Krisis Air Bersih

Ancaman Ketersediaan Air di Wilayah “Seribu” Sungai
JK, (2011):

Kalimantan Selatan yang dikelilingi ratusan sungai besar dan kecil, justru menghadapi masalah dalam penyediaan air bersih bagi 3,6 juta warganya. Kualitas air sungai yang menjadi sumber air baku utama, adalah salah satu terburuk di tanah air.
Lelaki paruh baya itu, menghentikan laju becaknya dan memilih berteduh, menghindari sengatan sinar matahari di bawah pepohonan palem, tepat di depan kantor perusahaan daerah air minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin. Siang itu, cuaca sangat panas, sehingga keringat begitu deras keluar dari tubuh, Rhokim,42.
Sesekali ia mengusap wajahnya, dengan handuk kecil berwarna putih yang sudah lusuh. Tak lama berselang ia pun berjalan, menuju sebuah keran air, tak jauh dari tempat ia berteduh untuk membasuh muka dan meminum air langsung dari kran tersebut.
Tak ketinggalan, air jernih dari kran itupun ia isikan ke dalam botol air mineral sebagai bekal dalam perjalan mencari penumpang berkeliling kota. Beberapa orang pejalan kaki dan tukang ojek pun, menyempatkan diri singgah untuk melepas dahaga.
“Air yang kita produksi, sudah mencapai standar air minum dan kita telah menyediakan layanan air minum langsung dari kran di beberapa lokasi,” tutur Goklas Sinaga, Manager Produksi PDAM Bandarmasih. Diakuinya, penyediaan air bersih yang merupakan kebutuhan vital masyarakat ini, menghadapi banyak kendala.
Selama ini pasokan air bersih kepada 120.000 pelanggan yang tersebar di Kota Banjarmasin, kota berjuluk seribu sungai dan sebagian Kabupaten Banjar ini, mengandalkan air baku dari sungai Martapura, anak sungai barito dan saluran irigasi dengan hulu ada di waduk dan sungai Riam Kanan, di kaki pegunungan Meratus.
Sayangnya, kerusakan kawasan hutan akibat penebangan, alih fungsi hutan untuk berbagai kepentingan, serta pencemaran sungai dari aktifitas pertambangan emas dan batubara, membuat kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat menurun. Padahal sebagian besar warga, terutama yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai, menggunakan air sungai untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, dalam beberapa waktu terakhir diketahui sungai-sungai dan sumber air baku PDAM terindikasi tercemar logam berat berupa Arsen (AS), Mercury dan besi (Fe) jauh diatas batas normal.
Zat pencemar lainnya adalah ecolli, kepekatan (TSS), tingginya kadar oksigen hingga kandungan lumpur mencapai 2,5 persen dalam setiap kubik air. Terlebih pada saat kemarau terjadi pendangkalan dan interusi air laut yang menyebabkan air sungai tidak dapat dimanfaatkan.
Belakangan sumber air baku dari irigasi yang kualitas airnya sedikit lebih baik dari sungai, debit airnya berkurang akibat terjadinya pengalihan aliran air ke kolam dan tambak ikan warga di bagian hulu. “Semua ini menjadi kendala utama dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat,” tambah, Goklas.

Proses panjang
Menyulap air baku yang tercemar menjadi air bersih yang layak dikonsumsi masyarakat memerlukan tenaga ekstra. Pengolahan air memerlukan proses panjang dan menimbulkan ongkos produksi tinggi.
Air baku yang berasal dari sungai harus ditampung dan menjalani pengolahan tahap awal pada intake, baru kemudian disalurkan melalui jaringan perpipaan ke instalasi pengolahan air (IPA). Di sini, 1.500 liter air perdetik diolah melalui serangkaian proses mulai dari mengaduk (mixing) air baku dengan bahan kimia berupa disinvektan serta aluminium sulfat.
Air kemudian dialirkan ke tendon-tandon raksasa untuk menjalani proses pengendapan (slow mixing), dan setelah melalui tahapan filternisasi berjam-jama baru dialirkan ke penampungan (reservoar). Pada tahap ini, air sudah selesai diproduksi dan siap dipasokan ke rumah-rumah warga.
“Kualitas air baku yang buruk membuat biaya produksi, berupa penyediaan bahan kimia sangat besar. Bahkan dari waktu ke waktu terus bertambah, termasuk penggunaan energy listrik,” beber Muslih, Direktur Utama PDAM Bandarmasih.
Dengan tingkat pertumbuhan konsumen sebanyak 7.000 sambungan pertahun, mengharuskan PDAM Bandarmasih meningkatkan kapasitas layanannya. Termasuk pelayanan ke 2.000 keluarga di daerah pinggiran seperti Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.
Meski menjadi satu-satunya PDAM di kalsel dengan cakupan layanan hingga 97 persen dan dinobatkan sebagai salah satu PDAM terbaik di tanah air, namun perusahaan air minum plat merah ini terbelit hutang dari pemerintah pusat mencapai hampir Rp 120 Miliar. Hutang ini ditargetkan baru lunas pada 2018 mendatang. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: