Kontes Robot

Berprestasi Dengan Barang Loakan
JK, (2011):

Keterbatasan biaya tidak selalu menjadi kendala dalam mengejar prestasi. Dengan barang bekas (loakan) mahasiswa Politeknik Banjarmasin, Kalimantan Selatan mampu menciptakan robot dan menjadi juara Kontes Robot Indonesia.
Potongan pipa-pipa aluminium yang dirakit sederhana itu, dapat bergerak berputar-putar mengitari ruangan. Bahkan potongan aluminium berbentuk capit, mampu mengangkat dan memindahkan benda-benda yang ada di sekitarnya.
Sekelompok anak muda, terlihat tersenyum puas menyaksikan hasil karya mereka. Mereka adalah mahasiswa jurusan teknik elekro Politeknik Banjarmasin. Saat ini mereka sedang mempersiapkan diri mengikuti Kontes Robot Indonesia (KRI), sebuah even tahunan bergengsi, lomba robot antar perguruan tinggi se Indonesia.
“Sudah lima bulan kami mempersiapkan diri untuk tampil dalam kontes robot Indonesia di Jogyakarta pada Mei mendatang,” tutur Hendrik, mahasiswa semester VI Poltek Banjarmasin. Ada tiga buah robot sederhana yang dibuat untuk mengikuti kejuaraan KRI tahun ini.
Ketiga robot ini bergerak mengandalkan alat sensor, motor penggerak (dynamo) dan panel komputer yang berisi program, sebagai otak robot. “Cara kerja robot ini sederhana dan kami sebut robot sederhana otomatis,” ujarnya.
Disebut otomatis, karena robot sudah diprogram terlebih dulu disesuaikan dengan kondisi lapangan perlombaan atau tema. Robot ini akan berusaha mengambil point sebanyak mungkin dalam waktu secepat mungkin. Robot manual ialah robot yang dikendalikan oleh seorang operator atau disebut robot cerdas.
Robot-robot ini disebut Loy Krathong, diambil dari bahasa Thailand dengan arti robot yang bisa melakukan upacara larungan (sesajen di air). Dan tim Poltek Banjarmasin diberi nama Tim Samudera diambil dari kata Pangeran Samudera, Raja Banjar.
Hendrik dan teman-temannya merasa yakin mampu meraih prestasi dalam kejuaraan KRI, walau robot-robot yang dibuat belum sempurna dan perlu perbaikan di sana sini. Hal ini bercermin dari berbagai keberhasilan tim robot Poltek Banjarmasin dalam kejuaraan tahunan tersebut.
Pada 2010, Poltek Banjarmasin dengan robot bernama In the Moesty mampu menyabet juara dua kejuaraan KRI untuk regional III meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta dan Kalimantan, dibawah Universitas Gajah Mada, Jogyakarta. Kontes Robot Indonesia, adalah sebuah kontes Robotika antar Perguruan Tinggi, dimana pemenangnya akan mewakili Indonesia dalam ABU ( Asia-Pacific Broadcasting Union) Robocon.

Banyak Kendala
Setiap tahun, kontes robot antar perguruan tinggi se Indonesia ini berlangsung tiga kali yaitu Kontes Robot Indonesia, Kontes Robot Cerdas Indonesia dan Kontes Robot Seni Indonesia. Namun akibat banyaknya kendala seperti biaya dan ketatnya persaingan, mengharuskan Poltek Banjarmasin hanya mengikuti salah satu kejuaraan saja.
Tahun-tahun sebelumnya, selain robot otomatis, tim robot Politeknik Banjarmasin juga ikut serta dalam kontes robot cerdas Indonesia.
Agus, dosen pembimbing sekaligus pimpinan tim robot Politeknik Banjarmasin, mengakui untuk mengikuti kejuaraan KRI diperlukan biaya puluhan juta rupiah. Demikian juga dengan berbagai komponen pembuatan robot yang sulit diperoleh di Kalimantan Selatan.
Sebagian besar komponen dalam pembuatan robot merupakan barang bekas. Roda robot diambil dari roda kereta bayi, motor (dynamo) dan gear dari mesin photo copy, as atau sumbu penggerak robot, cabutan mesin printer, serta sejumlah komponen lain yang dibeli dari pasar loak.
Dan Pasar Genteng, Surabaya, menjadi pilihan untuk mendapatkan komponen untuk membuat robot. Bahkan tak jarang beberapa komponen seperti alat sensor harus didatangkan dari luar negeri. “Biasanya kami titip beli, dari para dosen yang kebetulan tugas belajar ke luar negeri,” katanya.
Sulitnya mendapatkan komponen pembuatan robot di daerah ini, diakui para mahasiswa dan dosen sangat mempengaruhi persiapan dan proses pengerjaan robot mereka. Kondisi ini dirasakan berbeda dengan persiapan tim robot dari perguruan tinggi lain, terutama di Pulau Jawa.
Meski dilingkupi banyak kendala, namun tidak mematikan semangat para mahasiswa Politeknik Banjarmasin untuk berprestasi. “Keterbatasan membuat kita bisa lebih berfikir kreatif,” tutur Afriyal Muttaqien, lulusan Politeknik Banjarmasin yang juga sempat memenangkan kejuaraan Kontes Robot Cerdas Indonesia untuk kategori best design pada 2088 lalu di Jogyakarta. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: