Pena Hijau

Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia
Berburu Berita Menyelamatkan Lingkungan
JK, (2011):

Sambil menyelam minum air. Pepatah ini mungkin cocok untuk menggambarkan kegiatan puluhan wartawan di Kalimantan Selatan yang tergabung dalam wadah Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia.
Selain disibukkan dengan rutinitas berburu berita, mereka menyempatkan diri menggelar berbagai kegiatan sosial dan penyelamatan lingkungan. Walau belum genap satu tahun, organisasi yang memiliki anggota 40 wartawan media cetak dan elektronik, baik lokal maupun nasional ini telah menggelar belasan kegiatan social dan lingkungan.
Artinya dalam setiap bulan, selalu ada kegiatan yang mereka lakukan. “Iya, sambil menyelam minum air. Kegiatan yang kami lakukan, merupakan obyek berita. Isu lingkungan dan sosial adalah sesuatu yang seksi bagi jurnalis,” tutur Khaidir Rahman, salah seorang pendiri Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia yang menjabat wakil ketua dalam organisasi tersebut.
Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia, terbentuk sejak 5 Juni 2010 lalu, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup. Awalnya hanya beberapa orang wartawan yang bergabung, melakukan kegiatan lingkungan, sembari hunting berita ke pelosok-pelosok. Kini, keberadaan komunitas ini sudah cukup dikenal di Kalsel, dengan jumlah keanggotaan mencapai puluhan orang jurnalis.
Bahkan komunitas wartawan peduli lingkungan ini, berangan-angan dapat menjadi sebuah organisasi yang besar, diakui di tingkat nasional dan internasional. Jalan kearah itu, mulai dirintis. Sejauh ini sejumlah wartawan dari provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, berencana membentuk komunitas serupa.
Tidak sampai di situ, komunitas ini mempunyai program pemberdayaan masyarakat tepi sungai, melalui kampanye pemanfaatan sampah sungai (enceng gondok) untuk dijadikan pupuk organic.

Keprihatinan Kondisi Kerusakan Lingkungan
Terus merosotnya kualitas lingkungan di Kalsel dan ancaman pemanasan global, melatar belakangi terbentuknya kelompok wartawan peduli lingkungan ini.
Pernyataan yang dilontarkan Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, ketika berkunjung ke Kalsel yang mengatakan kemajuan penambahan luas tutupan hutan di tanah air masih lamban. Di sisi lain, kemampuan pemerintah untuk melakukan reboisasi hanya sekitar 500.000 hektar pertahun.
Kalsel dan Kalimantan, merupakan salah satu daerah terparah deforestasi dan kerusakan lingkungan. Berdasarkan catatan Kementerian LH, saat ini tutupan hutan DAS Barito di Kalsel sangat memprihatinkan hanya 4,19 persen dan Kalteng 38,77 persen.
Tidak hanya itu, dari luas pencadangan hutan kalsel seluas 1,8 Juta hektar, diperkirakan areal tutupan hutannya tersisa 824.584 hektar atau hanya 22 persen dari luas wilayah 3,7 juta hektar. Demikian juga dengan gencarnya eksploitasi sumber daya alam, pertambangan batubara berbanding terbalik dengan kemajuan reklamasi 591 perusahaan pertambangan yang beroperasi di provinsi penghasil batubara nomor dua terbesar di Indonesia ini.
Kenyataan bahwa indeks kualitas lingkungan hidup Kalsel berada di urutan paling bawah di Indonesia bersama Kalteng. Pencemaran sungai yang menjadi penyebab menimbulkan keprihatinan tersendiri dari para jurnalis. Tak terkecuali isu perubahan iklim dan pemanasan global.
Di Kalsel, kerusakan lingkungan yang luar biasa telah berimbas pada semakin meningkatnya intensitas bencana seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan saat kemarau. Korban jiwa berjatuhan, puluhan ribu warga harus mengungsi, ribuan hektar areal pertanian dan infrastruktur mengalami kerusakan, dengan kerugian sangat besar.
Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, menyatakan tingginya intensitas dan besarnya kerugian bencana setiap tahunnya, telah menggerogoti 20 persen APBD. Artinya, seperlima dana APBD pertahunnya, harus digunakan untuk merecovery kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana di berbagai bidang.

Wartawan Tidak Sekadar Menulis
Profesi wartawan tidak hanya sekadar menulis dan memotret. Tapi lebih luas dari itu, sesuai tugas dan fungsi pers terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.
“Kami ingin lebih memaksimalkan peran dan fungsi wartawan, baik sebagai professional maupun posisinya sebagai masyarakat,” ucap Eny Sulistyowati, reporter Smart FM yang menduduki jabatan Manager Kampanye Lingkungan. Artinya wartawan tidak hanya dituntut lebih peka terhadap isu-isu lingkungan di sekitar untuk dijadikan karya jurnalistik, tetapi bagaimana wartawan dapat turun langsung, ambil bagian dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Meski belum genap satu tahun, telah banyak kegiatan liputan lapangan yang dibalut aksi sosial dan penyelamatan lingkungan, mereka lakukan. Diantaranya, penyaluran bantuan sembako bagi warga korban bencana dan warga transmigran yang gagal.
Penebaran tong sampah, dilokasi wisata dan Waduk Riam Kanan, penebaran benih ikan di Sungai Martapura, juga berbagai kegiatan penghijauan, penanaman pohon, mangrove hingga pengembalian anggrek alam ke habitatnya di kawasan pegunungan Meratus.
“Kegiatan yang kami lakukan, hanyalah kegiatan kecil dan lebih bersifat pemancing bagi pemerintah daerah dan masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” tambahnya. Hal ini lebih dikarenakan, masalah keterbasan dana yang selama ini mengandalkan dana berasal dari kumpulan sesama wartawan dan bantuan orang-orang yang peduli lingkungan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: