Ekonomi Nelayan

Atap Nipah Penopang Hidup Saat Paceklik
JK, (2011):

Cuaca buruk menjadi momok, bagi ribuan keluarga nelayan di pesisir Kalimantan Selatan. Berbagai usaha dilakukan warga nelayan untuk bertahan di saat paceklik. Salah satunya membuat atap dari daun pohon nipah.

Wanita paruh baya itu, harus bersusah payah mendorong sepeda tuanya menyusuri tepi jalan desa yang rusak. Dengan dibantu anak perempuannya yang mendorong dari belakang, mereka membawa satu ikatan besar, daun pohon nipah sejenis pohon rumbia yang banyak tumbuh di kawasan pesisir wilayah tersebut.
Sesekali keduanya berhenti untuk mengusir penat. Sebatang kayu berukuran satu meter dibuat menjadi penopang agar sepeda dan muatannya tidak roboh. Beberapa teguk air putih cukup guna menghilangkan dahaga, baru kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Hanya bermodalkan parang (golok), Juminah,52 bersama anaknya sejak pagi hari telah menjelajahi belantara rawa untuk mencari daun nipah. Tak jarang mereka harus menggunakan gala dimana bagian ujungnya diikatkan golok untuk memotong pelepah nipah yang tinggi.
Karena sudah terbiasa mereka pun tak takut akan adanya hewan liar ataupun serbuan nyamuk saat mereka bekerja. Helai demi helai daun nipah mereka kumpulkan untuk kemudian dibawa pulang.
Tidak hanya Juminah, aktifitas mencari daun nipah ini juga dilakukan sebagian kaum ibu warga Desa Kuala Tambangan, sebuah desa di pesisir Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel.
Desa Kuala Tambangan merupakan sebuah perkampungan nelayan yang wilayah perairannya berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Desa ini dihuni sedikitnya 590 keluarga nelayan.
Seperti yang terjadi di daerah lainnya, kehidupan nelayan di desa ini juga indentik dengan kemiskinan dan ketertinggalan.

Mata pencaharian andalan
Daun nipah merupakan bahan utama pembuatan atap yang tidak hanya dipakai warga setempat, tetapi juga desa-desa sekitarnya. “Membuat atap nipah merupakan mata pencaharian andalan kami saat ini, menyusul tidak menentunya hasil tangkapan di laut,” tutur Juminah.
Membuat atap dari daun nipah tidaklah semudah kelihatannya. Diperlukan ketekunan untuk menyusun dan merangkai helai demi helai daun nipah hingga menjadi lembaran atap.
Pertama-tama daun nipah yang masih basah, dianginkan agar tidak kaku. Seorang pembuat atap nipah juga harus pintar memilih daun yang baik, terutama berukuran besar dan lebar. Selain daun dalam pembuatan atap diperlukan batang kayu atau bambu berukuran satu meter atau lebih yang berfungsi sebagai tulang.
Tali plastik rapiah diperlukan sebagai benang untuk merajut dan menyatukan dedaunan. Dahulu, warga menggunakan Rasam (Jangang), sejenis tumbuhan rawa yang dibeberapa daerah dipakai untuk pembuatan kopiah (peci) tradisional. Namun karena tumbuhan jenis ini semakin sulit ditemukan warga menggantinya dengan tali rapiah.
Diperlukan waktu 20-30 menit untuk membuat satu atap nipah ini. “Dalam sehari rata-rata saya bisa membuat 30 sampai 50 buah atap, tergantung pesanan dan bahan baku,” ucap Rusmini, warga Desa Kuala Tambangan lainnya yang sehari-hari berprofesi membuat atap nipah.
Satu atap nipah, dijual seharga Rp400. Biasanya setiap dua pekan, ada pengumpul yang datang ke desa mereka dan memborong atap nipah produksi kaum ibu ini. Atap-atap ini dipasarkan ke berbagai desa lainnya.
Meski tidak sebesar gaji PNS yang menjadi anak emas pemerintah, tetapi penghasilan warga dari membuat atap nipah, dirasakan cukup menutupi kebutuhan hidup mereka, selain harapan penghasilan dari hasil tangkapan ikan.
Karena terbuat dari daun atap nipah hanya mampu bertahan dua sampai tiga tahun saja. Namun, harganya yang murah dan sangat terjangkau bagi warga pesisir, dibandingkan atap modern, atap jenis ini cukup laris.
Tidak semua kaum perempuan di kampong nelayan ini, berprofesi sebagai pembuat atap daun nipah. Sebagian memilih usaha lain untuk bertahan hidup seperti beternak, hingga membuat minuman dan makanan khas dari buah rambai.
Buah rambai merupakan makanan utama, bekantan dan kera yang pohonnya banyak tumbuh di wilayah pesisir. Sayang akibat terkendala modal dan pemasaran, usaha ini tidak berkembang.
Segelintir warga kini justru beralih profesi sebagai petani sawah. “Nasib warga di daerah pesisir ini, sangat kurang perhatian dari pemerintah,” keluh Zainuddin, Kepala Desa (Pambakal) Kuala Tambangan.
Betapa tidak, selama ini ribuan warga kampong menghadapi berbagai permasalahan yang sangat mendasar, seperti minimnya pembangunan infrastruktur berupa jalan, sarana pendidikan serta kesehatan. Demikian juga ketiadaan bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha warga, termasuk peremajaan armada kapal penangkap ikan.
Hal senada juga dikemukakan, Camat Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Heru Yugo yang mengharapkan agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat, lebih memperhatikan pembangunan di kawasan pesisir. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: