Biogas

Memanfaatkan Limbah Tahu Menjadi Energi
JK, (2011):

Pembangunan dan pertumbuhan penduduk, memberi dampak terjadinya pencemaran dan kerusakan media lingkungan seperti tanah dan air. Kementerian Lingkungan Hidup membangun sejumlah pilot project untuk merubah limbah penyebab gas rumah kaca menjadi energi.
Asap tebal membumbung tinggi dari sebuah pabrik pembuatan tahu di kawasan permukiman penduduk Kelurahan Menthaos, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Asap tebal berasal dari tungku-tungku pembakaran raksasa yang memasak cairan putih, sari kedelai.
Diperlukan waktu berjam-jam untuk memasak sari kedelai, bahan mentah pembuatan tahu. Dan diperlukan cukup banyak balok-balok kayu yang dibakar.
Puluhan pekerja pabrik, bekerja dengan cekatan sesuai tugas masing-masing. Mulai dari pekerja yang menggiling butir-butir biji kedelai hingga pekerja penjaga tungku agar api tetap stabil menyala.
Pekerja penyaring sari kedelai dan pemisah ampas kedelai, hingga pekerja yang bertugas memasukkan cairan sari kedelai ke dalam cetakan dan didinginkan sampai menjadi tahu. “Proses pembuatan tahu ini, mulai dari subuh dan baru selesai menjelang siang yang kemudian dilanjutkan dengan proses pemasaran ke pasar-pasar,” tutur Winarso,36.
Winarso adalah anak dari Selamet,62 pemilik pabrik yang merupakan pabrik tahu terbesar di Kota Banjarbaru. Perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga, karena para pekerjanya pun masih ada hubungan keluarga. Di wilayah itu, terdapat tiga buah pabrik pembuatan tahu dengan kapasitas mencapai tiga ton perhari.
Puluhan tahun pabrik tahu beroperasi, menyisakan masalah berupa pencemaran berupa asap, bau dan limbah sisa pembuatan tahu yang dibuang ke Sungai Durian, sebuah sungai kecil tak jauh dari lokasi pabrik. “Selama ini air sisa pembuatan tahu dibuang ke sungai, karena tidak ada tempat penampungan limbah,” ucap Sitar,30 salah seorang pegawai pemasaran tahu.
Sitar adalah keponakan dari Selamet. Bersama istrinya Sitar, memasok tahu ke pasar-pasar di Kota Banjarbaru, Kota Martapura bahkan Banjarmasin.
Sampai beberapa hari terakhir, masalah pencemaran udara akibat bau dan limbah tahu yang dibuang langsung ke sungai mulai teratasi. Sebuah pilot project dari Kementerian Lingkungan Hidup, pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik (IPAL) yang memanfaatkan limbah pabrik tahu menjadi energy biogas mulai difungsikan.
Suriansyah, Kepala Kantor Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, mengungkapkan
Keberadaan pabrik tahu diketahui menghasilkan limbah cair dan gas yang dianggap dapat merusak lingkungan. Limbah cair hasil produksi tahu mengandung chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), dan tingkat keasaman (pH) tinggi.
Biogas Bahan Bakar Alternatif
Sudah dua pekan terakhir ini, sebanyak 32 keluarga di Kampung Menthaos dapat menikmati biogas yang berasal dari limbah tiga pabrik tahu di wilayah itu. Gas yang dialiri secara gratis ke rumah-rumah warga ini, dirasakan sangat membantu di tengah kesulitan warga memperoleh bahan bakar minyak tanah dan ketakutan warga terhadap program konversi gas elpiji.
Pengolahan limbah cair pabrik tahu di Kelurahan Menthaos, Kota Banjarbaru ini hampir sama dengan proses pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi biogas. Yaitu dengan menerapkan sistem anaerobik (kedap udara) dengan fixed bed reactor.
Sistem ini lebih efisien karena tidak memerlukan biaya operasional yang besar, juga lahan IPAL tidak terlalu besar. Proses pengolahan limbah, dimulai dari tahapan memasukkan limbah pabrik tahu ke sebuah bak penampungan besar, melalui jaringan pipa.
Kemudian limbah disalurkan ke tabung utama disebut reaktor atau digester. Reaktor ini berfungsi mengonversi limbah cair menjadi gas.
Proses pengolahan limbah pabrik tahu menjadi energy alternative biogas ini memerlukan waktu sekitar dua pekan. Tahapan akhir dari proses ini adalah distribusi gas, melalui pipa kecil (seperti pipa PDAM) ke rumah-rumah warga.
Suriatinah, Kepala Badan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Balitbangda) Kalsel, mengatakan Kalsel memiliki potensi besar bagi pengembangan sumber energy alternative seperti biogas. “Biogas merupakan alternative terbaik, untuk membantu program pemerintah dalam penghematan bahan bakar minyak,” tuturnya.
Jauh sebelum Kementerian LH menggalakkan pembangunan IPAL, Balitbangda bersama Dinas Peternakan Kalsel, telah membangun proyek biogas serupa dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi di sentra peternakan Kabupaten Tanah Laut.
IPAL Komunal
Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, menyebutkan kualitas air di Kalimantan Selatan sangat buruk. Buruknya kualitas air, menyebabkan Indeks Kualitas Lingkungan Kalsel berada di posisi 26 di tanah air.
Keberadaan sungai oleh sebagian warga masih diandalkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Dalam beberapa pengujian kualitas air sangat buruk, bahkan unsur-unsur logam berat termasuk arsen ikut mencemari,” ungkapnya saat memberikan pengarahan di hadapan puluhan pengusaha sektor pertambangan di Kalsel.
Guna mengatasi pencemaran air dan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca, Kementerian LH melaksanakan berbagai program, diantaranya Program Kali Bersih, tempat pengolahan sampah, serta pembangunan pilot project IPAL di sejumlah lokasi strategis. Pembangunan IPAL yang dilengkapi biodigester, mampu mengubah limbah menjadi gas methane yang dimanfaatkan sebagai sumber energy atau bahan bakar.
IPAL Komunal yang memanfatkan limbah kotoran manusia (tinja) untuk dijadikan biogas, dibangun di Lembaga Pemasyarakatan, Teluk Dalam, Kawasan Terminal Induk Pal 6 dan rumah susun (rusunawa) di Banjarmasin. IPAL Komunal dalam hitung-hitungan pihak kementerian mampu menghasilkan penghematan cukup signifikan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: