Pendidikan di Pedalaman

Mandiri Pendidikan di Pedalaman Rawa
JK, (2011):

Keterisolasian menjadi kendala pembangunan sarana pendidikan di daerah pedalaman. Warga pedalaman rawa Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan menjawabnya dengan membangun pendidikan secara mandiri.
Suara gaduh belasan bocah yang bermain tak membuat kemerduan lantunan ayat-ayat suci Al Quran terdengar dari bilik kayu sebuah sekolah madrasah swasta di Desa Sapala, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara menjadi hilang. Pagi itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berada di wilayah pedalaman rawa tersebut, berlangsung seperti biasanya.
Sekelompok anak dengan pakaian muslim, berderet rapi duduk di atas bangku panjang sambil bersama-sama membaca ayat suci Alquran. Walau usia mereka masih belia, tetapi mereka sudah cukup fasih melafalkannya.
Di depan kelas, berdiri seorang ibu guru muda tengah menyimak bacaan anak didiknya. Di ruang sebelah, suasana agak sedikit gaduh, karena para murid seusia taman kanak-kanak ini sedang berlajar membaca. Seperti anak-anak umumnya, sebagian dari mereka kurang begitu memperhatikan pelajaran yang diajarkan guru dan justru asyik bersenda gurau.
“Sarana pendidikan disini sebenarnya kurang memadai, tetapi minat warga untuk bersekolah sangat tinggi,” ungkap Imron,35 salah seorang dari tiga orang guru di Madrasah Ibnul Amin. Madrasah Ibnul Amin berdiri sejak dua puluh tahun lalu, atas prakarsa warga sendiri yang memandang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.
Warga setempat terpaksa membangun sekolah secara swadaya, karena pemerintah daerah, akibat keterbatasan dana tak kunjung membangun fasilitas pendidikan di wilayah mereka. Sekolah-sekolah yang dibangun pemerintah, berada jauh dari lokasi permukiman warga.
Warga desa Sapala, mayoritas adalah nelayan rawa dan sebagian lagi peternak kerbau rawa. Dari profesi inilah warga mengumpulkan uang sedikit demi sedikit membangun sekolah yang sangat sederhana, termasuk membayar honor tenaga pengajarnya.
Sementara biaya sekolah digratiskan. Baru dalam tahun-tahun terakhir, pihak sekolah mendapatkan kucuran dana bantuan pendidikan dari perusahaan tambang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Dana bantuan tersebut, digunakan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang sudah mulai rusak.
Desa Sapala adalah satu dari delapan desa di Kecamatan Paminggir merupakan daerah paling ujung (pinggir) dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, berbatasan langsung dengan Kabupaten Barito Kuala dan Jenamas, Barito Selatan, Kalimantan Tengah yang hanya dibatasi sungai Barito. Dari Danau Panggang, desa-desa di Kecamatan Paminggir dapat ditempuh dalam waktu 1,5 Jam.
Sepanjang perjalanan, kita dapat melihat kondisi kehidupan warga yang bermukim di atas rawa-rawa, dengan luas ratusan kilometre persegi. Seluas mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan rawa. Perahu menjadi alat transportasi utama warga disini.
Mandiri pendidikan di pedalaman rawa ini juga dilakukan warga di sejumlah desa di Kecamatan Paminggir dan Kecamatan Danau Panggang. Potret serupa juga tergambar pada Madrasah Ibtidaiyah Tsamaratul Janiyah, Desa Pandamaan Kecamatan Danau Panggang.
Sejak didirikan 57 tahun lalu, operasional sekolah hanya mengandalkan dari sumbangan (bapintaan)dari masyarakat sekitar. “Sekolah ini, dibangun dengan keringat warga. Meski dibelit berbagai keterbatasan tetapi sekolah ini dapat berprestasi, bahkan sudah banyak lulusannya menjadi orang penting,” ucap M Zaini HB, Pengelola Madrasah dengan bangga.
Biasanya warga menggalang dana melalui kotak amal dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian dan majelis taklim. “Banyak warga di sini hidup dalam kemiskinan, sehingga penyelenggaraan pendidikan diberikan secara gratis, termasuk berbagai keperluan siswa seperti seragam, tas dan buku,” tambahnya.
Sadar bahwwa penggalangan dana pendidikan tidak bisa selalu mengandalkan sumbangan, kini pihak sekolah melakukan terobosan dengan membuat usaha penggilingan padi. “Usaha yang kami lakukan adalah membeli gabah dari berbagai daerah tetangga, digiling dan kemudian hasilnya berupa beras dijual. Keuntungan usaha inilah yang kami gunakan untuk menutupi operasional sekolah,” tuturnya.
Menurut data Dinas Pendidikan Hulu Sungai Utara, tercatat ada delapan buah sekolah islam setingkat taman kanak-kanak dan 15 madrasah (SD) swasta, yang dibangun dan dikelola dengan sebagian besarnya dananya dari hasil sumbangan masyarakat setempat. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: