang masyarakatnya dikenal sangat religius ini ditandai dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti tabligh akbar, festival keagamaan serta selamatan. Kegiatan dilakukan mulai dari rumah-rumah warga yang mampu, surau, langgar dan mesjid di berbagai pelosok daerah.
Di beberapa daerah, semarak peringatan Maulid ini, menyamai semarak hari lebaran. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: