Tahura

Tahura, Secuil Surga di Kaki Meratus
JK, (2011):

Taman Hutan Raya Sultan Adam yang membentang seluas 120.000 hektar di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut, Kalimantan Selatan, merupakan secuil surga warisan Belanda di kaki pegunungan Meratus.

Lantunan lagu Perahu Retak yang diciptakan seniman Almarhum Franky Sahilatua terhenti, bersamaan dengan berhentinya bus pariwisata di lokasi wisata alam Mandiangin, masuk wilayah Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Lagu bertemakan lingkungan tersebut, sudah berulang kali diputar, sejak keberangkatan rombongan Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalsel dari Banjarmasin.
Hawa perbukitan berbalut hutan pinus yang sejuk, membuat rasa penat selama dalam perjalanan kurang lebih dua jam, dengan kondisi jalan banyak rusak langsung terobati. Sebelum melakukan kegiatan inti, penebaran anggrek alam di lokasi wisata, rombongan pecinta anggrek dan anggota Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia (Wartawan Lingkungan) ini, memilih melihat-lihat pemandangan sekitar.
“Serasa berada di surga. Semua beban terasa hilang,” tutur Aida Muslimah, Ketua PAI Kalsel yang memimpin rombongan. Keindahan alam di Tahura Sultan Adam ini memang begitu indah, meski di sana-sini terlihat jelas kerusakan alam akibat berbagai aktifitas seperti penambangan batu dan pasir.
Setelah beberapa saat melepas penat, rombongan ini melaksanakan kegiatan intinya penanaman anggrek alam di batang-batang pohon sekitar lokasi wisata. Tidak kurang dari 500 anggrek berbagai jenis disebar.
“Ini merupakan kegiatan rutin kita, untuk menyelamatkan anggrek yang kian terancam punah di alam,” ucap perempuan yang selalu mengenakan kerudung ini. Untuk menanam anggrek, tak jarang harus dilakukan dengan memanjat pepohonan yang tinggi agar anggrek tidak hilang dicuri. Maklum harga anggrek yang lumayan mahal, kerap menjadi incaran orang-orang tidak bertanggung jawab untuk alasan ekonomi.

Wisata alam andalan
Tahura (Taman Hutan Raya) Sultan Adam merupakan salah satu obyek wisata alam andalan di Kalsel, selain Loksado yang sudah cukup terkenal. Selain Mandiangin, sebuah kawasan perbukitan dengan panorama alam dan air terjun nan indah, ada banyak obyek wisata alam lain yang mempesona.

“Ada banyak obyek wisata di kawasan Tahura,” tutur Mohandas, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel. Setiap pekannya diperkirakan jumlah pengunjung Tahura mencapai ribuan orang, baik wisatwan lokal hingga luar daerah.
Sesuai fungsinya, Tahura yang diresmikan pada jaman Presiden Soeharto ini, merupakan kawasan konservasi dan hutan pendidikan, serta penelitian. Tahura Sultan Adam memiliki luas mencapai 120.000 hektar yang membelah dua wilayah Kabupaten Banjar dan Tanah Laut.
Posisi kawasan ini, berada di kaki pegunungan Meratus dan menjadi area penyangga ekosistem di Kalsel. Tahura menjadi alternatif tempat wisata yang murah. Dengan tiket masuk sebesar Rp2.500 per orang, pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan sejuknya udara pegunungan.
Beberapa obyek wisata di kawasan Tahura yang sangat potensial, berupa waduk Riam Kanan. Waduk seluas 8.000 Ha ini juga berfungsi memasok bahan baku air bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir PM Noor. Ada juga Pulau Pinus yang berada di tengah waduk.
Disebut Pulau Pinus, karena pulau seluas 3 Ha ini, dipenuhi tanaman pinus. Selain Pulau Pinus, ada juga Pulau Bukit Batas yang juga berada di tengah waduk.
Obyek wisata yang banyak dikunjungi warga adalah wisata air terjun. Sedikitnya ada enam air terjun, seperti air terjun Surian, Batu Kumbang, Mandin Sawa, Mandiangin, Bagugur dan Lembah Kahung. Namun beberapa air terjun berada cukup jauh ke bagian kaki pegunungan Meratus dan untuk menjangkaunya memerlukan waktu berjam-jam.
Tidak habis sampai disitu, kawasan Tahura juga memiliki surga lain, seperti kolam renang dan benteng pertahanan, peninggalan Belanda. Serta lokasi bumi perkemahan Awang Bangkal seluas enam hektar.

Kawasan hutan kian terancam
Dari waktu ke waktu, kawasan hutan Tahura kian terancam, akibat masih maraknya penebangan liar. Dinas Kehutanan Kalsel mencatat dari 120.000 hektar total luas kawasan hutan, 40 persennya dalam kondisi rusak.
“Kerusakan kawasan hutan di Tahura sangat memprihatinkan. Beberapa kali pemerintah melakukan upaya penghijauan di sana, tetapi tingkat keberhasilannya kurang maksimal,” ucap Akhmad Ridani, Kepala UPT Tahura.
Penebangan liar, tambang emas dan batu, kebakaran hingga perluasan areal permukiman dan perkebunan warga menjadi masalah tersendiri. Ada belasan desa yang dihuni puluhan ribu penduduk, berada tepat di tengah-tengah Tahura. Padahal Tahura adalah kawasan konservasi.
Di sisi lain, kawasan hutan yang memiliki kekayaan alam, juga flora seperti anggrek dan fauna seperti kupu-kupu, burung, beruang madu, bekantan, uwa-uwa hingga kijang emas ini, hanya dijaga delapan orang petugas polisi hutan. Karena itu perlu upaya semua pihak untuk tetap menjaga kawasan Tahura ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: