Geowisata

Menyulap Lokasi Tambang Menjadi Kawasan Geowisata
JK, (2011):

Menambang intan atau mendulang, merupakan mata pencaharian utama ribuan warga di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pemerintah mencoba menyulap aktifitas tambang rakyat yang sudah berlangsung puluhan tahun tersebut menjadi kawasan Geowisata.
Kondisi permukiman warga di Desa Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka (berjarak 40 Km dari Banjarmasin) sangat sederhana. Melihat kondisi ini, kita dapat membayangkan kehidupan warga yang jauh dari sejahtera. Padahal mayoritas warga Desa Pumpung adalah para penambang intan yang lokasi tambangnya tepat berada di belakang rumah mereka.
Membayangkan intan yang kemilau, prestise dengan harga selangit, tidak seindah kondisi kehidupan para pendulang intan yang setiap hari bermandikan lumpur mencoba peruntungan untuk mendapatkan batu permata nan mendunia tersebut. Belakangan keberadaan intan yang tersembunyi di perut bumi itu, semakin sulit dicari.
Setiap hari sejak matahari terbit sampai terbenam, para pendulang yang berkerja berkelompok-kelompok tersebut harus berjibaku tanah dan lumpur, untuk mendulang intan. Namun intan yang diperoleh dengan kerja keras tersebut, justru dinikmati para pemodal.
“Aktifitas tambang intan di Desa Pumpung ini, sudah berlangsung turun temurun. Tetapi sebagian besar warga di sini, masih hidup dalam kemiskinan,” tutur Syaiful, Lurah Pumpung, Kecamatan Cempaka.
Kawasan pendulangan intan di Kecamatan Cempaka, Kota Banjabaru ini sangat terkenal dan menjadi obyek wisata andalan daerah. Dulu di wilayah ini ditemukan intan sebesar telur ayam atau 166,7 karat yang disebut intan Trisakti pada 1960an.
Masdjudin, Camat Cempaka, menuturkan hasil tambang intan konvensional sebenarnya tidak lagi menjanjikan. “Warga di sini tidak punya pekerjaan lain selain mendulang. Bahkan, sebagian warga sudah beralih profesi menjadi petani atau buruh. Ada juga yang mendulang emas di Bombana Sulawesi,” ujarnya.
Tercatat ada 200 kelompok pendulang yang beroperasi di empat wilayah yaitu Kelurahan Cempaka, Sungai Tiung, Bangkal dan Palam, dengan jumlah pencari intan mencapai seribu orang. Sedangkan jumlah warga yang menggantungkan hidup dari penambangan intan di wilayah ini diperkirakan lebih dari 7.000 Jiwa.
“Sudah sangat jarang pendulang menemukan intan ukuran besar,” tambahnya. Saking sulitnya mendapatkan intan, kini warga lebih mengandalkan mencari pasir dan batu koral yang mudah diperoleh dan sudah pasti ada pembelinya.

Bencana Longsor
Selain mendulang secara tradisional, proses mencari intan juga dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin pompa, kerap disebut tambang rakyat konvensional. Pekerjaan mendulang dimulai dari menembak lobang galian dengan cara menyemprotkan air lewat pipa.
Materi tanah, pasir bercampur bebatuan yang terkikis di dasar lobang, kemudian disedot menggunakan mesin pompa. Selanjutnya dilakukan penyaringan di sebuah anjungan berbentuk menara yang diletakkan di bibir lobang galian. Material hasil saringan itulah, dikumpulkan dalam sebuah kolam dan kemudian dimulailah kegiatan mendulang.
Diperkirakan areal bukaan tambang rakyat ini mencapai 2.000 hektar yang dipenuhi lobang-lobang bekas galian dengan kedalaman rata-rata 20 meter dan lebar ratusan meter. “Selain merusak lingkungan, di lokasi tambang intan ini sering terjadi bencana tanah longsor yang menyebabkan pekerja tambang tewas tertimbun,” ungkap Masdjudin.
Sepanjang 2010, pihak kecamatan mencatat terjadi delapan kali tanah longsor dan 14 orang tewas tertimbun di lobang galian. Sebenarnya perangkat daerah setempat sudah berulang kali menghimbau agar warga tidak melakukan kegiatan penambangan, karena aktifitas tambang konvensional ini tanpa ijin.

Pengembangan Geowisata
Terlepas dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, aktifitas tambang intan ini menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun manca negara. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel mencatat
Dari 25.000 wisatawan asing yang datang setahun, lebih dari separuhnya mengunjungi kawasan wisata pendulangan intan.
“Tambang intan di Cempaka, merupakan obyek wisata andalan Kalsel yang sudah cukup dikenal hingga mancanegara,” kata Mohandas, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel.
Adanya program Kementerian Lingkungan Hidup untuk menata kawasan pendulangan intan Cempaka, menjadi sebuah kawasan wisata pertambangan berwawasan lingkungan (Geowisata) diharapkan mampu mengangkat dunia kepariwisataan di daerah, disamping pulihnya kerusakan lingkungan.
Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, pekan lalu telah menyerahkan master plan, desain pengelolaan kawasan tambang intan menjadi kawasan geowisata kepada Pemkot Banjarbaru. Pengembangan geowisata pertambangan intan di areal seluas 40 hektar tersebut, menelan dana hingga Rp1,6 Miliar.
“Master plan ini hendaknya dijadikan acuan dalam pengelolaan kawasan sekitar areal tambang sehingga kerusakan lingkungan sekitarnya bisa dihilangkan,” tegasnya. Di dalam kawasan geowisata ini, akan dibangun settling pound, kolam ikan, perkantoran, perpustakaan dan galeri.
Juga dibangun gazebo,area konservasi, kawasan rekreasi, termasuk area tambang rakyat. Master plan kawasan geowisata ini, mengadopsi pengembangan kawasan tambang di Phuket Thailand. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: